
Kekhawatiran serupa muncul di Amerika Serikat. Senator Bernie Sanders kembali menyerukan agar Kongres memperketat pengawasan terhadap industri AI. Ia merujuk pada survei yang menunjukkan sebagian besar warga Amerika menginginkan pemerintah mengambil tindakan terhadap perkembangan teknologi tersebut.
Sanders memperingatkan bahwa pengembangan AI tidak seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada segelintir perusahaan dan investor teknologi.
Menurutnya, persoalan AI bukan hanya masalah industri teknologi. Perkembangannya berpotensi menyentuh ekonomi, lingkungan, demokrasi, privasi hingga masa depan umat manusia.
Di belakang kampanye Control AI sendiri terdapat Jan Tallinn, salah satu pendiri Skype. Ia menggelontorkan sebagian kekayaannya untuk mendorong keselamatan AI.
Tallinn bahkan mengatakan bahwa ia mengetahui adanya peneliti AI yang memperkirakan teknologi tersebut suatu saat dapat menggantikan manusia sebagai spesies dominan.
Tidak Semua Pakar Percaya Skenario “Terminator”
Namun, tidak semua ilmuwan dan peneliti AI melihat ancaman tersebut dengan cara yang sama. Andrew Rogoyski dari Surrey Institute for People-Centred AI termasuk pihak yang lebih berhati-hati. Ia menilai sistem AI saat ini masih jauh dari kemampuan manusia dan belum menunjukkan kemampuan yang cukup untuk menghasilkan skenario seperti dalam film Terminator.
David Barber, direktur Sofair, laboratorium riset AI yang melibatkan sejumlah universitas Inggris, juga mengingatkan agar masyarakat tidak membuang teknologi AI hanya karena kekhawatiran terhadap risiko masa depan.
Menurutnya, AI memiliki banyak manfaat dan kemungkinan besar akan terus menjadi bagian dari kehidupan manusia. Persoalannya adalah bagaimana manusia mengendalikan teknologi tersebut agar tidak berkembang tanpa batas dan menimbulkan persoalan baru.
Pandangan serupa disampaikan Sandra Wachter, profesor di Oxford Internet Institute. Ia tidak meyakini skenario ekstrem seperti manusia dimusnahkan oleh mesin, tetapi menilai ada persoalan AI yang jauh lebih nyata dan sudah terjadi.
Risikonya antara lain dampak lingkungan, penyebaran misinformasi dan perubahan besar terhadap lapangan pekerjaan.
Masalahnya Mungkin Bukan AI yang Membunuh Manusia
Perdebatan ini memperlihatkan persoalan yang lebih kompleks. Ancaman AI tidak harus selalu berbentuk robot yang mengambil alih dunia. Bahaya yang lebih dekat justru dapat muncul dari penggunaan teknologi yang tidak terkendali: informasi palsu yang semakin mudah dibuat, pekerjaan yang berubah atau hilang, sistem otomatis yang sulit diawasi, hingga konsentrasi kekuasaan teknologi pada segelintir perusahaan.
Gary Marcus, akademisi sekaligus komentator industri AI, bahkan menilai ada kemungkinan bahwa ekspektasi terhadap superintelligence terlalu dibesar-besarkan. Ia mempertanyakan apakah perlombaan menuju AI yang jauh lebih pintar dari manusia benar-benar akan menghasilkan teknologi seperti yang dibayangkan sebagian pengembangnya.
Di sinilah perdebatan tentang masa depan AI menjadi menarik. Pertanyaannya bukan lagi semata-mata “Apakah AI akan menguasai manusia?”
Pertanyaan yang lebih mendesak justru: siapa yang mengendalikan AI, seberapa jauh teknologi itu boleh dikembangkan, dan siapa yang bertanggung jawab ketika sesuatu berjalan di luar kendali?
Perdebatan tersebut kini tidak hanya berlangsung di laboratorium perusahaan teknologi. Ia sudah masuk ke parlemen, forum internasional, hingga perdebatan publik tentang masa depan manusia. Dan mungkin, persoalan terbesar AI bukan apakah mesin akan menjadi lebih pintar daripada manusia. Melainkan apakah manusia mampu membuat aturan sebelum teknologi menjadi terlalu kuat untuk dikendalikan. (htw/edt)



