Bacaini.ID, KEDIRI – Anggota TNI Kodim 0809/Kediri ini bukan hanya prajurit yang setiap hari menjaga keamanan wilayah. Di sela kesibukan sebagai Babinsa Koramil 02 Pesantren, ia merawat kehidupan kecil yang berkicau riang, kenari merah lokal atau Merlok.
Ia adalah Sersan Satu Supriyadi. Sudah lama ia menekuni hobi merawat burung. Apa yang awalnya sekadar pelepas penat, kini berkembang menjadi usaha ternak yang menjanjikan.
Di rumahnya, Perumahan Doko Sragi, Kelurahan Doko Ngasem, belasan sangkar berisi kenari berderet rapi. Ada 12 pasang indukan berkualitas dan 15 ekor anakan yang setiap hari ia rawat dengan penuh ketelatenan.
“Merawat burung ini hiburan tersendiri. Setelah lelah bertugas, saya bisa mendengar kicauannya. Rasanya seperti ada energi baru,” katanya kepada Bacaini.ID, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia mengatakan, mengelola peternakan burung di tengah kesibukan sebagai tentara bukan perkara mudah. Namun bagi Supriyadi, kunci keberhasilan ada pada disiplin. Setiap pagi, sebelum berangkat dinas, ia memberi pakan kenari dengan menu khusus berupa bayam segar dan telur puyuh. Dua bahan sederhana itu dipercaya menjaga kesehatan sekaligus mempercantik warna bulu.
“Burung kenari harus dijemur setiap pagi, sekitar 30 sampai 60 menit. Kalau tidak, mereka bisa lesu. Jadi meski sibuk, saya selalu sempatkan waktu,” katanya.
Dari Hobi Menjadi Rezeki
Kini, hobi itu bukan hanya memberi kebahagiaan, tetapi juga menambah penghasilan keluarga. Supriyadi memanfaatkan media sosial dan komunitas pecinta burung untuk menjual hasil ternaknya. Harga anakan kenari berkisar Rp250 ribu hingga Rp650 ribu, sementara pejantan bisa mencapai Rp1 juta hingga Rp1,25 juta.
Dalam sebulan, ia rata-rata melepas 10 hingga 15 ekor anakan, dengan pendapatan tambahan sekitar Rp3 juta hingga Rp3,5 juta. Angka yang cukup berarti bagi seorang prajurit yang tetap setia menjalankan tugas negara.
Meski cuaca tak menentu sering menjadi tantangan, Supriyadi tetap sabar. Baginya, merawat kenari bukan sekadar bisnis, melainkan bentuk cinta. Cinta pada kehidupan, cinta pada keseimbangan antara tugas negara dan kebahagiaan pribadi.
Di tengah hiruk pikuk tugas menjaga keamanan, suara kenari di rumahnya menjadi pengingat sederhana, bahwa seorang prajurit juga manusia biasa, yang berhak menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil.
Penulis: AK Jatmiko
Editor: Hari Tri Wasono





