Bacaini.id, BANGKALAN – Membangunkan sahur keliling dengan memakai kentongan bambu masih ternyata masih belum luntur. Tradisi Ramadan yang disebut or-saor (sahur-sahur) ini masih dilakukan warga di sejumlah wilayah di Bangkalan.
Or-saor biasanya dilakukan sejumlah pemuda yang berkeliling desa dengan berjalan kaki sambil membunyikan kentongan beserta alat bunyi yang lain. Mereka juga bershalawat mengikuti irama musik dan sambil meneriakkan kata saor atau sahur untuk membangunkan warga.
Namun seiring berkembangnya zaman, tradisi or-saor juga dilakukan dengan menggunakan alat yang lebih canggih yang disebut musik patrol layaknya peralatan yang digunakan untuk orkes musik. Musik patrol juga tidak dilakukan dengan jalan kaki, mereka berkeliling dengan naik truk.
Tidak kalah seru, para pemuda yang juga memainkan alat musik modern itu berada di atas truk berkeliling dari desa ke desa hingga lintas kecamatan sambil bernyanyi. Kegiatan membangunkan sahur ini mereka lakukan usai tadarus Al-Quran sekitar pukul 12 malam sampai pukul 03.00 WIB.
Pemuda Desa Banyubunih, Bangkalan, Badrut Tamam mengatakan tradisi or-saor modern tersebut tidak semata-mata hanya untuk membangunkan orang untuk sahur. Lebih dari itu, tradisi ini dilakukan untuk memperkuat silaturahmi antar pemuda lintas desa, kecamatan bahkan hingga kabupaten.
“Kalau dulu, tradisi membangunkan warga untuk sahur itu dilakukan dengan alat seadanya saja, cukup dengan pentungan dan satu buah drum sudah cukup, sekarang jauh lebih modern dan lebih lengkap alat musiknya,” kata Badrut kepada Bacaini.id, Rabu, 20 April 2022.
Menurutnya, tradisi musik patrol ini hanya dilakukan khusus selama bulan suci Ramadan. Selain bershalawat, para pemuda itu juga menyanyikan lagu-lagu dangdut kekinian layaknya orkes musik di atas panggung.
“Itu salah satu yang kita maksud sebagai ajang silaturahmi, untuk memperbanyak teman di lintas daerah. Tentunya ini menjadi kebiasaan baru yang bahkan sudah menjadi budaya saat bulan puasa tiba,” terangnya.
Pemuda itu juga menambahkan munculnya musik patrol pada awalnya dari Desa Banyubunih antara tahun 2014-2015 silam. Saat itu musik patrol dilakukan terpusat di simpang tiga ujung utara Desa Banyubunih. Namun seiring berjalannya waktu hingga saat ini, musik patrol dilakukan dengan berkeliling menggunakan kendaraan truk.
“Semoga pemuda Banyubunih terus kompak, sehingga tradisi musik patrol ini terus konsisten dilakukan setiap tahun di bulan puasa,” pungkasnya.
Penulis: Rusdi
Editor: Novira
Comments 1