Bacaini.ID, KEDIRI – Empat unit dokar berjajar di sudut timur kawasan Gedung Olah Raga (GOR) Jayabaya, Kelurahan Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Minggu, 25 Oktober 2026. Masing-masing dijaga seorang kusir yang duduk di bangku belakang, tangannya memegang tali kekang kuda. Salah satunya Supeno.
Pria berusia 56 tahun itu bersandar di bangku kayu yang dipasang berhadap-hadapan. Matanya sesekali mengikuti lalu-lalang pengunjung GOR Jayabaya yang ramai pada akhir pekan. Di sela waktu menunggu, ia menawarkan jasa dokarnya kepada pengunjung yang ingin berkeliling kawasan tersebut.
“Sejak pintu GOR ditutup dan pedagang dipindah ke selatan, penumpang saya sepi,” katanya.
Sebelum penataan pedagang kaki lima (PKL) mengubah kawasan tersebut, dokar wisata bisa berkeliling GOR Jayabaya. Pengunjung dapat menikmati suasana di sekitar kompleks olahraga itu sambil duduk di kereta yang ditarik kuda.
Kini, setelah akses menuju kawasan GOR berubah, rute dokar yang dikemudikan Supeno lebih banyak melewati jalan desa di sekitarnya. Penumpang memang tak lagi leluasa melihat sudut-sudut kompleks olahraga, tetapi perjalanan itu menawarkan pemandangan persawahan yang masih hijau di kawasan Banjarmlati.
Untuk sekali putaran selama sekitar 15 menit, Supeno mematok tarif Rp20.000 bagi empat penumpang. Harga tersebut membuat dokar masih menjadi pilihan hiburan keluarga yang relatif terjangkau, meski jumlah penumpangnya tak selalu ramai.
Bagi Supeno, dokar wisata bukan pekerjaan utama untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Kendaraan itu pun tak beroperasi setiap hari. Ia hanya mangkal pada Minggu, sejak pagi hingga sore. Di luar waktu tersebut, kuda jantannya beristirahat di kandang rumah.
Merawat kuda sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup Supeno. Ia mengenal hewan itu sejak kanak-kanak, mengikuti kebiasaan yang diwariskan orang tuanya. Ketika beranjak remaja, ia mulai mencari nafkah sebagai kusir dokar, pada masa ketika kendaraan beroda dua yang ditarik kuda masih menjadi bagian dari keseharian warga Kediri.
Salah satu tempat Supeno biasa mangkal adalah di depan Gedung Bioskop Bayu, Kelurahan Bandar, Kecamatan Mojoroto. Bioskop ini dikenal sebagai tempat hiburan rakyat yang mengusung konsep misbar, singkatan dari gerimis bubar. Letaknya di kawasan Pasar Bandar, sebelah selatan bekas markas Polwil.
Berbeda dengan bioskop modern yang memiliki ruang tertutup, Bioskop Bayu tidak memiliki atap di bagian atas area penontonnya. Ketika hujan turun, penonton terpaksa beranjak meninggalkan tempat duduk. Bangkunya pun jauh dari kesan empuk, karena terbuat dari bilah kayu kelapa atau glugu.
Meski sederhana, bioskop itu pernah menjadi bagian dari kehidupan warga Kediri pada 1980-an hingga awal 1990-an. Harga tiketnya, menurut ingatan Supeno, sekitar Rp25.
baca halaman selanjutnya………




