Bacaini.ID, SURABAYA – Laga panas antara Persebaya Surabaya dan Dewa United pada Minggu (1/2/2026) berakhir dengan skor 1–1. Tetapi cerita di balik pertandingan jauh lebih menarik daripada sekadar angka di papan skor.
Persebaya tampil dominan dan bahkan unggul jumlah pemain sejak babak pertama, namun Dewa United menunjukkan mentalitas baja yang membuat tuan rumah gagal meraih kemenangan. Sejak menit awal, Persebaya tampil agresif, sesuatu yang memang sejalan dengan tren positif mereka musim ini.
Tim asuhan Bernardo Tavares dikenal solid, rapi, dan konsisten dalam beberapa pekan terakhir, bahkan disebut sebagai salah satu tim dengan performa terbaik di liga.
Dominasi itu terbayar di menit 23 ketika Francisco Rivera memecah kebuntuan setelah menerima umpan matang dari Arief Catur. Gol ini semakin menegaskan peran Rivera sebagai otak permainan Bajul Ijo.
Namun setelah unggul, Persebaya seperti kehilangan variasi serangan. Mereka terus menekan, tetapi pola permainannya tidak banyak berubah meski situasi di lapangan menuntut adaptasi.
Dewa United: Kalah Jumlah Pemain, Tapi Bukan Kalah Semangat
Tidak butuh waktu lama bagi Dewa United untuk membalas. Tujuh menit setelah tertinggal, Kafiatur Rizky mencetak gol penyeimbang lewat tendangan akurat yang gagal dibendung Ernando Ari.
Padahal, secara psikologis, Dewa United datang dengan rasa percaya diri tinggi. Mereka tengah menikmati dua kemenangan beruntun dan mulai menemukan kembali bentuk permainan terbaiknya, terutama dalam serangan balik cepat.
Di menit 36, situasi berubah drastis ketika bek Dewa United, Nick Kuipers, diganjar kartu merah. Banyak yang mengira Persebaya akan “pesta gol” setelah itu. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Dewa United bermain makin disiplin, fokus, dan berbahaya saat melakukan transisi.
Momen Aneh: Persebaya Justru Tertekan Setelah Unggul Jumlah Pemain
Biasanya, unggul jumlah pemain membuat tim semakin nyaman menguasai laga. Tapi kali ini, beban justru ada di pundak Persebaya. Harapan besar dari puluhan ribu Bonek di Gelora Bung Tomo membuat Bajul Ijo tergesa‑gesa dalam membangun serangan.
Sementara itu, Dewa United justru tampil tenang. Analisis pra‑pertandingan menunjukkan mereka memiliki pemain berpengalaman dan mental kuat yang bisa menjadi pembeda dalam situasi sulit.
Dan itulah yang terlihat: meski hanya dengan 10 pemain, struktur pertahanan Dewa tetap rapat, sementara serangan baliknya beberapa kali merepotkan lini belakang Persebaya.
Persebaya Kehilangan Kreativitas di Area Penting
Jika melihat materi pemain, Persebaya sebenarnya punya deretan kreator seperti Rivera, Bruno Moreira, hingga Gali Freitas. Struktur taktik mereka pun dikenal rapi dan agresif.
Namun pada pertandingan ini, mereka gagal memanfaatkan ruang antar lini, area yang biasanya menjadi celah utama saat lawan bermain dengan 10 pemain. Tidak banyak variasi serangan yang diarahkan ke half‑space, dan kurangnya improvisasi menjadi masalah besar sepanjang babak kedua.
Skor Seadanya, Cerita Luar Biasa
Walaupun hanya tercatat sebagai hasil imbang, laga ini memperlihatkan dua wajah berbeda:
Persebaya
- Kuat secara struktur, disiplin, dan dominan
- Namun kurang fleksibel menghadapi perubahan situasi
- Tekanan untuk menang justru membuat permainan terburu‑buru
Dewa United
- Mentalitas tinggi meski kalah pemain
- Serangan balik cepat tetap jadi ancaman
- Disiplin bertahan dan tidak panik menghadapi tekanan
Kombinasi dua faktor itu membuat Persebaya gagal mengamankan tiga poin di kandang sendiri. Jadilah laga penuh drama yang layak disebut sebagai salah satu pertandingan paling menarik pekan ini.
Penulis: Hari Tri Wasono





