Bacaini.ID, KEDIRI – Kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis masih terus terjadi di berbagai daerah. Berulangnya insiden tersebut memicu kekhawatiran orang tua dan siswa penerima manfaat.
Pemerhati pendidikan dan kesehatan menilai edukasi dasar bagi siswa untuk mengenali ciri makanan basi atau tidak layak konsumsi harus diberikan. Pakar pangan dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Sri Raharjo, menjelaskan bahwa makanan berbahan hewani memiliki risiko tinggi mengalami kontaminasi bakteri jika tidak diolah dengan benar.
Selain kebersihan fasilitas, faktor waktu antara memasak, distribusi, dan konsumsi juga sangat menentukan keamanan pangan.
Edukasi Anak Jadi Perlindungan
Anak-anak perlu dibekali pengetahuan dasar untuk mengenali tanda-tanda makanan yang sudah tidak layak konsumsi, sebagai bentuk perlindungan awal terhadap risiko keracunan.
Ciri sederhana yang bisa diajarkan antara lain:
• bau tidak sedap atau menyengat,
• perubahan warna menjadi pucat atau keabu-abuan,
• tekstur berlendir,
• serta rasa asam atau pahit yang tidak wajar.
Menurut pakar kesehatan masyarakat, literasi pangan pada anak bukan untuk memindahkan tanggung jawab negara kepada siswa, melainkan sebagai lapisan perlindungan tambahan ketika sistem pengawasan di lapangan belum sepenuhnya steril.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan strategis berskala nasional dengan puluhan juta penerima manfaat. Namun, rentetan kasus keracunan menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pemenuhan gizi, melainkan juga pada jaminan keamanan makanan yang dikonsumsi anak setiap hari.
Penulis: Hari Tri Wasono





