• Login
Bacaini.id
Thursday, October 8, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Oktober 1965, Bulan “Pembersihan”

Kedatangan RPKAD di Semarang pada 18 Oktober 1965 mengubah situasi Jawa Tengah yang sebelumnya relatif tenang menjadi mencekam

ditulis oleh Solichan Arif
8 October 2026 13:44
Durasi baca: 4 menit
RPKAD memulai operasi penangkapan di Semarang pada Oktober 1965

Kedatangan RPKAD di Semarang pada 18 Oktober 1965 menjadi titik balik situasi Jawa Tengah setelah peristiwa G30S 1965 (foto ilustrasi)

Reporter: Solichan Arif | Editor: Editor

Poin Penting:

  • RPKAD tiba di Semarang pada 18 Oktober 1965 dan mulai melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang disinyalir anggota atau simpatisan PKI.
  • Sebelum kedatangan RPKAD, Jawa Tengah relatif kondusif dan kabar G30S 1965 belum langsung memicu kekerasan massal terhadap PKI.
  • Operasi kemudian meluas dari Semarang ke berbagai daerah dan melibatkan kelompok pemuda serta pelajar.

Bacaini.ID, KEDIRI – Oktober 1965 merupakan bulan pembersihan 1965 yang sekaligus menandai perubahan drastis situasi di Jawa Tengah setelah peristiwa G30S 1965. Dimulai 18 Oktober 1965, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) bergerak di Semarang, berlanjut ke Magelang, Kudus, Demak dan Jepara, menggelar ‘operasi bersih-bersih’ terhadap orang-orang PKI.

Penangkapan dan penahanan terhadap anggota dan simpatisan PKI terjadi di mana-mana. Dalihnya beragam. Tidak selalu terkait langsung dengan peristiwa pembunuhan enam jenderal dalam G30S 1965 di Jakarta. Situasi semakin parah ketika milisi sipil dari ormas pemuda mulai digalang dan dilibatkan.

Baca Juga: “Musuh-Musuh Rakyat” di Pengadilan G30S 1965

Sebelum 18 Oktober 1965, situasi di Jawa Tengah secara umum relatif kondusif. Kabar peristiwa G30S 1965 sudah didengar masyarakat, namun tidak muncul reaksi yang menonjol di grassroot maupun elit politik lokal. Ketegangan tidak menimbulkan konflik antar anggota masyarakat yang berlatar belakang organisasi dan sikap politik berbeda.

Dikutip dari buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir, walaupun berita-berita yang diterima masyarakat, melalui radio maupun dari mulut ke mulut, mengatakan penculik dan pembunuh para jenderal adalah PKI, partai atau organisasi massa lain tidak melakukan tindakan apa pun sebelum 17 Oktober 1965.

“Dalam tiga minggu pertama Oktober 1965, tidak ada kerusuhan besar di Jawa Tengah dan tidak ada pembunuhan massal. Bahkan di beberapa daerah, kerja sama yang telah terjalin tetap dijalankan seperti sediakala,” demikian dikutip Bacaini.id dari buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir Kamis (8/10/2026).

Salah satu alasan mengapa berita G30S tidak serta-merta menyulut serangan terhadap PKI adalah karena PKI saat itu dipandang sebagai partai politik biasa. PKI bersaing, tapi juga bekerja sama dengan partai-partai lain. Para wakilnya di DPRD bekerja sama dengan wakil partai lain di dalam komisi.

Baca Juga: Operasi Militer di Blitar Selatan Pasca Pembunuhan 7 Jenderal

PKI juga mendukung konsep Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) Presiden Soekarno. Menerima PNI dan NU sebagai anggota sah dalam pemerintahan nasional. Banyak anggota PKI bersaudara dengan anggota partai lain, dan mereka bisa hidup berdampingan dengan orang yang berbeda ideologi.

Beredarnya kabar G30S tidak dengan sendirinya membuat masyarakat melihat anggota PKI sebagai unsur berbahaya yang harus dibunuh. Selain itu tidak adanya jaminan bebas dari tuntutan hukum jika melakukan sikap sewenang-wenang terhadap anggota dan simpatisan PKI, juga menjadi salah satu faktor.

Pada sisi lain PKI beserta ormas-ormasnya memiliki pengaruh kuat di masyarakat, baik dalam bidang seni, budaya, pertanian, perburuhan, dan sektor informal lainnya. Namun begitu pasukan RPKAD tiba di Semarang pada 18 Oktober 1965, situasi di masyarakat seketika berubah.

“Begitu RPKAD datang, situasi berubah drastis. Daerah-daerah yang awalnya tenteram tiba-tiba menjadi sangat mencekam,” demikian dikutip dari buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir.

Kekuatan satu batalyon yang terdiri dari beberapa kompi dikirim langsung dari Jakarta 17 Oktober 1965 dan tiba di Semarang 18 Oktober 1965 sekitar pukul 14.30 WIB. Dipimpin langsung oleh komandan RPKAD, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, pasukan sebelumnya bermalam di Desa Tanjung Kabupaten Brebes.

RPKAD memulai operasi dengan unjuk kekuatan mengelilingi kota Semarang. Setelah itu pada pukul 23.00 WIB menangkapi orang-orang yang disinyalir menjadi anggota atau simpatisan PKI dan diduga terlibat dalam peristiwa G30S 1965.

Semarang merupakan kota pertama dimulainya operasi penangkapan terhadap mereka yang menjadi anggota atau simpatisan PKI beserta ormas pendukungnya. RPKAD juga membentuk kesatuan aksi pemuda dan pelajar yang disebut KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia) dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).

“Operasi RPKAD ini kemudian bergerak meluas dan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu propinsi ke propinsi lain,” demikian dikutip dari buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir.(sa/edt)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: G30SG30S1965oktoberOktober 1965Pembersihan PKIPKIRPKADSemarang
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

RPKAD memulai operasi penangkapan di Semarang pada Oktober 1965

Oktober 1965, Bulan “Pembersihan”

Ilustrasi keracunan hajatan dan MBG. Foto: bacaini/AI

Dari Hajatan Warga sampai Dapur MBG, Sama-sama Punya Risiko Keracunan

17 warga Trenggalek sakit usai hajatan aqiqah di Desa Kedunglurah

17 Warga Trenggalek Sakit Usai Hajatan Aqiqah, Diduga Keracunan Makanan

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In