Bacaini.ID, KEDIRI — Akses internet di kalangan penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin signifikan.
Jika dulu lansia kerap dianggap tertinggal dalam urusan teknologi digital, kini anggapan tersebut mulai terpatahkan oleh data.
Berdasarkan laporan Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah lansia yang mengakses internet terus meningkat secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, hingga awal 2026.
Fenomena ini menjadi penanda penting perubahan perilaku masyarakat lansia di tengah pesatnya transformasi digital nasional.
Internet tidak lagi hanya menjadi domain generasi muda, namun mulai diadopsi oleh kelompok usia lanjut untuk berbagai kebutuhan, mulai dari komunikasi, hiburan, hingga akses informasi dan layanan publik.
Baca Juga: Krisis Angka Kelahiran, Jepang Berdayakan Robot untuk Perawat Lansia
Persentase Akses Internet Lansia Naik Lebih dari Dua Kali Lipat
BPS mencatat, persentase lansia yang mengakses internet pada 2025 telah mencapai 34 persen.
Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun 2021 yang masih berada di kisaran 14,1 persen. Dalam rentang empat tahun, proporsi lansia pengguna internet meningkat lebih dari dua kali lipat.
Kenaikan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Data BPS menunjukkan tren peningkatan yang relatif stabil dalam enam tahun terakhir.
Setiap tahunnya, semakin banyak lansia yang mulai mengenal dan memanfaatkan teknologi digital, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan konektivitas serta semakin mudahnya akses perangkat dan jaringan internet.
Peningkatan ini juga mencerminkan adanya proses adaptasi sosial yang berjalan perlahan namun konsisten. Lansia yang sebelumnya cenderung pasif terhadap teknologi, kini mulai melihat internet sebagai alat yang membantu aktivitas sehari-hari, bukan sekadar tren generasi muda.
Lansia Indonesia Tak Lagi Canggung Gunakan Smartphone
Salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya akses internet di kalangan lansia adalah penggunaan telepon seluler.
BPS mencatat, pada 2025 sebanyak 52 persen lansia di Indonesia sudah menggunakan handphone, dengan dominasi penggunaan smartphone.
Smartphone menjadi perangkat yang relatif mudah dioperasikan dibandingkan komputer atau laptop. Layar sentuh, aplikasi yang intuitif, serta banyaknya fitur komunikasi seperti WhatsApp dan panggilan video membuat ponsel pintar lebih cepat diterima oleh lansia.
Aplikasi pesan instan menjadi pintu masuk utama lansia ke dunia digital. Melalui aplikasi tersebut, mereka dapat berkomunikasi dengan anak, cucu, maupun kerabat tanpa harus bertemu langsung.
Selain itu, platform berbagi video dan media sosial juga mulai digunakan sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang.
BPS juga mencatat bahwa sebagian lansia memanfaatkan internet untuk mengakses informasi kesehatan, berita, serta layanan publik berbasis digital, meskipun proporsinya masih lebih kecil dibandingkan fungsi komunikasi.
Faktor Pendorong Makin Meningkatnya Akses Internet Lansia
Salah satu yang paling utama sebagai faktor pendorong penggunaan layanan digital oleh lansia adalah perubahan pola hidup pasca-pandemi COVID-19.
Selama pandemi, pembatasan mobilitas mendorong berbagai aktivitas beralih ke ranah digital, termasuk komunikasi keluarga, layanan kesehatan jarak jauh, hingga transaksi ekonomi.
Selain itu, penetrasi internet nasional yang semakin luas juga menjadi faktor pendukung. BPS mencatat, tingkat penetrasi internet Indonesia pada 2025 telah mencapai 80,66 persen dari total populasi.
Perluasan jaringan hingga ke wilayah non-perkotaan membuka peluang lebih besar bagi lansia di berbagai daerah untuk mengakses internet.
Meski menunjukkan tren positif, BPS juga menggarisbawahi bahwa tingkat literasi digital lansia masih menjadi tantangan.
Tidak semua lansia pengguna internet memiliki pemahaman yang memadai tentang keamanan digital, privasi data, dan risiko penipuan daring.
Sejumlah penelitian dan laporan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut termasuk kategori rentan terhadap hoaks dan penipuan digital.
Hal ini menandakan bahwa peningkatan akses internet perlu diimbangi dengan edukasi literasi digital yang berkelanjutan.
Pendampingan dari keluarga, komunitas, serta program pemerintah menjadi kunci agar lansia dapat memanfaatkan internet secara aman dan produktif.
Tanpa literasi yang memadai, peningkatan akses justru berpotensi menimbulkan risiko baru.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





