Bacaini.ID, KEDIRI – Sinkhole misterius muncul di sebuah area persawahan warga Desa Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuh Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar). Keberadaanya menjadi wisata dadakan.
Sinkhole yang dikabarkan terbentuk sejak Minggu (4/1) lalu ini awalnya berupa tanah amblas yang membentuk lubang berdiameter sekitar 20 meter dengan kedalaman kurang lebih 15 meter.
Beberapa hari setelahnya, sinkhole dibanjiri air berwarna biru toska hingga menyerupai danau kecil.
Fenomena sinkhole ini viral di media sosial dan semakin membuat banyak orang penasaran hingga dikunjungi masyarakat bahkan dari luar wilayah Kabupaten Limapuluh Kota.
Baca Juga: Fenomena La Nina Ancam Bencana Longsor di Jawa Timur
Apa Itu Fenomena Sinkhole?
Sinkhole dapat diterjemahkan sebagai amblasan atau lubang runtuhan yang merupakan depresi (keruntuhan atau kemerosotan) permukaan tanah yang disebabkan oleh runtuhnya lapisan permukaan.
Dikutip dari Tensar, meskipun sinkhole merupakan fenomena alam, seringkali lubang runtuhan ini dipicu atau dipercepat oleh aktivitas manusia seperti konstruksi, pengembangan lahan, praktik pengelolaan air, dan kegiatan pertambangan.
Secara natural, sinkhole terbentuk akibat proses alami yang menghilangkan batuan di bawah lapisan permukaan. Jika batuan dasarnya berupa batu gamping, karbonat lainnya, lapisan garam, atau batuan larut lainnya, seperti gipsum, air tanah yang meresap melalui retakan dapat melarutkan batuan tersebut.
Pemicu terjadinya sinkhole ini dapat berupa curah hujan yang deras, perubahan drainase permukaan dan tekanan pori, kosongnya air tanah karena dieksploitasi, atau bahkan irigasi yang berlebihan.
Peristiwa-peristiwa tersebut menjenuhkan dan melemahkan lapisan permukaan, yang menyebabkan sinkhole.
Baca Juga: Brain Drain Lagi Tren, Fenomena Pindah Negara dengan Segala Imbasnya
Fenomena Sinkhole Sumatera Barat Karena Apa?
Menurut Badan Geologi, sinkhole yang terjadi di Sumatera Barat tidak terjadi secara tiba-tiba. Namun merupakan proses erosi buluh atau pengikisan tanah oleh aliran bawah tanah permukaan yang terjadi sejak lama.
Lapisan batuan yang ada di lokasi tersebut, memiliki tekstur halus dan mengandung mineral lempung, dengan bagian bawah berupa batu gamping malihan yang bersifat kedap air. Ini memicu aliran air tertahan dan menggerus lapisan tanah di atasnya.
Selain faktor jenis batuan, intensitas curah hujan yang relatif tinggi di wilayah tersebut, yakni sekitar 2000–2500 milimeter per tahun, diduga turut mempercepat proses erosi bawah permukaan yang memicu amblesan.
Penanganan Sinkhole Tak Hanya Soal Menutup Lubang
Menurut Dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo S.T., M.Eng., IPM. di situs resmi Universitas Gadjah Mada, penanganan sinkhole bukan hanya soal menutup lubang, namun juga mengelola air, memperkuat tanah, dan melibatkan masyarakat dalam kewaspadaan.
Stabilisasi tanah dapat dilakukan dengan pengisian material padat maupun teknik grouting, penyuntikan semen cair ke dalam rongga.
Langkah lain yang bisa dilakukan adalah perbaikan drainase dan aliran air, serta rekayasa struktur penguatan pondasi.
Fenomena sinkhole memang sulit dicegah namun dampaknya dapat diminimalkan. Tanda-tanda awal bisa berupa permukaan tanah retak dan turun perlahan, bangunan atau pohon miring bergeser, perubahan aliran air, hingga munculnya lubang kecil.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif






Comments 1