
Maka ada kemungkinan sebagian anak muda sebenarnya tidak sedang membaca Tan Malaka. Mereka sedang membaca versi algoritma tentang Tan Malaka. Dan itu dua hal yang berbeda.
Tetapi Bukankah Itu Tetap Awal yang Baik?
Tidak selalu harus dianggap buruk. Setiap generasi memiliki pintu masuknya sendiri terhadap pengetahuan.
Dulu orang menemukan tokoh melalui buku. Sekarang seseorang bisa menemukannya melalui layar ponsel.
Yang penting adalah apa yang terjadi setelah rasa penasaran itu muncul. Apakah berhenti pada kutipan? Atau kemudian mencari bukunya? Apakah cukup dengan menonton video? Atau mulai membaca pemikirannya? Apakah Tan Malaka hanya menjadi estetika “anak muda yang kritis”?
Atau benar-benar membuat seseorang tertarik memahami sejarah, politik, filsafat, dan gagasan tentang Indonesia? Di situlah ukuran sebenarnya.
Mungkin selama ini kita terlalu cepat mengatakan bahwa Gen Z tidak suka membaca. Bisa jadi mereka hanya menemukan buku dengan cara yang berbeda.
Mereka menemukan nama melalui media sosial, kemudian mencari informasi melalui mesin pencari, menonton video, mendengarkan podcast, membaca ulasan, dan pada akhirnya, bagi sebagian orang, baru membuka bukunya.
Jadi, masalahnya bukan selalu apakah Gen Z membaca atau tidak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah, apa yang membuat mereka ingin membaca?
Tan Malaka mungkin salah satu jawabannya.
Seorang tokoh sejarah yang kehidupannya penuh konflik, pemikiran, perjalanan dan misteri ternyata masih bisa memancing rasa penasaran generasi yang lahir jauh setelah ia meninggal.
Tetapi ada satu pekerjaan rumah. Jangan sampai Gen Z hanya mengenal “Tan Malaka yang viral”, tanpa pernah berusaha mengenal Tan Malaka yang sebenarnya. Sebab membaca seorang tokoh bukan sekadar menghafal kutipannya.
Membaca Tan Malaka berarti berani masuk ke gagasan yang mungkin jauh lebih rumit daripada satu menit video di layar ponsel. Dan mungkin justru di situlah menariknya.
Algoritma boleh menjadi pintu masuk. Tetapi untuk benar-benar mengenal Tan Malaka, pada akhirnya kita tetap harus membuka pintu berikutnya, yaitu buku. (htw/edt)



