Bacaini.ID, KEDIRI — Satu dari 4 pendiri republik ini adalah Sutan Sjahrir. Sjahrir merupakan satu di antara 2 orang yang semuanya berasal dari Sumatera Barat. Sementara Soekarno satu-satunya dari Jawa yang berdarah Bali.
Sjahrir selalu dikenang sebagai manusia politik. Sebagai Perdana Menteri Pertama Indonesia. Sebagai pendiri dan pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI). Juga sebagai tokoh pergerakan yang menempuh jalan perjuangan non kooperasi yang penuh risiko.
Sutan Sjahrir memilih berada di barisan bawah tanah, klandestin ketimbang masuk sebagai petinggi Pusat Tenaga Rakyat (Putera) bentukan penjajah militer Jepang seperti Soekarno. Kisah Sjahrir adalah kisah perlawanan.
Baca Juga: Alasan Sutan Sjahrir Menolak Hadiri Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Yang tidak banyak diketahui adalah sosoknya sebagai manusia yang sedang jatuh cinta. Sebagai aktivis yang jatuh hati pada kerupawanan Maria Duchateau, perempuan Belanda yang dikenalnya selama kuliah.
Surat-surat Sjahrir mengungkapkan suasana hatinya. Suasana hati seorang aktivis yang sedang kasmaran. Hati yang sedang tertawan, jatuh cinta
“Aku mencintai Barat karena engkau, tetapi engkau juga dapat membaliknya, karena aku mencintai Barat, aku mencintaimu begitu dalam. Engkau bagiku adalah perwujudan Barat dalam hidupku. Itulah kehidupan yang bergelora…”.
Demikian potongan surat Sjahrir untuk Maria yang dikutip Bacaini.id dari Surat-surat seorang nasionalis Indonesia Sjahrir kepada kekasihnya Maria Duchteau Minggu (4/1/2026).
Surat yang belum pernah dipublikasikan itu ditulis Sjahrir pada 3 Januari 1937. Ia menulis 200-an lebih surat di sepanjang 1931-1941 yang sebagian besar untuk Maria Duchateau.
Maria Duchateau diekstradisi
Bertempat tinggal di rumah Sal Tas, sahabatnya, seorang aktivis sosialis jadi awal perkenalan Sutan Sjahrir dengan Maria Duchateau di Amsterdam Belanda.
Sjahrir diketahui berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan pada tahun 1929. AMS di Bandung Jawa Barat telah ditamatkannya dengan baik.
Sjahrir sempat pulang ke Medan untuk pamitan kepada keluarganya. Juga menyempatkan menyusuri kawasan Preanger (Priangan). 4 hari berjalan kaki menikmati panorama alam di Bandung, Tasikmalaya dan Garut.
Pada awal September 1929 Sjahrir berada di Amsterdam Belanda. Kuliah di Fakultas Hukum di Gemeente Universiteit serta kuliah Indologi di Universitas Leiden.
Di Belanda Sjahrir meluaskan pergaulannya, terutama dengan para mahasiswa rantau. Ia aktif melibatkan diri di dalam Perhimpunan Indonesia, perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda.
Di rumah Sal Tas, sahabat sosialisnya, Sjahrir menemukan tempat tinggal baru. Ia kenal Maria Duchateau, istri Sal Tas yang telah memiliki 2 anak yang masih kecil.
Kedekatan dengan Maria yang awalnya seperti keluarga, berubah suka, menjelma benih cinta. Begitupun yang dirasakan Maria Duchateau. Sal Tas kemudian memutuskan mengakhiri pernikahannya.
Baca Juga: Ketegangan Politik Era Soekarno Lebih Sangar: Perdana Menteri Sjahrir Diculik
Pada akhir tahun 1931 Sutan Sjahrir dipanggil pulang ke tanah air. Ia diminta oleh Hatta memimpin partai politik nasionalis baru yang menyebut diri sebagai Golongan Merdeka. Bersama anak-anaknya Maria Duchateau mengikuti Sjahrir.
Pada 10 April 1932 Sutan Sjahrir dan Maria menikah secara Islam di Medan. Kebahagiaan itu tidak berumur panjang. Pemerintah kolonial Belanda mempersoalkan pernikahan itu.
Perceraian Maria dengan Sal Tas dianggap belum sah karena belum disahkan pengadilan Belanda. Pemerintah kolonial punya alasan membatalkan pernikahan Sjahrir dan Maria.
Pada 14 Mei 1932, Maria Duchteau yang di mata kolonial Belanda juga aktivis revolusioner, diekstradisi. Dinaikkan kapal dan dipulangkan ke Belanda.
Sejak itu Sjahrir dan Maria berkorespondensi melalui media surat-menyurat. 253 surat dan 2 telegram ditulis Sjahrir sebelum pecah Perang Dunia II. Dalam suratnya Sjahrir juga menceritakan aktivitas politiknya.
Penulis: Solichan Arif





