Bacaini.ID, KEDIRI — Penyakit ginjal kronis (PGK) kini bukan lagi monopoli lansia. Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit ginjal semakin meningkat atau jadi tren pada usia muda bahkan anak-anak.
Orang-orang di usia produktif, yang tampak sehat, tidak merokok maupun minum alkohol, dan memiliki gaya hidup ‘lurus-lurus saja’, tiba-tiba didiagnosis gagal ginjal stadium akhir.
Baca Juga:
- Ini Takjil Sehat Ramah Gula Darah, Pengidap Diabetes Perlu Mencoba
- Penyakit Diabetes Incar Pelajar SMP – SMA di Indonesia
Berdasarkan data dari Global Burden of Disease, terjadi peningkatan insidensi Penyakit Ginjal Kronis (PGK) sebesar 15-20% pada kelompok usia 15–39 tahun dalam satu dekade terakhir.
Sementara di Indonesia, laporan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menunjukkan peningkatan kasus Gangguan Ginjal Akut (GGA) dan Kronis pada anak.
Estimasi prevalensi gagal ginjal kronis pada anak mencapai 18,5 per satu juta anak.
Angka ini merupakan estimasi ‘dasar’. Namun, banyak ahli meyakini angka aslinya di lapangan jauh lebih tinggi karena penyakit ginjal stadium awal sering kali tidak menunjukkan gejala (underdiagnosed).
Data dari Global Burden of Disease menunjukkan bahwa penyakit ginjal kini masuk dalam daftar penyebab kematian dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Berikut beberapa fakta medis tentang ginjal dan masalahnya:
Anatomi Masalah: Mengapa Ginjal Sangat Rentan?
Ginjal adalah organ penyaring yang sangat canggih. Setiap hari, sepasang ginjal memproses sekitar 200 liter darah untuk menyaring limbah dan kelebihan air.
Namun, ginjal memiliki satu kelemahan fatal: ia tidak memiliki saraf perasa sakit di unit penyaringnya (nefron). Artinya, ketika terjadi kerusakan kecil, tubuh tidak mengirimkan sinyal rasa sakit.
Kerusakan ginjal bersifat akumulatif. Seseorang bisa kehilangan hingga 80% fungsi ginjalnya tanpa merasakan gejala yang berarti. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa ‘mendadak’ sakit, padahal proses kerusakannya sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Akar Masalah: Diabetes, Hipertensi, dan Obesitas
Meskipun seseorang tidak merokok, ada tiga faktor utama yang secara statistik menjadi penyebab lebih dari 70% kasus gagal ginjal di dunia:
• Diabetes Melitus (Kencing Manis)
Banyak orang merasa sehat karena tidak pernah cek gula darah. Padahal, kadar gula darah yang tinggi secara kronis bertindak layaknya ‘ampelas’ yang mengikis pembuluh darah halus di ginjal.
Di Indonesia, angka diabetes yang belum terdiagnosis sangat tinggi, yang menjelaskan mengapa banyak orang kaget saat ginjal mereka dinyatakan rusak.
• Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Hipertensi sering disebut sebagai The Silent Killer. Tekanan darah yang tinggi memaksa jantung memompa darah lebih keras, yang pada akhirnya merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Jika pembuluh darah ini rusak, ginjal tidak lagi bisa membuang limbah dari tubuh.
• Obesitas Sentral
Lemak perut bukan sekadar masalah penampilan. Lemak viseral memicu peradangan sistemik yang merusak organ dalam, termasuk ginjal.
Obesitas juga memaksa ginjal bekerja ekstra keras (hiperfiltrasi) untuk menyaring darah bagi massa tubuh yang lebih besar.
Bahaya Tersembunyi: Ultra-Processed Food dan Garam Berlebih
Salah satu alasan mengapa orang yang terlihat hidup sehat tetap terkena penyakit ginjal adalah konsumsi Ultra-Processed Food (UPF) atau makanan olahan tinggi.
• Natrium Tersembunyi
Mungkin tidak banyak menaburkan garam di masakan, tetapi makanan kemasan, bumbu instan, saus, dan makanan kaleng mengandung natrium (sodium) yang sangat tinggi sebagai pengawet.
Natrium berlebih menarik air ke dalam pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah, dan membebani ginjal.
