Bacaini.ID, JEMBER- Kabar menggembirakan datang dari arena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Jawa Timur 2025 di Kabupaten Jember. Dua peserta asal Jember berhasil menembus babak final cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIA), ajang yang menantang kemampuan berpikir kritis dan literasi Qur’ani.
Mereka adalah Ahmad Qoys Jamalallahi dan Shinta Nuriyah Mahbubiyah Royani, dua generasi muda Qur’ani yang mewakili Kabupaten Jember di cabang lomba berbasis riset dan penulisan ilmiah ini.
Setelah melewati babak penyisihan dan semifinal yang ketat, keduanya dinyatakan lolos ke babak final yang dijadwalkan digelar Jumat (19/9/2025).
“Alhamdulillah, aku masuk babak final. Besok kami akan presentasi di depan dewan juri. Mohon doanya semoga diberi kelancaran, kemudahan, dan hasil terbaik,” ujar Qoys, Kamis (18/9/2025) sore.
Qoys adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN KHAS Jember. Ia mengaku bahwa mengikuti MKTIA bukan hal yang mudah. Di cabang ini, peserta tak hanya dituntut memahami kandungan Al-Qur’an, tetapi juga harus mampu menuangkannya dalam bentuk karya ilmiah yang logis, kritis, dan kontekstual.
“Kalau tilawah fokusnya di bacaan dan tajwid, MKTIA ini mengasah kemampuan berpikir. Kita menulis karya ilmiah sesuai tema yang ditentukan, lalu mempresentasikannya di depan juri,” jelasnya.
Selama babak penyisihan, peserta diberi waktu sembilan jam untuk menulis karya ilmiah berdasarkan tema besar yang ditetapkan LPTQ Jatim.
Tahun ini, tema yang diusung adalah ‘Al-Qur’an dan Defisit Moral Bangsa’. Para peserta diminta menganalisis persoalan moralitas bangsa dari perspektif Qur’ani, lalu menawarkan solusi berbasis nilai-nilai Islam.
Qoys menuturkan, tantangan utama justru muncul saat babak final. Di tahap ini, peserta harus mempertanggungjawabkan gagasannya di hadapan dewan hakim melalui sesi presentasi dan tanya jawab.
“Waktunya 20 menit. Lima menit presentasi, lima belas menit sisanya menjawab pertanyaan. Harus benar-benar paham isi tulisan kita,” ungkapnya.
Bagi Qoys, kesempatan ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga bentuk pengabdian kepada ilmu dan Al-Qur’an. Ia ingin menunjukkan bahwa generasi Qur’ani juga bisa berpikir kritis terhadap isu-isu bangsa. “Melalui tulisan, kita bisa menyuarakan pesan-pesan Al-Qur’an agar lebih relevan dengan kondisi zaman,” katanya.
Selain Qoys, Shinta Nuriyah juga tampil gemilang di babak penyisihan. Keduanya menjadi harapan Jember untuk menambah raihan prestasi di MTQ tahun ini. Tak hanya itu, kafilah Jember juga mencatatkan kemajuan di cabang lain, seperti Fahm Al-Qur’an, yang berhasil lolos ke semifinal dengan skor 1.600 poin.
Keberhasilan dua anak muda ini menjadi bukti bahwa semangat Qur’ani tak hanya tumbuh di panggung tilawah, tapi juga di ruang-ruang literasi dan pemikiran. Mereka adalah generasi yang mampu menjembatani nilai spiritual dan intelektual, menghadirkan wajah Islam yang cerdas dan solutif.
Dengan langkah pasti menuju babak final, Qoys dan Shinta membawa optimisme baru bagi Jember. Bahwa di balik lantunan ayat suci, ada kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu menerangi jalan bangsa.
Penulis : Mega





