Bacaini.ID, KEDIRI – Ramadan seharusnya membuat pengeluaran rumah tangga menurun. Sebab frekuensi makan berkurang, aktivitas nongkrong siang hari menurun, bahkan sebagian orang mengurangi perjalanan dan hiburan.
Namun realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda: pengeluaran justru meningkat selama bulan puasa, terutama menjelang Idul Fitri.
Fenomena ini bukan sekadar persepsi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) secara konsisten menunjukkan adanya inflasi musiman pada periode Ramadan dan Lebaran, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan transportasi.
Baca Juga:
- Konsekuensi Mokel dalam Puasa Ramadan, Begini Hukum dan Cara Menebusnya
- Hukum Mandi Besar Ramadan dan Bacaan Niatnya, Wajib atau Hanya Sunnah?
Dalam rilis pertumbuhan ekonomi, periode yang bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri hampir selalu menunjukkan lonjakan konsumsi rumah tangga sebagai faktor musiman.
Lalu, mengapa saat umat Islam menahan makan dan minum sepanjang hari, belanja justru melonjak?
Inflasi Musiman yang Berulang Setiap Tahun
BPS hampir setiap tahun mencatat kenaikan harga sejumlah komoditas menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Beras, daging ayam ras, telur ayam, cabai, bawang, hingga gula pasir menjadi komoditas yang paling sering mengalami tekanan harga akibat lonjakan permintaan.
Dalam pola tahunan, Ramadan-Idul Fitri memang menjadi momen konsumsi tertinggi masyarakat Indonesia.
Permintaan meningkat secara serentak dalam waktu singkat, sementara pasokan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan. Akibatnya, harga terdorong naik.
Artinya, meskipun volume belanja tidak bertambah signifikan, nilai uang yang dikeluarkan tetap meningkat karena faktor harga.
Dari Tiga Kali Makan ke ‘Balas Dendam’ Berbuka
Secara teori, makan dua kali sehari, sahur dan berbuka, seharusnya mengurangi pengeluaran konsumsi. Namun praktiknya berbeda.
Takjil beragam, minuman manis, gorengan, hidangan utama, hingga camilan malam sering kali membuat konsumsi kalori justru meningkat dibanding hari biasa.
Secara psikologis, pembatasan sepanjang hari dapat memicu dorongan kompensasi saat waktu berbuka tiba.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Appetite, pembatasan asupan sementara dapat meningkatkan kecenderungan konsumsi impulsif ketika kesempatan makan kembali tersedia. Konsep ini sering disebut sebagai ‘compensatory eating’.
Tak heran, belanja bahan makanan selama Ramadan sering kali lebih banyak dan lebih variatif dibanding bulan biasa.
Budaya Sosial yang Mendorong Konsumsi
Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga musim silaturahmi. Undangan buka bersama di restoran, hotel, dan kafe meningkat tajam.
Banyak tempat makan bahkan menjadikan Ramadan sebagai periode puncak penjualan tahunan. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dalam beberapa kesempatan menyebut Ramadan dan Lebaran sebagai masa ‘high season’ sektor ritel.
Permintaan pakaian, makanan kemasan, parsel, hingga kebutuhan rumah tangga meningkat signifikan. Pengeluaran bergeser dari konsumsi rutin harian menjadi konsumsi sosial dan simbolik.
Efek THR dan Psikologi ‘Uang Tambahan’
Tunjangan Hari Raya (THR) yang cair menjelang Idul Fitri turut memengaruhi perilaku konsumsi. Dalam ekonomi perilaku, dana tambahan seperti bonus atau THR disebut sebagai ‘windfall income’, pendapatan yang dianggap uang ekstra.
Penelitian dalam Journal of Behavioral Decision Making menunjukkan bahwa individu cenderung lebih mudah membelanjakan pendapatan tak terduga dibanding gaji rutin bulanan. Secara psikologis, uang tersebut terasa ‘lebih longgar’ untuk digunakan.
Akibatnya, belanja pakaian baru, gadget, hampers, perabot rumah, hingga tiket mudik meningkat drastis.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ramadan juga menjadi musim belanja online. E-commerce menghadirkan promo bertajuk ‘Ramadan Sale’, ‘Flash Sale Sahur’, hingga diskon tengah malam.
Bank Indonesia dalam laporan sistem pembayaran mencatat tren peningkatan transaksi digital selama periode Ramadan dan Idul Fitri. Pembayaran melalui QRIS dan dompet digital juga menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kemudahan transaksi membuat konsumsi semakin impulsif. Tanpa perlu keluar rumah, pembelian dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Mudik dan Beban Tambahan Rumah Tangga
Selain konsumsi makanan dan belanja pakaian, Ramadan juga identik dengan tradisi mudik. Biaya transportasi, oleh-oleh, hingga kebutuhan tambahan di kampung halaman menjadi komponen pengeluaran besar.
Kementerian Perhubungan hampir setiap tahun mencatat jutaan orang melakukan perjalanan mudik menjelang Lebaran. Lonjakan mobilitas ini tentu berdampak pada pengeluaran transportasi dan logistik rumah tangga.
Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri. Namun dalam praktik sosial-ekonomi, bulan ini juga menjadi momen ekspresi kebersamaan, identitas, dan status sosial.
Konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan biologis, namun juga kebutuhan sosial. Dari sinilah, kontradiksi muncul: puasa sebagai simbol pengendalian diri, tetapi konsumsi justru meningkat.
Secara makroekonomi, peningkatan konsumsi Ramadan justru menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Namun dari sisi rumah tangga, lonjakan pengeluaran tanpa perencanaan dapat memicu tekanan finansial setelah Lebaran.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