• Fruktosa Tinggi
Minuman kekinian (boba, kopi susu gula aren, soda) mengandung sirup jagung tinggi fruktosa. Fruktosa dimetabolisme di hati dan menghasilkan asam urat sebagai produk sampingan. Asam urat yang tinggi secara kronis akan mengkristal dan merusak tubulus ginjal.
Polusi Obat: Penggunaan NSAID dan Suplemen Tanpa Pengawasan
Ini adalah faktor yang sering diabaikan oleh mereka yang merasa hidupnya sehat. Penggunaan obat pereda nyeri golongan NSAID (seperti Ibuprofen, Diklofenak, atau Naproxen) secara rutin untuk mengatasi pegal linu, sakit kepala, atau nyeri sendi dapat menyebabkan nefropati analgesik.
Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat prostaglandin, zat yang membantu memperlebar pembuluh darah di ginjal.
Jika dikonsumsi berlebihan atau saat tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), aliran darah ke ginjal akan berkurang drastis, menyebabkan kematian sel ginjal secara perlahan.
Selain itu, tren suplemen diet, pemutih kulit instan, atau jamu ‘oplosan’ yang mengandung bahan kimia obat (BKO) seringkali menjadi racun langsung bagi nefron ginjal.
Dehidrasi Kronis dan Gaya Hidup Sedenter
Dunia modern membuat orang lebih banyak duduk di depan layar dalam ruangan ber-AC. Kondisi ini seringkali membuat lupa minum atau merasa tidak haus karena tidak berkeringat.
• Dehidrasi Kronis
Urin yang terlalu pekat karena kurang minum meningkatkan risiko terbentuknya batu ginjal. Batu ginjal yang menyumbat saluran urin dapat menyebabkan tekanan balik ke ginjal (hidronefrosis) yang berujung pada kerusakan permanen.
• Kurang Gerak
Gaya hidup kurang gerak menurunkan metabolisme tubuh dan mempermudah terjadinya resistensi insulin, yang merupakan gerbang menuju diabetes dan kerusakan ginjal.
Faktor Lingkungan: Polusi dan Mikroplastik
Data terbaru mulai menyoroti pengaruh lingkungan yang tidak bisa dikontrol secara individu. Polusi udara (partikel PM2.5) dan paparan logam berat (seperti timbal atau merkuri dari air yang terkontaminasi) masuk ke aliran darah dan harus disaring oleh ginjal.
Penumpukan logam berat ini bersifat toksik dan dapat merusak jaringan interstitial ginjal.
Cara Mendeteksi Dini Kesehatan Ginjal: Jangan Tunggu Gejala!
Karena penyakit ginjal tidak bergejala di tahap awal, pemeriksaan laboratorium adalah satu-satunya cara untuk tahu kondisi sebenarnya. Ada dua parameter utama yang wajib dicek secara rutin:
• Ureum dan Kreatinin (Cek Darah)
Untuk menghitung Glomerular Filtration Rate (GFR) atau laju saring ginjal. Jika nilai GFR turun di bawah 60 selama lebih dari 3 bulan, itu pertanda penyakit ginjal kronis.
• Urinalisis (Cek Urin)
Untuk melihat apakah ada Albumin (protein) dalam urin. Ginjal yang sehat tidak akan membiarkan protein bocor ke urin.
Jika ditemukan protein, itu adalah tanda awal kerusakan ‘saringan’ ginjal. Secara visual tanda yang bisa dilihat langsung adalah adanya busa dalam urin. Bentuknya seperti busa sabun atau putih telur yang dikocok.
Berbeda dengan gelembung urin yang terjadi karena kecepatan aliran urin saat menyentuh air toilet, busa urin yang terjadi karena ginjal bermasalah ini biasanya tidak bisa hilang meskipun disiram karena lebih pekat.
Namun untuk memastikannya, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Dan untuk menghindari terkena penyakit ginjal, berikut langkah yang harus dilakukan:
• Kurangi Garam
Batasi asupan natrium maksimal 2.000 mg (sekitar 1 sendok teh garam dapur) per hari.
• Hidrasi Cukup
Pastikan urin berwarna kuning bening, bukan kuning pekat.
• Cek Tekanan Darah
Lakukan pengecekan setidaknya sebulan sekali.
• Batasi Gula
Hindari minuman manis kemasan sebagai asupan harian.
• Berhati-hati Pada Obat, Jamu dan Suplemen
Jangan sembarangan minum obat, jamu maupun suplemen. Hindari mengonsumsinya secara terus menerus dan tanpa resep atau pengawasan ahli.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





