Bacaini.id, TRENGGALEK – Kenaikan harga bahan pokok menjelang Bulan Ramadan 2026 mulai menekan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Trenggalek. Cabe rawit dan ayam potong paling drastis kenaikannya.
Kondisi ini memaksa pelaku UMKM mencari cara bertahan tanpa membebani pelanggan di tengah daya beli yang sensitif. Pasalnya, cabe rawit dan ayam potong menjadi bahan baku paling banyak dibutuhkan pedagang kuliner.
Aji Sulistyono, pedagang makanan di Pasar Pon Trrenggalek harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Dalam sepekan terakhir, harga cabai rawit melonjak hingga Rp92 ribu per kilogram, naik tajam dari kisaran Rp75 ribu–Rp80 ribu per kilogram.
“Menjelang Ramadan ini ada beberapa bahan makanan yang naik. Salah satunya cabai rawit. Sekarang sudah Rp92 ribu per kilogram,” ujar Aji saat ditemui di lapaknya, Sabtu, 14 Februari 2026.
Menurutnya, cabai rawit memegang peran penting karena menentukan cita rasa osengan yang dijual. Kenaikan harga ini menjadi tantangan serius karena pelanggan sangat sensitif terhadap perubahan rasa maupun harga.
Untuk menyiasati lonjakan biaya, Aji mencampur cabai rawit dengan cabai keriting merah yang harganya relatif lebih rendah, sekitar Rp35 ribu per kilogram. Strategi ini dilakukan agar tingkat kepedasan masih terjaga meski tidak sekuat jika menggunakan rawit sepenuhnya.
“Kalau pakai rawit semua rasanya memang lebih enak, tapi biaya jadi terlalu tinggi dan kami bisa rugi,” katanya.
Aji juga menegaskan tidak menggunakan cabai kering sebagai alternatif. Selain menjaga kualitas rasa, ia menilai sebagian konsumen kurang cocok dengan cabai kering dan berisiko menimbulkan gangguan pencernaan.
Tak hanya cabai, harga ayam potong juga ikut naik. Dalam periode yang sama, harga ayam meningkat dari Rp35 ribu–Rp38 ribu menjadi sekitar Rp40 ribu per kilogram.
Kenaikan ganda ini mempersempit ruang gerak UMKM karena menaikkan harga menu dinilai berisiko menurunkan minat beli. Meski demikian, Aji memilih bertahan tanpa menaikkan harga jual. Ia berharap lonjakan harga tidak berlangsung lama.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, harga bahan pokok biasanya mulai turun pada pertengahan Ramadan sebelum kembali naik mendekati Hari Raya.
Penulis: Aby Kurniawan
Editor: Hari Tri Wasono





