Bacaini.ID, KEDIRI – Banyak yang mengira Lontong Cap Go Meh berasal dari Tiongkok. Faktanya, hidangan ini justru lahir di Indonesia sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Disajikan saat perayaan Cap Go Meh yang menjadi puncak rangkaian Tahun Baru Imlek, lontong cap go meh menyimpan sejarah panjang serta makna filosofis di setiap sajiannya.
Puncak perayaan Imlek, Cap Go Meh, jatuh pada hari Selasa 3 Maret 2026. Secara tradisi, perayaan ini dilakukan tepat 15 hari setelah Tahun Baru Imlek, yang tahun ini jatuh pada 17 Februari, sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian perayaan tahun baru.
Beberapa kota di Indonesia telah memulai festival lebih awal. Misalnya, puncak acara di Pulau Kemaro, Palembang berlangsung pada 1 Maret lalu, sementara kirab budaya di Bekasi dan berbagai daerah lainnya diadakan tepat pada 3 Maret 2026.
Baca Juga:
Perayaan Imlek tahun ini tergolong unik karena bertepatan dengan masa menjelang bulan Ramadan, sehingga di beberapa daerah seperti Padang, bazar perayaan digabung dengan nuansa Ramadan.
Cap Go Meh memiliki satu hidangan ikonik khas peranakan Tionghoa Indonesia: Lontong Cap Go Meh.
Di Tiongkok, hidangan khas untuk menutup Imlek adalah Yuanxiao atau Tangyuan. Lontong Cap Go Meh muncul sebagai hasil akulturasi budaya yang memiliki nilai historis.
Asal-usul Lontong Cap Go Meh: Hidangan Ikonik Hasil Akulturasi Budaya
Lontong Cap Go Meh merupakan hidangan yang murni datang dari fenomena Peranakan Tionghoa-Jawa dan tidak ditemukan di Tiongkok maupun komunitas Tionghoa negara lain seperti Malaysia atau Singapura.
Tradisi Tionghoa dan Jawa, terasa sangat kental dalam hidangan ini. Lontong Cap Go Meh tercipta, bermula dari para pendatang laki-laki asal Tiongkok yang menikah dengan perempuan lokal.
Pernikahan campuran ini, menyatukan dua budaya berbeda tak terkecuali soal makanan. Sama seperti hidangan khas Imlek lainnya yang memiliki makna filosofis, lontong cap go meh juga mengandung arti dalam setiap komposisi atau kondimennya.
Lontong cap go meh berisi: lontong, opor ayam, sayur lodeh labu siam, sambal goreng ati, telur pindang, bubuk koya dan pelengkap lainnya seperti sambal, acar dan kerupuk udang.
Konon, lontong digunakan untuk mengganti hidangan khas asli Cap Go Meh yuanxiao, bola nasi ketan atau bubur putih. Pada masyarakat Jawa, bubur dianggap sebagai makanan orang sakit, karenanya kemudian diganti dengan lontong.
Bentuk lontong yang panjang dianggap melambangkan panjang umur. Sementara telur di lontong Cap Go Meh melambangkan keberuntungan.
Kuah santan yang dibumbui dengan kunyit berwarna keemasan melambangkan emas dan keberuntungan, simbol kemakmuran dan kekayaan.
Wadah penyajian lontong Cap Go Meh harus terisi penuh, menjulang tinggi, dengan berbagai lauk dan kuah yang melimpah. Sajian hidangan yang penuh ini menandakan doa dan harapan untuk rezeki yang melimpah.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





