Bacaini.ID, JEMBER- Bupati Jember Muhammad Fawait tak lagi berangkat sendiri dengan mobil dinas. Dalam agenda “Bunga Desaku”, ia memilih naik kendaraan kolektif bersama jajaran OPD sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi energi.
Dalam kegiatan “Bunga Desaku” (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan), Senin–Selasa (6–7 April 2026), Gus Fawait tidak lagi menggunakan kendaraan dinas pribadi. Ia berangkat bersama kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dalam satu rombongan.
Para camat dan aparatur sipil negara (ASN) yang terlibat juga melakukan hal serupa. Mereka menuju lokasi kegiatan dengan tiga unit bus.
Gus Fawait menyebut, ini adalah kali pertama skema kendaraan kolektif diterapkan dalam agenda tersebut. Langkah ini, katanya, merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat terkait efisiensi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
“Presiden menyampaikan untuk kita melakukan efisiensi BBM. Kami mematuhi itu. Sekaligus kita terapkan lebih luas lagi, berangkatnya tidak sendiri-sendiri, tapi bareng-bareng,” ujarnya saat berangkat giat Bunga Desaku.
Menurut dia, efisiensi tidak berarti memangkas program. Yang ditekan adalah penggunaan energinya, bukan kegiatannya.
“Jangan sampai berpikir efisiensi lalu program dihapus. Bunga Desaku tetap jalan. Yang kita minimalisir itu penggunaan BBM dan hal-hal yang tidak perlu,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Fawait juga menegaskan bahwa “Bunga Desaku” bukan sekadar kunjungan atau sidak. Program ini dirancang untuk memindahkan layanan publik dari kota ke desa.
Pada agenda kali ini, layanan dipusatkan di Kecamatan Mumbulsari. Masyarakat bisa mengakses berbagai layanan, mulai dari pembuatan KTP, pasar murah, hingga program sosial lainnya.
“Masyarakat desa punya hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan. Itu yang kita bawa langsung ke kecamatan,” katanya.
Selain pelayanan, kegiatan ini juga menjadi ruang menyerap aspirasi warga, sosialisasi program, hingga upaya pengendalian inflasi dan kemiskinan.
Gus Fawait menekankan pentingnya memperlakukan masyarakat secara setara, termasuk dalam hal fasilitas dan perhatian pemerintah. “Rakyat juga harus diperlakukan dengan baik. Jangan hanya elit saja yang menikmati fasilitas,” ujarnya.
Ia juga melihat “Bunga Desaku” sebagai cara mendorong pemerataan ekonomi. Dengan menghadirkan pusat-pusat keramaian di kecamatan dan desa, aktivitas ekonomi tidak lagi menumpuk di kawasan kota. “Pertumbuhan ekonomi harus menyebar, tidak hanya di satu titik,” katanya.
Selain transportasi kolektif, Pemkab Jember juga tengah menyiapkan skema kerja dari rumah atau work from home (WFH) bagi ASN setiap Jumat, mengikuti arahan pemerintah pusat.
Saat ini, pemetaan masih dilakukan untuk memastikan kebijakan tersebut tidak mengganggu pelayanan publik.
“Kami sedang petakan. Mana yang bisa WFH, mana yang tidak. Yang jelas, pelayanan tidak boleh turun,” ujar Fawait.
Ia optimistis, pengalaman saat pandemi Covid-19 dan dukungan teknologi saat ini membuat skema kerja fleksibel tetap bisa berjalan tanpa mengurangi kualitas layanan.
Dengan kombinasi kebijakan ini, Pemkab Jember mencoba menerjemahkan efisiensi sebagai langkah konkret yakni menekan penggunaan energi, tanpa menghentikan pelayanan dan program yang menyentuh masyarakat. (meg/ADV)





