
“Penumpang saya banyak dari penonton Bayu yang pulang ke daerah Waung, kawasan di sekitar kaki Gunung Klotok. Biasanya mereka berangkat berjalan kaki, lalu pulangnya naik dokar,” kata Supeno.
Untuk perjalanan dari Bandar ke Waung, ongkos dokar ketika itu sekitar Rp200 per orang. Nilai tersebut terasa besar jika dibandingkan dengan harga seporsi nasi pecel yang, menurut ingatan Supeno, sekitar Rp25. Sekali perjalanan setara dengan harga delapan porsi nasi pecel.
Bagi sebagian warga pada masa itu, naik kereta kuda juga merupakan bentuk kenyamanan yang tidak selalu bisa dinikmati setiap hari. Mereka yang tak memiliki cukup uang untuk menyewa dokar biasanya memilih berjalan kaki, kecuali ketika harus membawa barang atau menempuh perjalanan yang jauh.
Ini berbeda dengan kalangan masyarakat berada, yang menjadikan kereta kuda sebagai kendaraan pribadi.
Sebelum transportasi bermotor berkembang luas, kereta yang ditarik kuda merupakan salah satu sarana penting untuk mengangkut orang dan barang. Bentuk dan sebutannya pun beragam, mengikuti tradisi serta perkembangan transportasi di berbagai daerah.
Di Indonesia, masyarakat mengenal istilah delman, dokar, andong, sado, dan bendi. Nama-nama tersebut tidak selalu merujuk pada bentuk kendaraan yang persis sama. Delman, misalnya, lazim dikaitkan dengan nama Charles Theodore Deeleman, seorang insinyur Belanda pada masa kolonial.
Catatan sejarah transportasi juga menunjukkan bahwa delman pernah digunakan untuk perjalanan jarak jauh sebelum kereta api dan kendaraan bermotor berkembang. Pada 1885, seorang bernama Forbes tercatat menyewa delman untuk menempuh perjalanan dari Bogor menuju Bandung selama sekitar 13 jam. Perjalanan itu menggambarkan bagaimana kereta kuda pernah menjadi bagian dari mobilitas masyarakat di Pulau Jawa.
Di kota-kota besar Jawa Timur, dokar juga pernah digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang. Seiring perkembangan jalan raya, angkutan umum, dan kendaraan bermotor, perannya perlahan menyusut. Kendaraan yang dahulu menjadi sarana mobilitas sehari-hari itu kini lebih sering dijumpai di pedesaan atau kawasan wisata.
Perubahan tersebut juga dirasakan Supeno dan tiga kusir yang bertahan di GOR Jayabaya. Mereka sadar kejayaan dokar tak akan pernah kembali. Bagi Supeno, merawat kuda adalah bagian dari merawat masa lalu yang pernah menghidupi keluarga dan leluhurnya. (htw/edt)



