Bacaini.ID, KEDIRI — Media sosial diramaikan atau viral dengan postingan perbandingan antara menu MBG di bulan Ramadan dengan menu sesaji atau sajen masyarakat adat Nusantara.
Kandungan gizi menu MBG yang dibuat oleh SPPG di bulan Ramadan, diadu dengan menu sajen yang beraneka rupa dan disebut warganet lebih bergizi.
Warganet membandingkan menu sajen yang oleh sebagian orang disebut ‘makanan demit’ dengan menu MBG di bulan Ramadan yang sangat minimalis dan banyak diprotes.
Baca Juga:
- Menu MBG SMAN 1 Kota Blitar Disebut Asal-asalan dan Tak Layak Rp10 Ribu
- Mau Coba Frugal Living di Blitar, Tapi Diganggu MBG
Sajen atau sesaji merupakan praktik tradisi masyarakat Nusantara yang seringkali disalahpahami sebagai sekadar ritual mistis.
Bagi masyarakat adat, sajen bukan sekadar tumpukan makanan dengan dupa atau lilin, melainkan sebuah ‘bahasa simbol’ yang menghubungkan dimensi manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos).
Antropolog Clifford Geertz dalam The Religion of Java, menggarisbawahi inti dari praktik tradisi ini adalah ‘Slametan’.
Geertz menjelaskan bahwa sajen berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keadaan slamet, sebuah kondisi psikologis dan spiritual di mana tidak ada pertentangan, kecemasan, atau gangguan, baik dari alam nyata maupun gaib.
Filosofi Sajen Nusantara dan Makna Materialnya
Tradisi sajen berakar pada kepercayaan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam. Hal ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana di Bali atau Memayu Hayuning Bawana di Jawa.
Menurut Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa, sajen merupakan bentuk visual dari doa. Di dalamnya, terdapat pengakuan bahwa keberhasilan panen atau keselamatan keluarga bukan semata-mata hasil kerja keras manusia, melainkan ada restu dari Sang Pencipta dan ‘penjaga’ alam.
Secara etimologis, saji berarti menghidangkan. Ini adalah bentuk penghormatan (ngajeni). Menyajikan sajen bukan berarti memberi makan makhluk gaib dalam arti harfiah, melainkan sebuah simbol pengorbanan dan wujud fisik syukur atas hasil bumi atau keberhasilan yang telah dinikmati.
Setiap elemen dalam sajen dipilih dengan ketelitian filosofis yang tinggi khas masyarakat adat. Rujukan pada berbagai penelitian etnografi menunjukkan bahwa elemen-elemen ini merupakan representasi dari kehidupan manusia.
Berikut makna dibalik sajian aneka rupa hidangan sajen masyarakat adat yang dianggap lebih bergizi daripada menu MBG:
• Nasi Tumpeng: Komunikasi Vertikal
Dalam sajen, nasi biasanya dibentuk mengerucut atau berbentuk tumpeng dengan nasi putih atau nasi kuning. Ini melambangkan gunung, yang dalam kosmologi Nusantara dianggap sebagai tempat suci.
Bentuk yang mengecil ke atas adalah simbol tauhid atau pemujaan kepada Yang Maha Esa. Hubungan manusia secara vertikal, dengan Yang Maha Kuasa.
Suhardi dalam Sajen Pertanian di Jawa, mencatat bahwa warna kuning pada tumpeng adalah simbol kemuliaan, sedangkan putih adalah kesucian.
• Pisang Raja: Martabat dan Kebermanfaatan
Pisang raja sesisir hampir selalu hadir. Secara simbolis, pisang raja dipilih agar orang yang menyajikan memiliki derajat yang tinggi.
Secara biologis, pohon pisang hanya berbuah sekali lalu mati, melambangkan tekad manusia untuk memberikan warisan kebaikan (amal) sebelum ajalnya tiba.
• Kembang Setaman: Keharuman Budi
Bunga mawar, melati, dan kenanga bukan sekadar pengharum. Mawar (awar-awar) bermakna agar hati selalu tawar dari hawa nafsu. Melati (rasa jati) berarti ketulusan hati. Sementara bunga Kantil (kemantil) melambangkan ingatan yang selalu terpaut pada sang pencipta dan leluhur.
Sajen Menjadi Budaya Masyarakat yang Memiliki Nilai Ekologis
Alih-alih berfokus pada hal mistis dibalik sajen, masyarakat adat secara turun temurun secara alamiah menjadi penjaga keseimbangan alam melalui sajen.
Sajen lazim diletakkan di mata air (belik) atau di bawah pohon besar. Tempat-tempat yang dianggap mistis namun sebenarnya memiliki tujuan lebih dari sekedar ‘memberi makan demit’.
Praktik ini secara tidak langsung menciptakan sistem proteksi alam. Dengan menganggap suatu tempat sebagai area keramat yang perlu diberi sajen, masyarakat adat secara otomatis melarang penebangan pohon atau pencemaran sumber air di area tersebut.
Data dari berbagai studi lingkungan menunjukkan bahwa area yang dikeramatkan secara adat sering kali memiliki biodiversitas yang lebih tinggi.
Di Jawa Barat, misalnya, konsep Hutan Larangan yang dijaga dengan ritual sesaji terbukti efektif mencegah longsor dan menjaga debit air tanah tetap stabil dibandingkan area yang dikelola secara komersial.
Atau misal sajen yang diletakkan di tempat-tempat dianggap seringkali terjadi kecelakaan, seperti misal di perempatan jalan, rel kereta api dan lainnya, secara otomatis membuat warga yang melewati tempat tersebut menjadi lebih waspada.
Makna Filosofis di Balik Elemen Sajen
Seiring masuknya agama-agama besar, sajen mengalami proses sinkretisme. Di Bali, sebagaimana dijelaskan oleh I Ketut Wiana dalam Makna Sesaji dalam Hindu, sesaji atau Banten adalah bagian dari peribadatan harian yang merepresentasikan seluruh isi alam semesta dalam bentuk kecil.
Sementara dalam masyarakat Islam di Nusantara, sajen bertransformasi menjadi elemen dalam tradisi kenduri. Makanan yang disajikan tetap memiliki simbolisme lama, namun esensinya diubah menjadi sedekah.
Sajen bukan lagi hanya menjadi ‘makanan demit’ penunggu tempat-tempat wingit, namun juga menjadi representasi doa-doa yang dipanjatkan sesuai kepercayaan agama tanpa membuang akar identitasnya.
Dari Ritual ke Ekonomi Kerakyatan
Di Bali, sajen atau Banten bukan sekedar urusan ritual keagamaan, namun juga menjadi motor penggerak ekonomi mikro yang masif.
Di pasar-pasar tradisional, sektor penjualan bunga tabur, janur, ayam kampung, dan pisang raja tetap bertahan karena adanya kebutuhan rutin untuk sajen.
Bahkan kebutuhan yang tinggi pada sajen tak hanya menguntungkan secara ekonomi masyarakat sekitar, namun juga masyarakat daerah lain yang menjadi supplier bahan-bahan untuk sajen.
Tradisi spiritual mendukung keberlangsungan hidup para petani kecil dan pedagang tradisional. Identitas budaya menjadi kekuatan ekonomi.
Secara umum, tradisi membuat sajen di berbagai daerah di seluruh Nusantara secara tak langsung juga menghidupkan berbagai sektor usaha rakyat.
Produsen dupa, lilin, kemenyan, peternak ayam kampung, petani bunga bahkan penjual daun pisang, turut ‘kecipratan’ rezeki dari tradisi sajen.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





