Bacaini.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini dipicu oleh sentimen negatif dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pengumuman tersebut memicu aksi panic selling di bursa, di mana banyak investor berbondong-bondong melepas saham mereka karena khawatir harga akan terus turun.
Apa yang terjadi?
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) tiba-tiba turun tajam. Penyebab utamanya adalah pengumuman dari MSCI, lembaga internasional yang mengatur indeks saham global. Pengumuman itu membuat banyak investor panik dan buru-buru menjual saham mereka (panic selling).
Kenapa bisa panik?
Investor takut nilai saham mereka akan turun lebih jauh setelah pengumuman MSCI. Jadi, mereka memilih menjual cepat, meskipun harganya jatuh. Akibatnya, pasar jadi makin tertekan.
Menurut Menteri Purbaya, hal ini menunjukkan bahwa kinerja bursa kurang transparan, informasi tidak terbuka atau jelas, sehingga investor mudah panik. Selain itu praktik goreng saham masih ada, di mana ada pihak yang sengaja memainkan harga saham untuk keuntungan sesaat, bukan karena kinerja perusahaan yang sebenarnya.
Jadi singkatnya, IHSG jatuh karena investor panik setelah pengumuman MSCI. Tapi akar masalahnya adalah pasar kita masih belum jujur dan sehat, sehingga mudah terguncang.
Apa itu Goreng Saham?
Praktik goreng saham adalah tindakan sekelompok pihak yang sengaja memainkan harga saham agar terlihat naik tinggi. Caranya biasanya dengan membeli saham dalam jumlah besar untuk menciptakan kesan permintaan tinggi, lalu mendorong investor lain ikut membeli. Setelah harga naik, pihak tersebut menjual sahamnya untuk meraup keuntungan cepat.
Masalahnya, kenaikan harga ini tidak mencerminkan kinerja nyata perusahaan, melainkan hasil manipulasi pasar. Akibatnya, investor kecil yang ikut membeli di harga tinggi sering kali merugi ketika harga kembali jatuh.
Contoh Kasus di Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, publik sempat digemparkan oleh kasus goreng saham PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP). Harga saham perusahaan ini pernah melonjak tajam tanpa didukung kinerja fundamental yang kuat. Setelah itu, harga kembali anjlok dan banyak investor ritel mengalami kerugian besar.
Kasus serupa juga terjadi pada saham-saham berkapitalisasi kecil (saham gorengan), yang harganya bisa naik ratusan persen dalam waktu singkat, lalu tiba-tiba jatuh. Pola ini menunjukkan adanya permainan harga oleh pihak tertentu, bukan karena prospek bisnis perusahaan.
Purbaya menegaskan bahwa praktik semacam ini harus segera diberantas. Jika tidak, pasar modal akan terus rapuh dan mudah terguncang oleh sentimen global. “Transparansi dan integritas bursa adalah kunci. Tanpa itu, investor akan selalu was-was dan pasar tidak akan tumbuh sehat,” ujarnya.
Penulis: Hari Tri Wasono





