• Login
Bacaini.id
Thursday, February 12, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Perburuan Tuna dan Hiu Jadi Kebiasaan Nenek Moyang Bangsa Asia Tenggara

ditulis oleh Editor
16 September 2025 16:42
Durasi baca: 3 menit
Perburuan ikan tuna dan hiu

Nenek moyang bangsa Asia Tenggara punya kebiasaan berburu ikan tuna dan hiu (foto/AI/Bacaini)

Bacaini.ID, KEDIRI – Perburuan ikan tuna dan hiu sudah dilakukan masyarakat di pulau-pulau kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia sejak lama.

Perburuan tuna dan hiu dengan ketrampilan maritim yang canggih sudah berlangsung sekitar 40.000 tahun silam.

Aktivitas perburuan tuna dan hiu itu jadi salah satu bukti nenek moyang masyarakat Nusantara memang seorang pelaut.

Mereka berlayar ke laut dalam untuk menangkap ikan besar seperti tuna dan hiu, lalu kembali dengan hasil tangkapan yang luar biasa.

Di era tersebut, perahu dan tali terbuat dari bahan organik yang mudah rusak ‘dilumat’ alam, bukti langsung jarang ditemukan.

Namun, tulang ikan, alat batu, dan bekas pemakaian mikroskopis di alat-alat tersebut memberi petunjuk penting.

Dikutip dari Earth, ilmuwan menyebut metode penemuan jejak aktivitas masa lalu ini sebagai ‘traceologi’, suatu cara mempelajari jejak pemakaian alat untuk memahami teknologi kuno.

Penelitian terbaru yang dilakukan Riczar Fuentes dari Universitas Ateneo de Manila menunjukkan bahwa serat tanaman kuno kemungkinan dipakai untuk membuat tali, jaring, dan ikatan perahu.

Ini membuktikan bahwa masyarakat pada masa itu sudah memahami teknik membuat perahu dan alat tangkap ikan, bukan sekadar mengandalkan keberuntungan.

Temuan dari situs Jerimalai di Timor-Leste memperkuat bukti ini.

Di sana, arkeolog menemukan 38.687 tulang ikan dari hampir 3.000 ekor, termasuk spesies laut dalam, serta kail pancing tertua yang terbuat dari kerang berusia 23.000–16.000 tahun.

Ini menunjukkan aktivitas penangkapan ikan yang terencana dan berulang.

Tak hanya di Timor-Leste, penelitian di Mindoro, Filipina, juga menunjukkan bukti penangkapan ikan yang sudah berlangsung setidaknya 30.000 tahun.

Pola ini membuktikan adanya pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melibatkan pelatihan, kerja sama, dan teknologi yang terus berkembang.

Migrasi antar pulau juga semakin jelas terlihat. Pergerakan obsidian di antara pulau-pulau di Indonesia bagian tenggara dan Timor-Leste menunjukkan adanya kontak yang berkelanjutan.

Pola ini sesuai dengan zona interaksi Pleistosen akhir hingga Holosen awal, bukan pergeseran yang terjadi sekali saja.

Pergerakan batu obsidian antar pulau menunjukkan adanya jalur perdagangan dan pertukaran pengetahuan.

Batu tentu tidak bergerak sendiri, ini berarti manusia sudah merencanakan pelayaran.

Juga memahami musim, serta menguasai navigasi laut jauh sebelum yang diperkirakan sebelumnya.

Gabungan bukti dari tulang ikan, kail, dan alat batu menunjukkan bahwa masyarakat Asia Tenggara ribuan tahun lalu sudah memiliki budaya maritim yang maju dan terorganisir.

Mereka bukan sekadar penumpang arus laut, melainkan pelaut terampil yang memahami laut.

Kemudian juga mengembangkan teknologi, dan membangun jaringan sosial yang memungkinkan mereka bertahan dan berkembang di wilayah kepulauan.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: Asia TenggarahiuIndonesianenek moyangperburuan tunaperburuan tuna dan hiu
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi netizen Indonesia scroll media sosial berdasarkan survei Jakpat 2025

Tabiat Netizen Indonesia Terungkap: 71% Hanya Scroll Medsos, Cuma 19% Baca Berita

Fajar Alamri menggunakan pijakan kardus saat bermain biliar

Fakta Fajar Alamri, Bocah 5 Tahun dari Tolitoli yang Bikin Legenda Biliar Dunia Terkesima

Kurt Cobain. Foto: istimewa

Investigasi Baru Misteri Bunuh Diri Kurt Cobain

  • Bupati Trenggalek melepas 9 pemuda yang akan belajar Pertahanan dan AI di Korea Selatan

    Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sleman Viral Lagi! Lawan Klitih Berujung Penjara 10 Tahun dan Denda 1 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peluang Atlet Indonesia di Olimpiade Musim Dingin 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In