Poin Penting:
- Pola asuh orang tua dapat berpengaruh terhadap perilaku agresif anak, tetapi bukan satu-satunya penyebab bullying.
- Teman sebaya, sekolah, pengalaman sosial, karakter individu, dan lingkungan juga dapat membentuk perilaku anak.
- Penanganan tidak cukup dengan hukuman, tetapi perlu menghentikan bullying, melindungi korban, dan membantu anak memperbaiki perilakunya.
Bacaini. ID, KEDIRI – Ketika seorang anak menjadi pembully, orang tua sering menjadi pihak pertama yang dituding. Pola asuh dianggap terlalu keras, terlalu longgar, atau justru terlalu memanjakan. Benarkah sesederhana itu?
Bullying atau perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Bentuknya dapat berupa penghinaan, ancaman, pemukulan, pengucilan, hingga tindakan agresif melalui media digital.
Lingkungan keluarga memang dapat memengaruhi bagaimana anak belajar berinteraksi dan menyelesaikan konflik. Namun, penyebab anak bullying terbentuk melalui banyak faktor. Lingkungan sekolah, kelompok teman sebaya, karakter individu, pengalaman sosial, hingga norma yang berlaku di sekitar anak juga dapat berperan.
Artinya, ketika seorang anak menjadi pembully, orang tua tidak otomatis menjadi satu-satunya pihak yang harus disalahkan. Tetapi orang tua tetap memiliki peran penting dalam membantu menghentikan perilaku tersebut. Perlu dicari tahu kenapa anak suka membully.
Apakah Pola Asuh Membuat Anak Menjadi Pembully?
Anak belajar banyak hal dari lingkungan terdekatnya, termasuk bagaimana memperlakukan orang lain. Pola interaksi di rumah karena itu dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan perilaku agresif.
Penelitian mengenai bullying dan perkembangan anak menunjukkan bahwa faktor keluarga seperti konflik yang tinggi, pola pengasuhan yang keras atau inkonsisten, kurangnya kehangatan, serta rendahnya pengawasan dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko perilaku agresif pada anak.
Sebaliknya, hubungan orang tua-anak yang hangat, komunikasi yang terbuka, batasan perilaku yang jelas, dan pengawasan yang sesuai usia dapat menjadi faktor perlindungan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap anak yang dibesarkan dengan pola asuh tertentu pasti akan menjadi pembully.
Anak juga tumbuh di luar rumah. Teman sebaya, budaya sekolah, lingkungan sosial, pengalaman menjadi korban kekerasan, serta paparan terhadap perilaku agresif dapat memengaruhi perilakunya. Ada pula anak yang melakukan bullying karena ingin mendapatkan status atau penerimaan dari kelompok. Dalam situasi tertentu, perilaku agresif bahkan dapat memperoleh penguatan ketika teman-temannya tertawa, mendukung, atau menganggap tindakan tersebut keren.
Karena itu, mencari satu penyebab tunggal justru dapat membuat penanganan menjadi tidak tepat.
Jangan Berhenti pada Hukuman
Ketika orang tua mengetahui anaknya melakukan bullying, reaksi pertama mungkin berupa marah, menyangkal, atau merasa malu. Sebagian orang tua bahkan langsung melakukan penyangkalan untuk membela anaknya.
Padahal, langkah pertama yang lebih penting adalah memastikan perilaku tersebut dihentikan dan anak memahami bahwa tindakannya tidak dapat dibenarkan.
Orang tua perlu mencari tahu apa yang terjadi tanpa langsung memberikan label seperti “anak jahat” atau “anak nakal”. Fokusnya adalah pada perilaku: apa yang dilakukan, kepada siapa, seberapa sering, dalam situasi apa, dan apa yang terjadi setelahnya.
Anak tetap perlu mendapatkan konsekuensi yang sesuai. Tetapi konsekuensi sebaiknya tidak sekadar berupa hukuman fisik atau penghinaan. Anak perlu memahami dampak tindakannya terhadap korban dan belajar bahwa konflik tidak boleh diselesaikan dengan intimidasi atau kekerasan.
Orang tua juga dapat membantu anak mengembangkan keterampilan yang mungkin belum dimilikinya, seperti mengelola kemarahan, menghadapi frustrasi, menyelesaikan konflik, berempati, serta meminta bantuan ketika menghadapi masalah dengan teman.
Jika perilaku agresif terus berulang, semakin berat, atau muncul bersama masalah emosional dan perilaku lain, bantuan psikolog anak atau profesional terkait dapat dipertimbangkan.
Orang Tua Tidak Harus Merasa Bersalah, tetapi Harus Terlibat
Ada perbedaan antara menyalahkan orang tua dan meminta orang tua bertanggung jawab. Menuduh orang tua sebagai penyebab tunggal bullying tidak membantu menyelesaikan masalah. Sebaliknya, menganggap perilaku tersebut sepenuhnya sebagai urusan anak juga tidak tepat. Orang tua tetap memiliki posisi penting karena rumah merupakan salah satu lingkungan utama tempat anak belajar mengenai hubungan sosial.
Ketika anak melakukan bullying, orang tua dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk mengevaluasi pola komunikasi di rumah. Apakah anak terbiasa melihat orang dewasa menyelesaikan konflik dengan bentakan? Apakah aturan di rumah jelas dan konsisten? Apakah anak merasa aman untuk bercerita ketika mengalami masalah? Apakah perilaku agresif pernah dianggap lucu atau justru mendapatkan pujian? Pertanyaan tersebut bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, namun untuk mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Yang tidak kalah penting, anak yang melakukan bullying juga membutuhkan intervensi, bukan sekadar hukuman. Perilakunya harus dihentikan dan korban harus dilindungi, tetapi anak juga perlu dibantu memahami akar masalah dan belajar berperilaku dengan cara yang lebih sehat.
Pada akhirnya, tidak ada satu gaya parenting yang dapat menjelaskan seluruh kasus bullying. Orang tua memang dapat menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi perilaku anak, tetapi mereka bukan satu-satunya faktor. Karena itu, ketika seorang anak menjadi pembully, lebih penting untuk mengetahui sebab datangnya perilaku tersebut dan solusi agar tidak terulang.
Dengan pendekatan tersebut, orang tua tidak terjebak dalam rasa bersalah, tetapi juga tidak menghindari tanggung jawab. Fokusnya kembali kepada hal yang paling penting: menghentikan bullying, melindungi korban, dan membantu anak belajar membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain. (bl/sa)




