Bacaini.ID, KEDIRI — Diet karnivora jadi tren yang sangat viral di media sosial internasional dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga awal tahun 2026, tren ini terus bergerak mengalahkan promosi go vegan! kaum vegetarian di media sosial. Dua jenis diet yang saling bertolak belakang.
Fenomena diet karnivora didorong oleh pengaruh kuat para ‘meatfluencers’ yang mempromosikan gaya hidup makan daging saja di platform seperti TikTok dan Instagram.
Diet ini semakin populer, terutama di kalangan mereka yang ingin menurunkan berat badan atau mengatasi masalah kesehatan tertentu.
Baca Juga: Ingin Diet yang Tak Bikin Bosan? Ini Makanan Sehat Pengganti Nasi
Mengenal Diet Karnivora, Hanya Makanan Hewani Anti Nabati
Diet karnivora oleh para ahli digolongkan dalam jenis diet ekstrem karena hanya mengandalkan produk hewani seperti daging merah, ayam, ikan, telur, dan lemak hewani. Dan yang sering dipromosikan oleh ‘meatfluencers’ adalah makan satu blok butter tiap hari.
Sementara makanan nabati seperti sayur, buah, dan biji-bijian sepenuhnya dihindari. Diet karnivora juga sepenuhnya menolak karbohidrat.
Pendukung diet karnivora meyakini bahwa tubuh manusia dapat berfungsi optimal hanya dengan asupan protein dan lemak hewani.
Mereka beranggapan bahwa banyak masalah kesehatan modern justru dipicu oleh konsumsi karbohidrat berlebih dan makanan olahan.
Namun di sisi lain, diet ini juga menuai kritik dari kalangan medis dan ahli gizi, yang berpendapat diet ini tidak seimbang.
Tujuannya dari diet karnivora adalah membuat tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama, mirip dengan prinsip diet keto, namun jauh lebih ketat.
Baca Juga: Lagi Tren Climate Diet Gaya Hidup Ramah Lingkungan, Apa Itu?
Klaim Manfaat Diet Karnivora: Penurunan Berat Badan Hingga Lepas Obat Diabetes
Sebagian orang yang menjalani diet karnivora melaporkan penurunan berat badan yang cepat, nafsu makan lebih terkontrol, serta berkurangnya peradangan atau keluhan pencernaan.
Asupan protein tinggi juga dianggap membantu menjaga massa otot dan membuat tubuh kenyang lebih lama.
Pada kasus tertentu, diet ini dilaporkan membantu mengurangi gejala penyakit autoimun atau gangguan metabolik. Namun, sebagian besar klaim tersebut masih bersifat pengalaman pribadi dan belum didukung bukti ilmiah jangka panjang yang kuat.
Studi oleh National Institutes of Health berupa survei observasional terhadap orang yang menjalani diet karnivora, menemukan hasil yang dilaporkan oleh peserta. Berikut di antaranya.
• Penurunan HbA1c atau penurunan kadar gula darah
• Gula darah lebih stabil
• Banyak penderita diabetes tipe 2 mengurangi atau menghentikan obat
• Berat badan turun
• Trigliserida menurun atau penurunan lemak dalam darah
• HDL (kolesterol baik) naik
Namun yang perlu dicatat adalah studi ini bukanlah uji klinis. Hasil yang dilaporkan adalah klaim dari orang-orang yang melakukan diet karnivora selama minimal 6 bulan.
Data yang didapatkan berbasis laporan diri (self-reported), tidak ada kontrol, tidak ada pembanding, dan tidak ada data keamanan jangka panjang.
Meskipun studi ini seringkali dijadikan rujukan promosi diet karnivora untuk mengatasi diabetes, hasilnya tidak bisa digeneralisasi ke semua penderita diabetes.
Beberapa ahli berpendapat diet karnivora justru berisiko untuk orang dengan diabetes tipe 1, penyakit ginjal, riwayat jantung, gangguan makan dan orang-orang yang menganggap diet karnivora sebagai gaya hidup permanen.
Risiko dan Kekhawatiran Kesehatan
Meskipun diet karnivora dilaporkan juga memiliki manfaat positif seperti penurunan berat badan, stabilitas gula darah, kesehatan mental dan energi dan mengurangi gejala autoimun, ahli gizi mengingatkan bahwa diet ini berisiko menyebabkan kekurangan serat, vitamin, dan mineral penting yang biasanya diperoleh dari sayur dan buah.
Dalam jangka panjang, pola makan yang hanya mengonsumsi bahan makan hewani, dapat memengaruhi kesehatan pencernaan, mikrobiota usus, hingga meningkatkan risiko penyakit jantung jika tidak diawasi dengan baik.
Konsumsi lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi juga menjadi perhatian, terutama bagi orang dengan riwayat tekanan darah tinggi atau gangguan kolesterol.
Selain itu, diet yang terlalu restriktif, membatasi secara ketat, berpotensi sulit dijalani dalam jangka panjang dan bisa memicu pola makan tidak seimbang.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





