Bacaini.ID, JAKARTA – Bank investasi Morgan Stanley memperkirakan krisis pasokan bahan bakar solar (diesel) di Eropa akan terus memburuk hingga akhir tahun 2026. Ini terjadi akibat kombinasi gangguan pasokan global yang mengerek margin penyulingan ke level rekor sekaligus menekan persediaan ke titik terendah dalam lebih dari satu dekade.
Stok Diperkirakan Anjlok ke Titik Terendah Sejak 2015
Dalam riset yang dirilis 20 Juli 2026, analis Morgan Stanley yang dipimpin Martijn Rats memproyeksikan stok solar Eropa akan terus menurun mulai Agustus 2026 dan mencapai titik terendah sekitar 299 juta barel pada November 2026, yang merupakan level terendah untuk periode tersebut setidaknya sejak 2015
Sumber lain mencatat inventaris distilat di kawasan hub Amsterdam-Rotterdam-Antwerp bahkan telah jatuh ke level terendah sejak 2020.
Tekanan pada margin penyulingan solar di Eropa Barat Laut, yang dikenal sebagai crack spread, telah melonjak ke level rekor tertinggi, dengan kenaikan sekitar 170% dalam periode terbaru. Lonjakan margin ini mendorong kilang-kilang meningkatkan produksi dan menunda jadwal pemeliharaan, meski langkah tersebut berisiko memicu kegagalan operasional tak terduga di kemudian hari.
Rangkaian Gangguan yang Saling Bertumpuk
Morgan Stanley mengidentifikasi krisis ini dipicu terutama oleh kendala pada proses penyulingan, bukan sekadar ketersediaan minyak mentah — ditambah beberapa kargo minyak Afrika yang belum terjual dan kondisi pasar contango yang bearish di sebagian pasar.
Penyebab utama lain yang teridentifikasi menjadi pemicu krisis adalah:
– Penurunan pengolahan minyak mentah di China, yang mengurangi volume solar yang tersedia secara global untuk dialirkan ke Barat;
– Berkurangnya ketergantungan pada impor minyak Rusia menyusul larangan Uni Eropa terhadap produk minyak Rusia yang berlaku sejak 2023;
– Pergeseran jalur perdagangan — pada paruh pertama 2025, impor diesel dan gas oil dari Timur Tengah menyumbang 43% dari total impor Eropa, sementara kapasitas ekspor penyulingan di kawasan itu sendiri menghadapi gangguan geopolitik.
Larangan Ekspor Rusia Memperparah Tekanan
Krisis ini diperburuk oleh langkah Rusia yang memberlakukan larangan penuh ekspor solar pada 8–10 Juli 2026, diumumkan Wakil Perdana Menteri Alexander Novak dalam rapat pemerintah bersama Presiden Vladimir Putin, berlaku hingga 31 Juli 2026.
Larangan ini dipicu oleh serangan drone Ukraina terhadap sejumlah kilang minyak Rusia:
– 6 Juli 2026 — drone menghantam kilang terbesar di Omsk, menimbulkan kebakaran;
– 2 Juli 2026 — drone menyerang kilang NORSI milik Lukoil (kilang keempat terbesar Rusia), menghentikan unit pengolahan utama (CDU-6) yang biasanya memproses sekitar 190.000 barel per hari — 53% dari kapasitas kilang tersebut;
– Serangan serupa turut dilaporkan di Krasnodar, Yaroslavl, Ufa, Moskwa, dan Samara, mengganggu produksi jutaan ton solar dan bensin per tahun.
Dampaknya terasa hingga ke dalam negeri Rusia sendiri: harga solar dan bensin naik, antrean panjang terjadi di SPBU, dan Rusia terpaksa mulai mengimpor bensin lewat jalur laut dari India untuk menutup kekurangan. Novak juga menyebut Rusia akan mulai mengimpor produk minyak bumi pada Juli untuk menyeimbangkan pasokan domestik.
Skala penurunannya signifikan: ekspor solar Rusia anjlok dari 842.000 barel per hari pada Juli 2021 menjadi hanya 214.000 barel per hari pada periode 1–8 Juli 2026. Kapasitas pengolahan minyak mentah Rusia turun 25% pada Juni 2026 menjadi 3,95 juta barel per hari — level terendah dalam lebih dari dua dekade, mengganggu sekitar seperempat dari total kapasitas penyulingan negara itu yang mencapai sekitar 7 juta barel per hari.
Begitu larangan diumumkan, margin harga solar acuan Eropa langsung melonjak ke rekor 60,17 dolar AS per barel.
Selat Hormuz Menambah Tekanan Global
Faktor lain yang memperparah kondisi adalah belum pulihnya distribusi minyak dari Teluk pasca-penutupan Selat Hormuz akibat perang Iran, yang telah menguras cadangan minyak di sejumlah negara. Kombinasi gangguan Selat Hormuz dan larangan ekspor solar Rusia memperburuk kekurangan bahan bakar global sekaligus meningkatkan persaingan perebutan suplai minyak dari Pantai Teluk Amerika Serikat dan wilayah timur Terusan Suez.
Peringatan Morgan Stanley soal Harga
Meski kondisi pasokan yang ketat, Morgan Stanley memperingatkan bahwa dampaknya sudah tercermin dalam harga pasar. Para analis menyarankan investor untuk tidak berharap kenaikan harga lebih lanjut, karena pasar dinilai “sudah menetap dengan harga penuh” — sehingga tidak disarankan mengejar posisi dengan asumsi harga akan turun.
Kenaikan tajam margin penyulingan dan penurunan persediaan diproyeksikan mendorong harga diesel naik lebih jauh, yang pada gilirannya berpotensi menaikkan biaya transportasi dan produksi barang di Eropa — menambah tekanan inflasi yang dapat memaksa bank sentral Eropa (ECB) mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan suku bunga.
Penulis: Danny Wibisono
*)Kepala Litbang Bacaini.id




