Bacaini.ID, KEDIRI — Tahun 2026 diproyeksikan menjadi masa keemasan bagi beragam bisnis yang berbasis teknologi, keberlanjutan, dan digitalisasi.
Baca Juga: PT Baca Ini Boga Resmi Ekspansi ke Bisnis Teknologi
Data e-Comony SEA 2025 menyebut, ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD 100 miliar, didorong oleh penetrasi internet yang semakin luas dan dukungan pemerintah terhadap inovasi.
Secara global, tren seperti AI, energi hijau, dan e-commerce terus mendominasi.
Berikut adalah beberapa sektor bisnis teknologi yang diprediksi bakal moncer di 2026, berdasarkan prediksi berbagai laporan industri.
Artificial Intelligence (AI) dan Otomatisasi
AI bukan lagi tren masa depan, namun telah menjadi tulang punggung bisnis. Di Indonesia, menurut data Deloitte Access Economics via Meta, 79% UMKM telah menggunakan AI untuk pemasaran dan layanan pelanggan.
Peluang besar ada pada jasa AI custom untuk bisnis kecil, chatbot, analisis data, hingga otomatisasi proses.
Untuk bisnis skala UMKM: jasa konsultasi AI sederhana untuk bisnis kecil, misalnya setup chatbot gratis seperti WhatsApp Business API, bisa dilakukan.
Selain itu, pembuatan konten dengan AI seperti caption, desain Canva AI atau video pendek, atau jasa virtual assistant yang pakai tools AI untuk mengelola pesanan dan chat pelanggan. Modal awal bisa di bawah Rp5 juta, cukup laptop dan internet.
Baca Juga: UMP Jatim 2026 Jadi Rp2,4 Juta, UMK Harus Mengikuti
Ekonomi Digital dan E-Commerce
E-commerce global diprediksi tembus $8,1 triliun pada 2026. Di Indonesia, social commerce, live shopping, dan cross-border trade seperti ekspor produk halal akan booming.
Fintech seperti digital payment dan neobank juga termasuk, dengan fokus pada inklusi keuangan untuk UMKM.
Untuk skala UMKM: berjualan online via TikTok Shop, Shopee, Instagram, live commerce produk lokal seperti kerajinan atau makanan, menjadi reseller/dropship produk niche seperti fashion muslim atau aksesoris, atau affiliate marketing.
Bisa dimulai dengan modal Rp1-10 juta untuk stok awal dan promosi, tanpa perlu toko fisik.
Baca Juga: Habiskan Libur Nataru di Kota Batu, Berikut Hotel Ramah Anak Serta Tarifnya
Energi Terbarukan dan Green Tech
Isu perubahan iklim mendorong bisnis hijau. Di Indonesia, program hilirisasi dan energi bersih seperti solar panel, battery storage, serta produk ramah lingkungan akan laris.
Sektor ini didukung regulasi pemerintah dan investasi global yang masif. Untuk skala UMKM: menjual produk ramah lingkungan seperti tas daur ulang, kemasan biodegradable, tanaman hias atau bibit organik, aksesoris eco-friendly seperti sabun natural, sedotan bambu dan lainnya.
Bisnis kecil ini bisa dilakukan dari rumah dengan modal kisaran Rp500 ribu hingga Rp5 juta untuk bahan baku, dan bisa dijual via marketplace.
Creator Economy dan Konten Digital
Kolaborasi dengan kreator, video imersif seeprti Reels dan live commerce, dan affiliate marketing akan jadi kunci.
Influencer marketing global diprediksi capai $24 miliar. Di Indonesia, ini cocok untuk Gen Z yang ingin monetisasi konten edukatif atau hiburan.
Untuk skala UMKM: nenjadi content creator niche seperti review produk atau tutorial, jasa manajemen media sosial untuk UMKM lain (posting jadwal, balas komentar), atau jasa foto/video produk sederhana. Modal utama smartphone dan skill, bisa monetisasi via affiliate atau partnership.
Health Tech dan Wellness
Pasca-pandemi, telemedicine, personalized health, dan produk wellness seperti suplemen atau program diet online tumbuh cepat.
Bisnis kebugaran virtual dan skincare ramah lingkungan juga menjanjikan, seiring kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.
Untuk skala UMKM: Jual camilan sehat atau frozen food homemade seperti granola, keripik buah, suplemen herbal lokal. Bisa juga dengan membuka kelas olahraga virtual (yoga/online fitness via Zoom), atau produk skincare natural/organik.
Dimulai dari dapur rumah dengan modal Rp1-5 juta, fokus pada kesehatan dan bahan lokal.
Cybersecurity dan FinTech Inovatif
Digitalisasi meningkatkan risiko siber, sehingga jasa proteksi data laris manis. FinTech seperti crypto payment dan digital banking akan berkembang, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Untuk skala UMKM: jasa setup keamanan dasar (password manager, antivirus untuk UMKM kecil) atau edukasi online tentang proteksi data.
Bisa dikombinasikan dengan fintech seperti jasa pembayaran digital sederhana untuk toko lokal.
Sustainable dan Circular Economy
Bisnis produk daur ulang, fesyen muslim berkelanjutan, kerajinan lokal, serta pertanian digital akan naik daun.
Konsumen semakin memilih brand yang peduli lingkungan dan sosial.
Untuk skala UMKM: Bisnis daur ulang, upcycling barang bekas jadi produk baru seperti tas dari banner dan lainnya, fesyen berkelanjutan seperti pakaian second-hand atau dari bahan recycle, atau pertanian urban seperti hidroponik kecil untuk sayur organik.
Modal minim, mulai dari pekarangan rumah dan jual online. Bisnis di 2026 akan dimenangkan oleh yang adaptif terhadap teknologi, berkelanjutan, dan customer-centric.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif






Comments 2