• Login
Bacaini.id
Tuesday, March 10, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Penelitian Ilmuwan John Calhoun Tentang Perilaku Tikus Mencerminkan Perilaku Manusia Modern Saat Ini

ditulis oleh Danny Wibisono
5 January 2025 21:37
Durasi baca: 3 menit
Perliaku Sosial Tikus Berubah seperti Manusia Modern Saat Ini (Foto : Penelitian John B Calhoun)

Perliaku Sosial Tikus Berubah seperti Manusia Modern Saat Ini (Foto : Penelitian John B Calhoun)

Bacaini.ID-JAKARTA- John B Calhoun adalah peneliti dari Amerika Serikat kelahiran kota Tennessee, 11 Mei 1917 yang mengajar di Emory University dan Ohio State University dan bekerja di National Institute of Health (NIH) selama 33 tahun. John adalah ahli dan peneliti perilaku sosial hewan dan manusia khususnya tentang potensi buruk akibat kelebihan populasi dan kepadatan penduduk. Penelitiannya yang terkenal adalah “Universe 25”, yaitu mengeksplorasi dinamika sosial populasi tikus dalam lingkungan yang terkendali.

Pada tahun 1960, eksperimen ini dimulai dengan memasukkan sekelompok kecil tikus ke dalam lingkungan yang disediakan segalanya: makanan, air, dan tempat tinggal yang melimpah tanpa adanya predator (pemangsa tikus). Yang terjadi, awalnya, lingkungan ini tampak ideal, yang menyebabkan populasi tikus tumbuh dengan cepat.

Setelah beberapa waktu, populasi tikus berkembang pesat dan mencapai puncaknya, yaitu sekitar 2.200 ekor. Setelah mencapai ambang batas tertentu, perilaku sosial tikus mulai memburuk atau menurun. Penelitian ini dilakukan dalam waktu 550 hari. Pada saat populasi tikus ini mencapai puncaknya, tanda perubahan perilaku tikus terjadi bukan karena saling merebut makanan dan minuman tetapi justru perilaku lain, seperti :

Pertama, tikus betina mulai menunjukkan tanda-tanda stres, mengabaikan atau bahkan membunuh anak mereka sendiri.

Kedua, tikus berperilaku aneh yaitu tidak menyukai berhubungan dengan lawan jenis karena kondisi populasi yang penuh, tidak nyaman, justru mereka berhubungan sesama jenis.

Ketiga, para tikus membentuk kelompok-kelompok, saling mengintimidasi hingga saling membunuh tidak peduli tikus muda, tua, laki atau betina. Banyaknya pembunuhan ini menurunkan jumlah mereka, terlebih mereka tidak mau berhubungan lawan jenis karena tekanan sosial yang tinggi dan tingkat stres yang tinggi juga

Keempat, sebagian tikus mengasingkan diri, hanya berfokus pada perawatan diri, dan berhenti berinteraksi secara sosial, disebut sebagai “Beautiful Ones.” Tikus-tikus yang fokus pada kecantikan ini tidak berkontribusi ke reproduksi lebih lanjut, yang akhirnya menyebabkan penurunan populasi.

Penelitian Calhoun dilakukan beberapa kali, namun hasil penelitiannya tetap sama untuk memastikan akurasi penelitiannya. Meski mendapat reaksi penentangan, penelitian ini dianggap tidak dapat diterapkan dengan teori dan prediksi yang sama pada manusia modern, namun meningkatnya jumlah populasi manusia di dunia saat ini ternyata banyak didapatkan perilaku yang sama dengan hasil eksperimen tikus ini, yaitu perubahan perilaku sosial manusia yang saat ini sering ditemukan dalam keseharian, meskipun saat ini teknologi semakin modern, akses informasi semakin mudah sehingga seharusnya pengetahuan yang benar mudah didapatkan, namun faktanya justru :

  1. perilaku kekerasan meningkat termasuk kekerasan dalam rumah tangga meningkat (kekerasan antar pasangan, kekerasan terhadap anak). Banyak terjadi pembunuhan orang tua pada anak atau sebaliknya;
  2. semakin maraknya perilaku penyuka sesama jenis (LGBT), lesbian dan homoseksual
  3. meningkatnya keinginan untuk tidak menikah dengan gaya hidup friend with benefit. Di Jepang, orang tidak mau menikah, menggunakan boneka sebagai teman hidup karena tingginya biaya hidup
  4. perilaku memiliki anak tetapi tidak menikah dengan platonic parenting dengan menggunakan donor sperma atau berhubungan dengan laki-laki lain untuk mendapatkan anak namun tidak ada ikatan perkawinan
  5. sedikit berbeda dengan kondisi tikus yang membentuk kelompok dan melakukan kekerasan dan pembunuhan. Manusia melakukan kerusakan di muka bumi karena perubahan perilaku sosial manusia:
    – manusia yang menjadi masyarakat yang terhimpun dalam suatu negara saling berperang, menggunakan senjata pemusnah massal, melakukan genosida seperti perang Gaza karena perebutan wilayah, perang Ukraina-Rusia karena merebutkan hegemoni, sumber daya alam dan kekuasaan
    – perang karena agama dan ideologi oleh terorisme karena merasa paling benar,

Artinya masyarakat modern yang semakin pintar (pandai) dan kreatif karena dukungan akses informasi yang mudah dan cepat tidak cukup menjadikan manusia modern dengan perilaku yang baik. Peperangan, konflik politik, terorisme banyak dilakukan oleh orang-orang pintar, pemimpin yang pandai tetapi tidak dibarengi pemikiran yang benar, beradab dan bijak.

Sama halnya juga dengan pemikiran perilaku sosial manusia menyimpang lainnya seperti penyuka sesama jenis, plantonic parenting mungkin saja dilakukan oleh orang-orang pintar, tetapi tidak dibarengi dengan cara berpikir benar, bijak dan beradab bagaimana menjaga keberlangsungan dan kesinambungan hidup manusia di masa mendatang agar tidak punah seperti tikus tadi.

Penulis : Danny Wibisono
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: john calhounmanusia modernperilaku sosialperilaku tikus
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Bupati Tulungagung Gatut Sunu menyerahkan SK pensiun kepada ASN Pemkab Tulungagung di Pendopo Kongas Arum

83 ASN Pemkab Tulungagung Pensiun, Bupati Gatut Sunu Serahkan SK dan Tali Asih Korpri

Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo saat sosialisasi SPPT PBB-P2 2026 di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso

Bupati Tulungagung Gatut Sunu Minta Distribusi SPPT PBB-P2 2026 Dipercepat

Perbaikan jalan rusak di Kabupaten Trenggalek menjelang Lebaran Idul Fitri 2026

Jalan Rusak di Trenggalek Mulai Diperbaiki Jelang Lebaran Idul Fitri 2026, Pemkab Siapkan Rp95 Miliar

  • Bkami GM. Foto: istimewa

    Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pamer Hummer Listrik 4,5 M, “Rahasia” Ketenaran Gus Iqdam Dibongkar Netizen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Review Xiaomi 17 & Xiaomi 17 Ultra, Flagship Bertenaga dengan Kamera Leica

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanpa Wawali Blitar, Mas Ibin ‘Pamer’ 70 Prestasi di Refleksi 1 Tahun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In