Bacaini.ID, KEDIRI — Presiden Prabowo Subianto memiliki weton Rabu Pon, sedangkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kamis Legi.
Dalam tradisi Jawa, weton tidak sekadar penanda hari kelahiran. Perpaduan antara tujuh hari dalam kalender Masehi dan lima pasaran Jawa—Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon—dipercaya membentuk karakter dasar seseorang.
Konsep ini tercatat dalam berbagai naskah primbon Jawa yang sejak lama digunakan masyarakat untuk membaca watak, kecenderungan sifat, hingga potensi kehidupan seseorang.
Meski sering dikaitkan dengan urusan jodoh atau hari baik, sebagian orang juga melihat weton sebagai cara memahami kecenderungan peran seseorang dalam masyarakat, termasuk dalam kehidupan sosial dan politik.
Baca Juga:
- Cerita Pangreh Praja yang Berwatak Oportunis Sejak Era Kolonial
- Penjelasan Kepribadian Ambivert, Antara Introvert dan Ekstrovert
- Inilah Profil Taipan Yang Ikut Presiden Prabowo ke China
Legi: Komunikatif dan Mudah Mendekatkan Orang
Dalam primbon Jawa, orang yang lahir dengan pasaran Legi sering digambarkan memiliki sifat ramah, komunikatif, dan mudah bergaul.
Karakter ini membuat mereka cenderung mampu membangun relasi dengan banyak orang. Dalam kehidupan sosial, tipe Legi sering dianggap cocok menjadi juru bicara, mediator, atau sosok yang menjembatani perbedaan pandangan.
Di ruang publik, kemampuan komunikasi tersebut bisa muncul dalam bentuk kemampuan menyampaikan gagasan atau menjelaskan isu yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami.
Pahing: Tegas dan Berprinsip
Pasaran Pahing dalam primbon sering dikaitkan dengan karakter yang kuat, tegas, dan memiliki prinsip. Orang dengan weton ini kerap digambarkan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan dari luar. Mereka cenderung berani mengambil sikap dan mempertahankan pendapat.
Pahing dalam politik merupakan sosok ‘Petarung Berwibawa’. Mereka memiliki energi merah (api) yang melambangkan keberanian, ambisi, dan kemauan keras untuk menang.
Sifat ini sering diasosiasikan dengan peran sebagai pengkritik kebijakan atau sosok yang berani bersuara ketika melihat ketidakadilan.
Pon: Pekerja Keras dan Terorganisir
Weton dengan pasaran Pon biasanya digambarkan memiliki sifat tekun dan pekerja keras. Primbon Jawa menyebut orang Pon sering memiliki kemampuan mengatur pekerjaan dengan rapi dan sistematis. Mereka cenderung fokus pada hasil serta konsisten menjalankan tugas.
Dalam kehidupan sosial, karakter ini sering dikaitkan dengan peran penggerak organisasi, pengelola kegiatan, atau orang yang memastikan sebuah sistem berjalan dengan baik.
Pon merupakan weton yang mengandalkan intelektualitas, strategi, dan wibawa tenang untuk berkuasa.
Wage: Tenang dan Penuh Pertimbangan
Orang dengan pasaran Wage kerap digambarkan memiliki sifat tenang, hati-hati, dan penuh pertimbangan.
Mereka biasanya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dan lebih memilih memahami situasi secara menyeluruh terlebih dahulu.
Dalam kehidupan bermasyarakat, sifat ini sering terlihat pada orang yang menjaga keseimbangan diskusi atau membantu meredakan konflik ketika perdebatan mulai memanas.
Wage juga merupakan eksekutor yang sangat teliti, hemat bicara, namun hasilnya nyata. Dalam primbon, Wage digambarkan dengan watak Prabuan, seperti penguasa yang kaku, namun memiliki elemen Tanah, yang berarti kuat, teguh, dan berpijak pada realita.
Kliwon: Intuitif dan Berpengaruh
Pasaran Kliwon dalam primbon Jawa sering dikaitkan dengan karakter yang kuat secara batin dan memiliki intuisi tajam. Orang dengan weton ini kerap dianggap memiliki kharisma yang membuat pendapatnya didengar oleh orang lain.
Dalam konteks sosial, mereka sering muncul sebagai figur yang mampu memengaruhi arah diskusi atau menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.
Pemilik weton ini memiliki intuisi yang kuat dalam membaca arah angin politik dan niat orang lain. Mereka sering kali memiliki ‘daya pikat’ mistis atau kharisma yang membuat massa fanatik secara sukarela.
Tradisi Lama yang Masih Berlaku Hingga Kini
Di era modern, banyak orang melihat weton sebagai bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dipahami.
Meski tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang menentukan nasib seseorang secara mutlak, konsep ini tetap mencerminkan cara masyarakat Jawa memahami kepribadian dan hubungan antar manusia.
Hingga kini, praktik membedah weton para pemimpin bangsa masih sering dilakukan. Menghubungkan kebijakan pemimpin dengan weton mereka, menjadi salah satu yang paling banyak dilakukan baik oleh masyarakat awam maupun orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan ‘membaca’ primbon.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





