Bacaini.ID, KEDIRI – Tidak salah jika kelor, moringa oleifera, dikenal sebagai pohon kehidupan atau pohon ajaib.
Sebab hampir seluruh bagian pohon memiliki manfaat dan mengandung nutrisi penting.
Bahkan dalam program makan bergizi gratis (MBG), kelor menjadi pengganti menu susu, utamanya bagi daerah yang tidak memiliki sentral peternakan sapi perah.
Pohon kelor diketahui tersebar luas di seluruh dunia, namun asal usul aslinya adalah India, Arab, dan Asia Tenggara.
Masyarakat tradisional di seluruh dunia telah memanfaatkan kelor sebagai bahan makanan sejak zaman kuno lantaran bermanfaat besar untuk kesehatan.
Bahkan sejak berabad-abad lalu, kelor digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan penyakit atau memperbaiki kondisi kesehatan tertentu.
Dikutip dari National Library of Medicine, kandungan nutrisi kelor hampir ada di setiap bagian pohonnya dan bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.
• Daun kelor memiliki kandungan betakaroten, mineral, kalsium, dan kalium yang tinggi.
• Daun kering kelor memiliki kandungan asam oleat sekitar 70% sehingga cocok untuk dijadikan pelembab.
• Daun bubuk kelor digunakan untuk membuat banyak minuman, salah satunya adalah Zija, minuman populer di India yang sebagian besar memakai bahan baku kelor.
• Kulit pohonnya secara tradisional dimanfaatkan dalam pengobatan berbagai kelainan seperti maag, sakit gigi, dan hipertensi.
• Akar pohon kelor juga sering dimanfaatkan untuk pengobatan sakit gigi, helminthiasis, dan kelumpuhan.
• Bunganya digunakan untuk mengobati bisul, pembesaran limpa, dan menghasilkan zat afrodisiak.
• Secara keseluruhan, kelor dipercaya memiliki khasiat luar biasa dalam mengobati malnutrisi pada bayi dan ibu menyusui, terutama pada pemanfaatan daunnya sebagai makanan bergizi.
Dari data yang dimiliki oleh National Library of Medicine, ilmuwan dari sekitar 15 negara telah menerbitkan lebih dari 100 makalah penelitian tentang kelor selama periode 2000–2022.
Di antaranya India merupakan negara paling produktif (1083), diikuti oleh Nigeria (441), Brasil (383), Mesir (361), Tiongkok (331), Indonesia (327), Pakistan (281), Afrika Selatan (272), Malaysia (260), Amerika Serikat (214), Arab Saudi (205), Meksiko (163), Thailand (127), dan Italia (105).
Pengobatan tradisional dengan kelor dilakukan di berbagai negara, berikut beberapa manfaat kelor secara tradisional namun terbukti secara ilmiah dan penelitiannya masih terus dikembangkan.
• Daun kelor digunakan untuk antihipertensi, anti-kecemasan, anti-diare dan sebagai diuretik.
Kelor juga digunakan untuk mengobati disentri dan radang usus besar. Tapal yang terbuat dari daun kelor adalah obat cepat untuk kondisi peradangan seperti peradangan kelenjar, sakit kepala, dan bronkitis.
• Polongnya mengobati hepatitis dan meredakan nyeri sendi.
• Akarnya secara konvensional digunakan untuk mengobati batu ginjal, penyakit hati, peradangan, bisul, dan nyeri yang berhubungan dengan telinga dan gigi.
• Kulit batangnya digunakan untuk mengobati luka dan infeksi kulit. Orang India menggunakan permen karet yang diekstraksi dari tanaman ini untuk mengobati demam, dan juga digunakan untuk menginduksi aborsi.
• Benih kelor dapat bertindak sebagai pencahar dan digunakan dalam pengobatan masalah tumor, prostat, dan kandung kemih.
Masih banyak kegunaan kelor yang dimanfaatkan oleh masyarakat dari berbagai negara baik secara tradisional sebagai obat herbal, maupun sebagai nutrisi pendamping terutama untuk ibu hamil dan mencegah stunting pada anak.
Kelor kaya akan senyawa seperti vitamin, mikronutrien, dan karotenoid yang bernilai obat dan dikonsumsi sebagai makanan super.
Studi farmakologi menunjukkan bahwa kandungan aktif tanaman ini telah secara efektif menyembuhkan berbagai penyakit seperti nyeri neuropatik, kanker, hipertensi, diabetes, obesitas dan lainnya
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif