Bacaini.ID, AMERIKA SERIKAT – Amerika Serikat (AS) berusaha mengisolasi ekonomi Iran dengan meluncurkan kampanye sanksi ekonomi global yang diberi nama “Operation Economic Outcast”. Diumumkan langsung oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, Operation Economic Outcast bertujuan memutus setiap jalur keuangan yang selama ini menopang Iran.
Langkah offensif ini diambil menyusul jalan buntu militer yang telah berlangsung selama hampir enam bulan. Sebelumnya, serangan gabungan antara Amerika Serikat dan Israel pada awal tahun telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Alih-alih runtuh atau menyerah seperti yang diharapkan Washington, kelompok garis keras di Iran justru semakin memperkuat cengkeraman kekuasaan mereka.
Sebagai bentuk perlawanan, Iran menutup jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dan menyerang kapal-kapal yang mengabaikan blokade tersebut, sehingga memicu krisis ekonomi global.
Karena tekanan militer gagal, Washington kini beralih pada strategi cekikan ekonomi total. Di bawah aturan baru ini, Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder yang sangat berat kepada siapa pun, baik negara, perusahaan, maupun individu di belahan dunia mana pun, yang masih mempertahankan hubungan ekonomi atau memfasilitasi pencucian uang untuk mengubah minyak Iran menjadi uang tunai. Setiap pihak yang melanggar diancam akan didepak dari sistem keuangan berbasis dolar AS.
Kendati demikian, implementasi kebijakan ini menyisakan batu sandungan yang besar, terutama menyangkut hubungan dengan China. China saat ini tercatat sebagai mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama yang menyerap sekitar 80% dari total ekspor minyak mentah Iran.
Dalam laporan yang diterbitkan The Guardian, ketika ditanya apakah sanksi ini akan diterapkan secara tegas terhadap Beijing, Scott Bessent menegaskan bahwa tidak ada satu pun pihak yang kebal dari jangkauan sanksi AS jika mereka menjadi bagian dari ekosistem keuangan minyak Iran.
Menanggapi hal tersebut, Kedutaan Besar China di Washington mengeluarkan pernyataan bahwa tekanan dan sanksi tidak akan menyelesaikan masalah, serta mendesak penyelesaian melalui jalur politik dan diplomasi.
Dinamika ini turut memicu pergeseran sikap di kawasan regional. Uni Emirat Arab (UEA) yang merupakan sekutu dekat AS dan Israel, mengambil langkah antisipatif dengan mengumumkan penangguhan hubungan dagang mereka dengan Iran. Sementara itu, Turki selaku negara tetangga sekaligus mitra dagang Iran masih belum memberikan respons resmi.
Di sisi lain, Teheran sama sekali tidak menunjukkan gentar menghadapi ancaman Washington. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menegaskan bahwa negaranya siap melancarkan pembalasan melalui berbagai matra, mulai dari operasi darat, laut, udara, hingga serangan siber.
Di samping itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan bahwa opsi serangan militer kinetik di sekitar Selat Hormuz juga masih tetap terbuka.
Para analis menilai bahwa meskipun sanksi ekonomi memiliki daya rusak yang kuat, langkah ini kemungkinan besar tidak akan serta-merta menghasilkan penyelesaian yang cepat sesuai keinginan Washington. (bl/sa)




