• Login
Bacaini.id
Thursday, April 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sepiring Jenang Sengkolo

ditulis oleh
16 February 2022 18:17
Durasi baca: 2 menit
Ilustrasi jenang sengkolo. Foto: Istimewa

Ilustrasi jenang sengkolo. Foto: Istimewa

Suara telepon membangunkan tidurku pagi tadi. Hari masih gelap, pukul 04.30 WIB.

Suara lirih dan serak langsung kukenali di ujung telepon. “Assalamualaikum, engko arep budal kerjo mampiro. Enek jenang sengkolo,” kata ibuku.  

Belum sempat kutanya kenapa membuat jenang sengkolo, telepon sudah ditutup. Begitulah kebiasaan ibuku jika bertelepon, singkat, padat, jelas.

Jam 11.00 WIB aku mampir ke rumah ibu. Jaraknya tak terlalu jauh. Aku di Perumahan Persada Sayang, ibuku di Kelurahan Sukorame. Meski beda kelurahan, jarak perumahanku dengan rumah ibu hanya 500 meter.  

Seperti biasa aku langsung menuju dapur, tempat di mana ibu menghabiskan waktunya di rumah. Posisi dapur ibu memang strategis. Berhadapan dengan jendela kaca yang bisa melihat kandang ayam, kandang kelinci, kandang kucing, dan merpati putih. Jika ada makanan sisa tinggal lempar.

“Iki gowonen, mugo-mugo ndang sehat kabeh,” tukas ibu sambil menyodorkan empat piring berisi bubur merah dan putih. Meski bentuknya bubur, tapi ibu menyebutnya dengan jenang. Warnanya putih dan merah, ditumpuk menjadi dua lapis.

Warna merah (lebih tepatnya coklat) dibuat dari gula merah. Bahannya terdiri dari beras, beras ketan, santan, gula merah, gula pasir, air, dan garam. Cara membuatnya sama persis dengan memasak bubur.

Membuat jenang sengkolo sudah menjadi kebiasaan ibu sejak dulu. Karenanya sejak kecil aku sudah terbiasa memakan jenang ini.

Sesuai namanya, jenang sengkolo dibuat untuk menolak balak (musibah). Hari ini ibu membuat jenang sengkolo dengan harapan melindungi keluargaku dari penyakit. Beberapa hari terakhir anak-anakku terkena flu. Batuk pilek.

Cuaca memang tidak bersahabat belakangan ini. Sinar matahari nyaris tak muncul sejak pagi hingga sore. Suhu udara turun drastis diikuti angin kencang dan hujan. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun banyak yang tumbang karena cuaca ini.

Ditambah lagi teror Omicron yang melengkapi ketakutan saat tiba-tiba terkena flu. Teror itu makin mencekam tatkala membaca berita di media sosial tentang gejala Omicron yang mirip dengan flu. Bersin Omicron, batuk Omicron, sendawa Omicron, pusing Omicron, demam Omicron, nyeri perut Omicron, diare Omicron, kaki pegel Omicron, badan capek Omicron. Begitu seterusnya.

Diagnosa gejala yang terus bertambah ini kadang membuatku gila. Jangan-jangan minyak goreng langka juga merupakan tanda-tanda Omicron.

Tak ingin terkena syndrome Omicron, aku menyaut salah satu piring jenang sengkolo dan menyantapnya. Kuhabiskan dulu bubur warna putih, sebelum menyisir bubur merah sebagai penutup.

Rasanya sama seperti bubur pada umumnya. Namun di dalamnya mengandung kekuatan doa dan penyerahan diri kepada Sang Khalik, untuk meminta perlindungan dari balak dan petaka. Jika batuk dan pilek ini sebagai balak, akan musnah oleh sepiring jenang sengkolo. Sebab tak ada obat yang paling manjur di dunia ini melainkan keyakinan. (Hari Tri Wasono*)

*)Penulis adalah jurnalis Bacaini.id

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: jenang sengkoloomicron
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

KPK melakukan penggeledahan di Pendopo Tulungagung

KPK Kembali Obok-obok Pendopo Tulungagung Bersama Kabag Umum

penggerebekan konten porno di hotel tulungagung oleh polisi

Nekat Produksi Konten Porno di Hotel Tulungagung, Dua Kreator Asal Kediri Ditangkap Polisi

Program redistribusi tanah di Blitar memberi kepastian hukum bagi petani sekaligus membuka akses ekonomi yang lebih luas. Foto: Bupati Blitar Rijanto menyerahkan sertifikat kepada warga (foto/ist)

72 Sertifikat Tanah Dibagikan, Bukti Nyata Keberpihakan Pemkab Blitar ke Petani

  • Petani di Ponorogo mengelola lahan pertanian sebagai bagian dari upaya swasembada pangan nasional

    Ponorogo dan Panggilan Sejarah: Dari Daerah Agraris Menuju Penyangga Kedaulatan Pangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wasiat Yai Mim yang Membuat Keluarga di Blitar Tidak Diam, Dimakamkan Sesuai Keinginan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pj. Sekda Kota Kediri Segera Diganti, Ditunjuk dari Pemkot Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemblokiran TPA Klotok Picu Krisis Sampah di Kota Kediri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waktunya Jual Emas! Harga Antam Hari Ini Tembus Rp2,89 Juta per Gram, Rekor Tertinggi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In