Bacaini.ID, JEMBER – Suasana di depan Pendopo Wahyawibawagraha Kabupaten Jember mendadak ramai pada Selasa (22/9/2026) siang. Ratusan pedagang yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Pasar Tanjung bersama elemen mahasiswa mendatangi gedung pemerintah tersebut untuk menagih janji penataan dan pengembalian fungsi pasar.
Aksi yang mulanya berlangsung di luar gedung ini langsung direspons oleh Bupati Jember, Muhammad Fawait. Ia keluar menemui massa aksi yang memadati area depan pendopo. Agar suasana lebih tenang dan pembahasan berjalan efektif, Gus Fawait lantas mengarahkan para pedagang dan mahasiswa masuk ke dalam aula pendopo untuk duduk bersama dan berdialog secara terbuka.
Di dalam aula, para pedagang yang duduk lesehan langsung menyuarakan keluh kesah mereka. Salah satunya datang dari Zaenal (51), pedagang yang sudah 15 tahun berjualan ikan laut di Pasar Tanjung. Ia menyoroti semrawutnya penataan pedagang di area bawah yang dinilai merugikan pedagang lama.
“Kembalikan fungsi Pasar Tanjung. Masalah penataan pedagang di bawah ini harus jelas. Logikanya, area aspal kalau dijual dua hari saja bisa laku, padahal itu bukan tempat jualan,” kata Zaenal.
Zaenal juga mengingatkan janji yang pernah diucapkan Gus Fawait saat menyambangi Pasar Tanjung beberapa waktu lalu.
Sebut Pasar Tradisional Benteng Ekonomi Wong Cilik
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Gus Fawait menegaskan bahwa pembenahan Pasar Tanjung menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah daerah karena pasar tradisional merupakan urat nadi perekonomian rakyat kecil yang harus dilindungi.
“Pasar tradisional itu benteng ekonomi warga, tempat wong cilik mengadu nasib. Apa yang menjadi harapan pedagang dan teman-teman sekalian, itu juga yang menjadi keinginan saya,” ungkap Gus Fawait.
Ia menjelaskan bahwa dirinya sudah empat kali turun ke lapangan untuk mengecek langsung kondisi Pasar Tanjung setelah mendapat masukan dari kalangan mahasiswa. Gus Fawait juga meluruskan alasan dirinya yang tidak bisa hadir pada demonstrasi sebelumnya karena sedang melakukan inspeksi mendadak terkait pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah.
“Saya sangat mengapresiasi kehadiran teman-teman mahasiswa. Kemarin saya tidak ada di kantor Pemda karena harus memantau langsung layanan di rumah sakit. Kalau posisi saya sedang di tempat, tentu tanpa prosedur yang berbelit pun saya akan langsung keluar menemui kalian,” jelasnya.
Akomodasi Usulan Rekayasa Lalu Lintas dan Satgas Gabungan
Dalam dialog yang berlangsung interaktif tersebut, Gus Fawait menyambut baik sejumlah usulan konkret yang diajukan mahasiswa dan pedagang, mulai dari penataan arus lalu lintas hingga pembentukan Satuan Tugas (Satgas) khusus.
Mengenai kemacetan di Jalan Samanhudi, Pemkab Jember berencana menerapkan uji coba penataan jalur mulai pekan depan sesuai dengan masukan yang diterima.
“Usulan mengenai skenario lalu lintas di Jalan Samanhudi sudah kami pelajari dari aspirasi yang masuk. Hari Senin besok kita mulai uji coba penerapannya,” tutur Gus Fawait.
Selain itu, ia juga menyetujui pembentukan Satgas gabungan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat untuk mengawal proses pembenahan pasar secara menyeluruh.
“Gagasan pembentukan Satgas ini sangat tepat agar pengawasan tidak cuma instan atau dari satu pihak saja. Satgas ini nantinya diisi oleh UPTD, perwakilan pedagang, warga lokal, hingga pengurus RT dan RW. Ini langsung saya terima dan segera dibentuk,” tegasnya.
Tak hanya itu, penataan trotoar dan pembenahan area pasar juga akan disosialisasikan terlebih dahulu kepada para pedagang agar tidak ada pihak yang dirugikan. Gus Fawait pun mengajak mahasiswa untuk terus mengawal implementasi kebijakan ini lewat ruang audiensi lanjutan.
“Saya bangga dengan pemikiran kritis teman-teman mahasiswa. Semua gagasannya, mulai dari rekayasa lalu lintas, Satgas, sampai penataan trotoar kami akomodasi. Mari kawal bersama prosesnya di lapangan,” pungkas Gus Fawait.(meg/adv)




