Bacaini.id, TULUNGAGUNG – Keberadaan manusia purba Indonesia di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung Jawa Timur ditandai dengan pendirian Tugu Homo Wajakensis.
Penamaan Homo Wajakensis diketahui berawal dari ditemukannya fosil tengkorak manusia purba oleh seorang kebangsaan Belanda bernama Van Rietschoten, yakni pada tahun 1888. Fosil yang mula-mula diberinya nama spesimen Wajak Satu
“Spesimen Wajak Satu ditemukan saat proses penelitian kandungan marmer oleh Jenderal Belanda,” ujar Sekretaris Pokdarwis Wajakensis Jatipurbo, Abdul Kholik.
Terhitung hingga hari ini, penemuan manusia purba Homo Wajakensis di Tulungagung telah berusia 135 tahun.
Saat itu, kabar penemuan fosil sontak menyebar cepat. Merasa tertarik, seorang peneliti Belanda bernama Eugene Dubois langsung mendatangi lokasi penemuan.
Dalam risetnya yang berlangsung 1890, Dubois menemukan tulang rahang yang kemudian dinamakan spesimen Wajak dua.
“Dari temuan tersebut, Dubois berkesimpulan bahwa fosil tersebut adalah manusia purba homo sapiens. Dia menamakannya sebagai Homo Sapien Wajakensis, mengingat dulu wilayah ini sebagai Distrik Wajak,” paparnya.
Penemuan manusia purba Homo Wajakensis membuat nama Tulungagung semakin dikenal. Tidak hanya sebagai wilayah penghasil marmer, namun juga tempat manusia purba.
Dalam perjalanannya Pemkab Tulungagung pada tahun 2012 mendirikan monumen Tugu Homo Wajakensis, yakni sebagai penanda lokasi penemuan fosil manusia purba.
“Lokasi ini juga masih sering menjadi penelitian oleh perguruan dan lembaga tertentu,” terangnya.
Abdul menjelaskan bahwa beberapa orang yang sering berkeliling di kawasan situs juga kerap menemukan fosil hewan purba. Di antaranya kerang dan hewan darat.
Diduga penemuan itu berkaitan erat dengan Homo Wajakensis.
Di lokasi situs juga masih banyak hewan endemik dan langka, yakni salah satunya landak. Maka dari itu, Pokdarwis Wajakensis Jatipurbo melarang adanya aktivitas perburuan.
“Kami larang perburuan disini. Agar ekosistem di situs ini tetap terjaga,” pungkasnya.
Penulis: Setiawan
Editor: Solichan Arif