Poin Penting:
- Empat taman di Jawa, yakni Sriwedari, Taman Sari, Sekartaji, dan Kebon Rojo, menyimpan sejarah berbeda sebagai ruang rekreasi dan ruang publik.
- Taman Sriwedari dan Taman Sari memiliki kaitan dengan kehidupan keraton, sedangkan Kebon Rojo Blitar memiliki sejarah sebagai laboratorium tanaman pada masa kolonial.
- Taman Sekartaji Kediri dan ketiga taman lainnya berkembang menjadi ruang interaksi masyarakat, kegiatan budaya, serta ikon sejarah kota.
Bacaini.ID, KEDIRI – Taman Sriwedari Solo (Surakarta) terkenal sebagai tempat pentas seni pertunjukan rakyat, utamanya wayang orang dan musik keroncong. Taman Sari Yogyakarta dikenal sebagai benteng air. Kota Kediri mempunyai Taman Sekartaji Kediri, dan Kota Blitar memiliki Taman Kebon Rojo Blitar.
Dalam sejarah taman kota, ada yang dahulu menjadi tempat rekreasi keluarga raja, tempat bercengkrama raja, panggung pertunjukan seni rakyat, hingga laboratorium tanaman pada masa kolonial Belanda. Kini, keempatnya menjadi bagian dari identitas sejarah dan ruang publik masyarakat.
Taman Sriwedari Solo, Panggung Kesenian Rakyat Sejak Masa Keraton
Nama Taman Sriwedari Solo seolah hidup di antara dunia imajinasi dan nyata. Hadir dalam cerita pewayangan dan bahkan jadi obyek penting di cerita. Bagaimana Sumantri dihukum memindahkan Taman Sriwedari dari kayangan ke dunia oleh Prabu Arjunasasrabahu. Keindahan langit dibawa ke bumi. Nasib Sumantri dipertaruhkan.
Taman Sriwedari yang berada di Jalan Slamet Riyadi Kecamatan Laweyan, Solo Jawa Tengah, dibangun pada masa Susuhunan Paku Buwono X (PB X) tahun 1899. Pada masa orde lama, seni tradisional wayang orang nyaris tiap malam perform di Taman Sriwedari. Juga pertunjukan seni musik keroncong. Seniman-seniman lokal unjuk gigi.
Biasanya rakyat menikmati pentas seni dengan ditemani wedang dan kacang rebus. Dari panggung rakyat tersebut lahir Rusman pemeran Gatotkaca dan Darsi, istrinya sebagai Pergiwa. Kisah pasangan legendaris di panggung dan dunia nyata tersebut ditulis dalam buku Gathutkaca di Panggung Soekarno.
Pada tahun 1948, Taman Sriwedari sempat menjadi tempat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama. Di Solo, Taman Sriwedari merupakan salah satu ikon sejarah, budaya dan sekaligus ruang publik.
Taman Sari Yogyakarta, Pesanggrahan Raja dengan Kolam Pemandian Megah
Indah, megah dan sekaligus gagah karena dikelilingi tembok menjulang tinggi. Taman Sari menjadi salah satu ikon wisata terpenting di Yogyakarta. Dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I (1758-1765), Taman Sari merupakan kebun keraton.
Pembangunan Taman Sari yang bergaya arsitektur perpaduan Jawa dan Portugis selesai di masa Sultan Hamengku Buwono II. Sebagai pesanggrahan, raja menjadikan Taman Sari untuk rekreasi keluarga, sekaligus tempat bercengkrama. Utamanya putri keraton.
Kolam atau Pasiraman Umbul Winangun adalah salah satu ikon terkuat bagian dalam Taman Sari. Di komplek tersebut terdapat tiga kolam pemandian yang seluruhnya dikelilingi tembok megah pada sisi barat dan timur.
Lokasi kolam Umbul Winangun berada lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya. Air yang mengalir di kolam dulunya diambil dari Sungai Winongo yang mengalir dari sisi barat Taman Sari.
Selain Umbul Winangun, ada Gedong Sekawan, Gapura Panggung dan Gerbang Kenari yang menghubungkan Jalan Taman dengan komplek Taman Sari. Sebab selain pesanggrahan, Taman Sari juga berfungsi pertahanan yang dilengkapi lorong-lorong bawah tanah dan dapur.
Taman Sekartaji Kediri, Ruang Publik dan Ikon Kota
Memiliki luas 2.350 meter persegi, pembangunan Taman Sekartaji Kediri diresmikan pada 26 September 2017. Suasananya teduh. Trembesi, Ketapang, bintaro, beringin, kayu putih, akasia, dan flamboyan, tumbuh merindang di dalam taman.
Sebagai ruang publik, Taman Sekartaji menjadi tempat rekreasi warga, khususnya warga Kota Kediri. Pada momen tertentu juga menjadi tempat pentas tari, musik, lomba, termasuk ruang diskusi publik serta berbagai kegiatan sejumlah komunitas. Taman Sekartaji merupakan salah satu ikon Kota Kediri.
Taman Kebon Rojo Blitar, Jejak Laboratorium Tanaman Zaman Kolonial
Ada berbagai satwa yang dikurung. Mulai jenis burung, merak, monyet, kera ekor panjang hingga rusa. Berlokasi di sebelah balai kota Blitar Kusumo Wicitro, Taman Kebon Rojo Blitar juga dilengkapi area bermain anak serta wahana khusus akhir pekan.
Taman Kebon Rojo sudah ada sejak zaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dikutip dari buku Bon Rojo, diperkirakan dibangun sekitar tahun 1890. Pada awal pendirian, pemerintah kolonial Belanda memfungsikan sebagai laboratorium tanaman unggulan, dengan tujuan meningkatkan kualitas perkebunan di Blitar.
Surat kabar Bataviaasch Niewblad pada 19 Desember 1907 menyebut Taman Kebon Rojo Blitar sebagai miniatur Kebun Raya Bogor. Menjadi tempat persemaian berbagai jenis tanaman pohon lindung, tanaman keras, tanaman hias, bunga-bungaan dan rumput-rumputan.
Dari awal berdirinya, Taman Kebon Rojo Blitar juga menjadi tempat rekreasi masyarakat Belanda dan masyarakat Blitar. Karenanya terdapat koepel bergaya arsitektur Belanda yang berfungsi sebagai tempat berteduh.
Sementara nama Kebon Rojo atau Bon Rojo memiliki tiga versi tafsir. Ada yang menafsirkan kebun miliknya raja. Ada yang mengartikan kebun raya, yang itu merujuk pelafalan ‘J’ dengan ‘Y’. Kemudian ada juga yang mengartikan sebagai Kebun Praja atau taman kota. (sa/edt)




