
Ada satu hal lain yang tidak kalah penting dalam kasus seperti ini, yakni bagaimana sekolah merespons ketika muncul dugaan kekerasan. Sekolah tentu mempunyai kepentingan untuk menjaga nama baik lembaga. Tetapi perlindungan terhadap nama baik sekolah tidak boleh lebih penting daripada keselamatan anak.
Jika benar terdapat dugaan kekerasan terhadap Aqib seperti yang disampaikan keluarganya, maka semuanya harus diperiksa secara terbuka dan objektif. Termasuk keterangan mengenai kondisi Aqib sebelum dibawa ke rumah sakit, siapa saja yang mengetahui kejadian, bagaimana pihak sekolah merespons, serta mengapa muncul keterangan yang berbeda mengenai apa yang terjadi.
Semua itu adalah bagian dari proses menemukan kebenaran. Kita tidak boleh terburu-buru menetapkan siapa yang bersalah. Apalagi jika pihak yang diduga terlibat masih anak-anak. Mereka juga memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan proses hukum yang sesuai dengan ketentuan mengenai anak.
Namun kehati-hatian dalam proses hukum tidak boleh berubah menjadi sikap menutup persoalan. Justru karena yang terlibat adalah anak-anak, kasus semacam ini harus ditangani dengan sangat serius. Bukan hanya untuk mencari pertanggungjawaban, tetapi juga untuk mengetahui mengapa kekerasan bisa terjadi dan bagaimana mencegahnya terulang.
Jangan Menunggu Kematian Terjadi
Kita sering baru benar-benar memperhatikan bullying setelah muncul korban. Sebelumnya, mungkin ada anak yang setiap hari pulang dengan wajah murung. Ada orang tua yang bingung karena anaknya mulai enggan berangkat sekolah. Ada guru yang melihat perubahan perilaku muridnya. Ada teman-teman yang sebenarnya mengetahui sesuatu, tetapi memilih diam.
Tidak semua persoalan tersebut berujung pada tragedi. Tetapi setiap persoalan yang tidak ditangani dengan baik bisa meninggalkan luka yang panjang pada seorang anak.
Karena itu, pencegahan perundungan seharusnya tidak berhenti pada poster bertuliskan stop bullying yang ditempel di dinding sekolah.
Anak-anak perlu diajarkan bagaimana memperlakukan temannya. Guru perlu dibekali kemampuan mengenali dan menangani perundungan. Orang tua perlu memiliki ruang komunikasi dengan sekolah. Dan yang paling penting, anak harus tahu bahwa ada orang dewasa yang akan mendengarkan ketika mereka merasa terancam atau disakiti.
Sekolah juga harus memiliki mekanisme yang jelas ketika laporan kekerasan muncul. Tidak boleh ada ruang bagi penyelesaian secara diam-diam hanya demi menghindari reputasi sekolah tercoreng. Sebab sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menghadapi masalah dengan jujur dan melindungi anak-anaknya.
Aqib memang tidak mungkin kembali. Tetapi semoga dari kasus ini kita belajar memperlakukan setiap tanda kekerasan terhadap anak dengan lebih serius. Semoga aparat mengusutnya secara transparan. Semoga sekolah melakukan evaluasi secara terbuka. Dan semoga orang tua semakin berani bertanya kepada anak-anak mereka, bukan hanya tentang nilai pelajaran, tetapi juga tentang bagaimana mereka diperlakukan di sekolah.
Karena pada akhirnya, ukuran paling penting dari sebuah sekolah bukan hanya prestasi akademiknya, melainkan apakah anak-anak merasa aman dan nyaman berada di dalamnya.(htw/edt)



