Bacaini.ID, KEDIRI — Bakteri kimchi kini menarik perhatian dunia kesehatan. Penelitian terbaru mengungkap bahwa probiotik dari makanan fermentasi khas Korea ini berpotensi membantu mengeluarkan nanoplastik dari dalam tubuh manusia, khususnya melalui sistem pencernaan.
Baca Juga:
Nanoplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman. Temuan terkait faedah bakteri kimchi membuka peluang baru dalam dunia kesehatan, khususnya terkait peran probiotik dalam menghadapi polusi mikroplastik.
Apa Itu Nanoplastik dan Mengapa Berbahaya?
Nanoplastik merupakan partikel plastik dengan ukuran kurang dari 1 mikrometer. Partikel ini terbentuk dari degradasi plastik berukuran lebih besar yang terurai akibat paparan sinar matahari, panas, maupun gesekan.
Karena ukurannya sangat kecil, nanoplastik dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi air minum, makanan laut, hingga produk olahan yang terkontaminasi.
Baca Juga:
- Sejumlah Makanan yang Menyehatkan Organ Intim Perempuan, Yuk Simak!
- Anak Lagi Sakit? Ini Cemilan Lezat Untuk Pulihkan Kesehatan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa nanoplastik berpotensi menembus dinding usus dan masuk ke aliran darah. Dalam beberapa kasus, partikel ini bahkan ditemukan dapat terakumulasi di organ seperti ginjal dan otak.
Meski dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, keberadaan nanoplastik dalam tubuh jelas menjadi perhatian serius dalam kesehatan masyarakat.
Bakteri Kimchi Ditemukan Dapat Mengikat Nanoplastik
Sebuah tim peneliti dari World Institute of Kimchi, dipimpin oleh Dr. Se Hee Lee dan Tae Woong Whon, melakukan studi terhadap bakteri asam laktat yang diisolasi dari kimchi, yaitu Leuconostoc mesenteroides CBA3656.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Bioresource Technology ini menguji kemampuan bakteri tersebut dalam mengikat partikel polystyrene nanoplastics (PS-NPs) di dalam sistem pencernaan.
Hasilnya cukup menjanjikan. Dalam kondisi laboratorium standar, bakteri ini menunjukkan efisiensi penyerapan hingga 87%.
Ketika diuji dalam kondisi yang menyerupai usus manusia, bakteri dari kimchi mampu mempertahankan tingkat penyerapan nanoplastik hingga 57%. Temuan ini menunjukkan bahwa bakteri dari kimchi memiliki kemampuan yang cenderung stabil dalam lingkungan kompleks seperti saluran pencernaan manusia.
Tim peneliti juga melakukan uji coba pada tikus dengan model bebas kuman. Hasilnya, tikus yang diberikan bakteri Leuconostoc mesenteroides CBA3656 menunjukkan peningkatan lebih dari dua kali lipat jumlah nanoplastik yang dikeluarkan melalui feses, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak menerima probiotik.
Temuan ini mengindikasikan bahwa bakteri tersebut tidak hanya mampu mengikat nanoplastik, namun juga membantu proses pengeluarannya dari tubuh.
Kimchi dan Probiotik: Lebih dari Sekadar Makanan Fermentasi
Kimchi sendiri merupakan makanan tradisional Korea yang dibuat melalui proses fermentasi sayuran, biasanya sawi putih, dengan tambahan bumbu seperti cabai, bawang putih, jahe, dan garam.
Proses fermentasi ini menghasilkan berbagai jenis bakteri asam laktat (lactic acid bacteria) yang dikenal sebagai probiotik.
Berikut bakteri yang telah lama dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan:
• Menjaga keseimbangan mikrobiota usus
• Meningkatkan sistem imun
• Membantu proses pencernaan
• Mengurangi risiko peradangan
Menurut sejumlah studi, konsumsi makanan fermentasi seperti kimchi juga berkontribusi pada keanekaragaman mikrobiota usus, yang merupakan indikator penting kesehatan saluran pencernaan.
Manfaat kimchi tampaknya berkembang lebih jauh, tidak hanya untuk kesehatan pencernaan, namun juga berpotensi membantu tubuh menghadapi paparan zat asing seperti nanoplastik.
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, para ilmuwan menegaskan bahwa studi ini masih berada pada tahap awal. Uji klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya dalam jangka panjang.
Selain itu, belum semua jenis nanoplastik atau mikroplastik memiliki karakteristik yang sama, sehingga interaksi dengan probiotik bisa berbeda-beda.
Penelitian melalui pendekatan ilmiah modern mengenai makanan-makanan tradisional yang baik untuk kesehatan, terus berkembang.
Fenomena ini juga terjadi pada berbagai makanan fermentasi lain di dunia, termasuk di Indonesia seperti tempe, tape, dan dadih, yang sama-sama mengandung mikroorganisme bermanfaat.
Dengan berkembangnya riset mikrobioma, peran makanan fermentasi diperkirakan akan semakin penting, tidak hanya untuk menjaga kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi terhadap masalah global.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





