Bacaini.id, KEDIR – Cuaca ekstrim saat ini sering memicu gangguan kesehatan, utamanya demam. Namun masih banyak masyarakat yang belum tahu cara mengatasi demam dengan benar.
Demam merupakan kondisi terjadinya peningkatan suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius. Umumnya demam merupakan respons tubuh atau gejala terhadap penyakit. “Banyak yang menganggap demam sebagai penyakit,” kata dr. Adi Laksono di tempat praktiknya Jl Dr. Sahardjo Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Senin, 28 November 2022.
baca ini Nakes Tulungagung Demo Tolak RUU Kesehatan Omnibus Law
Menurut Adi, panas yang dihasilkan tubuh akan mempercepat metabolisme. Metabolisme tubuh yang meningkat akan memicu sistem kekebalan tubuh menjadi lebih aktif. Karena itu sistem imun lebih cepat mendeteksi dan membunuh virus serta bakteri penyebab penyakit. Selain itu, produksi sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem imun tubuh juga akan meningkat saat demam.
Membunuh kuman
Tak banyak yang tahu jika demam dapat membunuh beberapa jenis kuman. Beberapa kuman diketahui tak bisa bertahan hidup pada suhu tinggi. Sehingga enzim dan toksin yang diproduksi kuman akan rusak oleh suhu tubuh yang tinggi.
“Jadi jangan buru-buru minum paracetamol jika tubuh terasa demam. Biarkan tubuh bekerja untuk melawan virus,” kata Adi Laksono.
baca ini Raksi Keras Nakes Trenggalek Tolak RUU Kesehatan Omnibus Law
Dia menyarankan agar menunggu 12 – 24 jam sebelum memutuskan mengkonsumsi obat penurun panas. Sebab kuman diketahui bertahan hidup di suhu 36 derajat celcius ke bawah.
Jika merasa terganggu dengan suhu tubuh yang tinggi, disarankan mengompres dengan air suhu ruangan di bagian tubuh tertentu seperti ketiak. Kita juga disarankan mengkonsumsi minuman hangat herbal, seperti jahe hangat dan kunir madu. “Biarkan tubuh menyelesaikan perangnya dulu,” jelasnya.
Namun ketentuan itu tidak berlaku pada balita dengan imunitas yang belum sempurna. Jika balita mengalami demam di atas 38 derajat celcius, segera beri paracetamol sesuai dosis. Karena suhu tubuh yang tinggi berpotensi memicu step atau kejang. “Kejang bisa menyebabkan kerusakan sel saraf di otak,” kata Adi Laksono.
Penulis: HTW
Tonton video: