Poin Penting:
- Penangguhan penerbangan di Bandara Internasional King Khalid diperpanjang setelah serangan berulang.
- Ancaman rudal dan drone terhadap fasilitas strategis memicu peninjauan kemampuan pertahanan Arab Saudi.
- Serangan udara Saudi dan pertempuran di Taiz menambah ketegangan dalam konflik melawan kelompok Houthi.
Bacaini.ID, Arab Saudi — Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, ditutup setelah serangan kelompok Houthi dari Yaman kembali menyasar sejumlah fasilitas strategis. Penangguhan penerbangan Arab Saudi dari dan menuju bandara tersebut diperpanjang pada Senin (12/10/2026) untuk pemeriksaan keselamatan, sementara kemampuan pertahanan udara Saudi menjadi sorotan di tengah meningkatnya eskalasi konflik Yaman.
Dikutip dari The Guardian, serangan Houthi ke Arab Saudi pada Sabtu (10/10) telah menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan rudal Houthi susulan pada Minggu (11/10) kembali menewaskan satu orang dan melukai hampir selusin lainnya. Penutupan bandara King Khalid atau bandara Riyadh dilakukan untuk memastikan keamanan fasilitas penerbangan setelah serangan berulang.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Saudi juga menghadapi pertanyaan mengenai kemampuan sistem pertahanan udaranya dalam mengantisipasi serangan drone Houthi dan rudal yang menyasar sejumlah fasilitas strategis negara itu.
Serangan Houthi Berulang, Bandara Riyadh Ditutup
Otoritas penerbangan Saudi menyatakan Bandara Internasional King Khalid masih ditutup untuk menyelesaikan pemeriksaan keselamatan. Juru bicara militer Saudi juga melaporkan adanya ancaman rudal dan drone tambahan.
Rekaman kamera pengawas yang disiarkan televisi pemerintah Saudi memperlihatkan penumpang berada di tengah kepulan asap dan material bangunan yang berjatuhan ketika rudal menghantam area terminal. Rekaman setelah serangan juga menunjukkan kerusakan pada bagian dalam bangunan bandara.
Bandara tersebut terletak sekitar 35 kilometer di utara pusat Riyadh. Penangguhan penerbangan berdampak pada salah satu simpul transportasi internasional utama Arab Saudi.
Serangan terhadap bandara Riyadh bukan insiden yang berdiri sendiri. Menurut laporan The Guardian, serangan Houthi dalam beberapa pekan terakhir juga menyasar tangki bahan bakar dan gudang yang terhubung dengan bandara. Sebuah pesawat penumpang Airbus A320 yang sedang diparkir dilaporkan hancur, sedangkan sedikitnya lima pesawat lainnya mengalami kerusakan.
Kelompok Houthi juga dilaporkan menargetkan Kota Khamis Mushait dan Bandara Internasional King Fahd di Dammam. Mereka bahkan menyatakan akan menyerang bandara-bandara Saudi di berbagai wilayah. Serangkaian serangan tersebut memperluas ancaman terhadap infrastruktur sipil dan strategis Saudi. Selain bandara, pemerintah harus melindungi gedung-gedung pemerintahan, fasilitas minyak, dan pusat infrastruktur yang tersebar di wilayah geografis yang luas.
Kebutuhan untuk menjaga berbagai sasaran itu membuat kemampuan pertahanan udara Saudi menjadi perhatian utama. The Guardian melaporkan bahwa pemerintah sedang melakukan peninjauan mendesak untuk mengetahui bagaimana rudal Houthi berulang kali menembus pertahanan. Sebagai langkah antisipasi, sejumlah pelajar dan pekerja kantor disarankan beraktivitas dari rumah.
Konflik Yaman Memanas, Saudi Gencarkan Serangan Balasan
Eskalasi serangan ke wilayah Saudi berlangsung ketika pertempuran di Yaman juga terus berlanjut. Di Taiz, kota terbesar ketiga di Yaman sekaligus wilayah dengan populasi besar, pasukan Saudi melancarkan delapan serangan udara terhadap kelompok Houthi pada Minggu (11/10). Laporan The Guardian menyebut sebanyak 60 petempur dari kedua pihak diperkirakan tewas pada hari tersebut.
Gubernur Taiz, Nabil Shamsan, menyerukan agar blokade Houthi terhadap wilayahnya segera diakhiri. Ia memperingatkan bahwa kekurangan obat-obatan dapat membuat kota itu segera kehabisan layanan bedah darurat dan perawatan intensif. Menurut laporan tersebut, Houthi mengklaim Saudi melancarkan 124 serangan udara pada hari tersebut.
Pemerintah Saudi juga berupaya menemukan pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi. Berulang kali beredar rumor mengenai kematiannya, tetapi laporan The Guardian menyebut Saudi tampaknya belum memiliki informasi intelijen terkini mengenai keberadaan pemimpin kelompok tersebut, baik di ibu kota Yaman, Sanaa, maupun di basis kekuatannya di Saada.
Di sisi lain, pemimpin Dewan Transisi Selatan atau Southern Transitional Council (STC) yang berada di pengasingan, Aidarous al-Zubaidi, menyerukan pasukan selatan untuk bertempur di berbagai front. Seruan itu sejalan dengan dorongan pemerintah Yaman yang diakui PBB untuk mengusir Houthi dari seluruh wilayah negara, bukan hanya dari provinsi-provinsi selatan.
STC sendiri memiliki agenda untuk membentuk kembali negara Yaman Selatan yang terpisah, sebagaimana pernah ada pada periode 1967–1990. Persatuan Yaman pada akhir Perang Dingin menyisakan ketegangan politik, termasuk keluhan sebagian masyarakat selatan mengenai distribusi sumber daya. Kepemimpinan STC pun menghadapi tantangan dari Abd al-Rahman al-Mahrami, pemimpin Salafi yang mengomandoi Southern Giants Brigades.
Iran diketahui mendukung Houthi, termasuk melalui pelatihan dan persenjataan. Namun, upaya mediasi itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan kepentingan energi dan keamanan maritim. (bl/sa)




