Bacaini.ID, KEDIRI – Maya sebenarnya ingin tidur lebih awal malam itu. Seharian ia bekerja, masih harus mengurus rumah, membalas pesan keluarga, dan memastikan kebutuhan anaknya beres. Ketika seorang teman mengajaknya bertemu, ia ingin mengatakan tidak.
Tapi kalimat yang keluar justru, “Ya sudah, aku ikut.”
Bukan karena Maya tidak lelah. Ia hanya merasa tidak enak jika menolak.
Kisah seperti Maya mungkin terasa akrab bagi banyak perempuan. Ada yang sulit mengatakan tidak kepada teman, merasa bersalah ketika mengambil waktu untuk diri sendiri, atau tetap membantu orang lain meski sebenarnya sedang kehabisan tenaga.
Yang sering menjadi persoalan bukan ketidakmampuan mengatakan “tidak”, melainkan rasa bersalah setelah mengatakannya.
Perempuan sejak lama kerap ditempatkan dalam peran sebagai sosok yang pengertian, penyabar dan mampu mengurus banyak hal sekaligus. Akibatnya, memenuhi kebutuhan orang lain bisa terasa seperti kewajiban, sementara memenuhi kebutuhan diri sendiri justru dianggap egois.
Psikolog Klinis Adelia Octavia Siswoyo, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa perempuan tetap berhak memiliki boundaries atau batasan dalam relasi. Mendampingi dan memperhatikan orang lain tidak berarti harus mengesampingkan kebutuhan serta pertumbuhan diri sendiri.
Hal serupa juga dijelaskan psikolog Andi Cahyadi. Menurutnya, mengatakan “tidak” bukan berarti seseorang menjadi tidak peduli. Menjaga batas kemampuan diri merupakan bagian dari menjaga kesehatan mental.
Itulah yang sering dilupakan.
Memilih beristirahat setelah bekerja seharian bukan berarti tidak peduli keluarga. Menolak pekerjaan tambahan karena sudah terlalu lelah bukan berarti malas. Menghabiskan waktu sendirian bukan berarti menjauh dari orang-orang yang disayangi.
Ada perbedaan antara egois dan menjaga batas diri. Egois berarti hanya memikirkan kepentingan sendiri tanpa mempertimbangkan orang lain. Sementara memiliki batas berarti menyadari bahwa tenaga, waktu dan perasaan kita juga memiliki batas.
Mungkin karena itu, perempuan tidak perlu buru-buru merasa bersalah ketika mulai berkata, “Tidak kali ini.”
Orang lain mungkin kecewa. Itu bisa terjadi. Tetapi perasaan orang lain bukan seluruhnya menjadi tanggung jawab kita.
Seperti Maya, mungkin yang perlu dipelajari bukan bagaimana selalu menyenangkan semua orang, melainkan bagaimana tetap menjadi perempuan yang peduli tanpa harus terus-menerus mengorbankan dirinya.
Sebab memilih diri sendiri sesekali bukan bentuk keegoisan. Kadang, itu justru bentuk paling sederhana dari menghargai diri sendiri. (htw/edt)




