• Login
Bacaini.id
Monday, October 26, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sudah Dewasa tapi Masih Nginthil Orang Tua, Kapan Harus Mandiri?

Anak yang sudah dewasa belum tentu siap hidup mandiri. Kenali perbedaan pola asuh Barat dan Timur serta cara orang tua melatih tanggung jawab anak tanpa harus memutus kedekatan keluarga

ditulis oleh Solichan Arif
26 October 2026 20:22
Durasi baca: 5 menit
Anak dewasa berbincang dengan orang tua tentang kemandirian

Kemandirian anak dewasa dibangun melalui tanggung jawab, kemampuan mengambil keputusan, dan dukungan keluarga (foto ilustrasi)

Reporter: Bromo Liem | Editor: Solichan Arif

Poin Penting:

  • Kemandirian tidak ditentukan oleh usia saja. Anak yang sudah berusia 18 tahun belum tentu siap mengelola keuangan, kebutuhan sehari-hari, dan keputusan penting secara mandiri.
  • Pola asuh Barat dan Timur memiliki kecenderungan berbeda. Budaya keluarga, kesempatan kerja, biaya hunian, dan kondisi ekonomi ikut menentukan apakah anak tinggal bersama atau terpisah dari orang tua.
  • Orang tua perlu melepas anak secara bertahap. Beri ruang mengambil keputusan, mengatur penghasilan, menyelesaikan masalah pribadi, dan menanggung konsekuensi sesuai kemampuannya.

Bacaini.ID, KEDIRI – Anak yang sudah dewasa belum tentu benar-benar mandiri. Di sebagian keluarga Jawa, banyak dijumpai anak dewasa masih bergantung pada orang tua. Anak yang sudah bekerja pun masih kerap nginthil (ikut) orang tua, baik dalam urusan sehari-hari maupun pengambilan keputusan, termasuk kerja. Sementara itu, di sejumlah masyarakat Barat, usia 18 tahun kerap menjadi awal bagi anak untuk belajar hidup terpisah dari keluarga. Awal mengajari kemandirian anak dewasa.

Lantas, kapan sebenarnya orang tua perlu memberi ruang lebih besar bagi anak untuk menjalani kehidupannya sendiri? Bagaimana cara mendidik anak mandiri? Kemandirian anak tidak cukup diukur dari usia atau tempat tinggal, tetapi juga dari kemampuan mengelola keuangan, mengurus kebutuhan pribadi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.

Baca Juga: Takdir Anak Berbakti Sering Diabaikan, Safety Net Theory Jelaskan ini

Membandingkan pola asuh yang berkembang di masyarakat Barat dan Timur atau pola asuh Barat dan Timur dapat membantu orang tua memahami kapan harus memberi ruang lebih besar bagi anak untuk menjalani kehidupannya sendiri.

Usia 18 Tahun: Dewasa Secara Hukum, Belum Tentu Siap Hidup Mandiri

Di sejumlah negara Barat, usia 18 tahun menjadi salah satu penanda penting menuju kedewasaan. Pada tahap ini, seseorang umumnya memperoleh lebih banyak kewenangan hukum untuk mengambil keputusan sendiri. Mereka bisa mulai bekerja, melanjutkan pendidikan di luar kota, atau mengatur kebutuhan sehari-hari tanpa pengawasan langsung orang tua. Tinggal terpisah dari orang tua juga merupakan tradisi yang lazim.

Namun, banyak juga anak muda tetap tinggal bersama orang tua karena biaya hunian yang tinggi, pendidikan, kesulitan memperoleh pekerjaan, atau kebutuhan keluarga. Fenomena orang dewasa muda yang kembali tinggal bersama orang tua setelah sebelumnya hidup terpisah juga dikenal sebagai boomerang generation.

Kemandirian juga tidak muncul secara otomatis ketika seseorang mencapai usia tertentu. Anak yang sudah dewasa secara hukum bisa saja belum memiliki keterampilan mengatur anggaran, memasak, membayar tagihan, atau mengambil keputusan penting.

Sebaliknya, anak yang masih tinggal bersama orang tua bisa memiliki tanggung jawab finansial dan kemampuan mengurus dirinya sendiri, bahkan menjadi penyumbang terbesar kebutuhan rumah tangga. Karena itu, kesiapan hidup mandiri sebaiknya dinilai dari kemampuan dan tanggung jawab, bukan hanya usia.

Pola Asuh Barat dan Timur dalam Memandang Anak Dewasa

Perbedaan pola asuh Barat dan Timur sering dikaitkan dengan cara keluarga memandang kemandirian dan hubungan antargenerasi. Dalam sebagian masyarakat Barat, terutama yang menekankan individualisme, anak didorong membangun identitas, menentukan pilihan hidup, dan mengelola urusannya sendiri. Tinggal terpisah dari orang tua dapat menjadi salah satu cara untuk menjalani proses tersebut.

Anak belajar memenuhi kebutuhan sehari-hari, menghadapi konsekuensi keputusan, serta mengatur keuangan dengan sumber daya yang dimiliki. Orang tua tetap bisa memberikan bantuan, tetapi anak diharapkan mengambil tanggung jawab utama atas kehidupannya.

Sementara itu, di banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia, hubungan keluarga cenderung memiliki peran besar dalam keputusan hidup. Tinggal bersama orang tua setelah lulus sekolah atau kuliah dapat dianggap wajar, terutama jika anak belum memiliki penghasilan stabil atau masih menabung untuk membeli rumah.

Namun perbedaan pola asuh tersebut, tidak bisa digeneralisasi. Keluarga di negara Barat tidak semuanya mendorong anak segera keluar rumah, begitu pula keluarga Asia tidak semuanya mengharuskan anak tinggal bersama sampai menikah.

Kondisi ekonomi turut memengaruhi pilihan tersebut. Harga rumah dan biaya sewa yang tinggi dapat membuat anak muda sulit tinggal terpisah, bahkan ketika mereka sudah bekerja. Sebaliknya, kesempatan kerja dan dukungan sosial tertentu dapat memudahkan seseorang membangun kehidupan sendiri.

Kapan Orang Tua Perlu Melepas Anak?

Mendorong anak hidup mandiri bukan berarti orang tua harus langsung menyuruhnya keluar rumah ketika berusia 18 tahun. Yang lebih penting adalah mempersiapkan kemampuan anak untuk menjalani kehidupannya sendiri secara bertahap.

Salah satu landasan yang relevan adalah self-determination theory, teori motivasi yang dikembangkan psikolog Edward Deci dan Richard Ryan. Teori ini menjelaskan pentingnya pemenuhan tiga kebutuhan psikologis, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dengan orang lain.

Dalam pengasuhan, otonomi berarti anak memiliki ruang untuk mengambil keputusan. Kompetensi berkaitan dengan kemampuan menghadapi tugas dan tantangan, sedangkan keterhubungan berarti tetap memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Ketiganya menunjukkan bahwa kemandirian tidak harus dibangun dengan memutus kedekatan antara anak dan orang tua. Anak justru dapat belajar bertanggung jawab sambil tetap memperoleh dukungan keluarga.

Orang tua bisa memulainya dengan memberi anak dewasa tanggung jawab mengatur penghasilannya, membayar sebagian kebutuhan pribadi, mengurus dokumen penting, serta menentukan pilihan pendidikan atau pekerjaan. Jika masih tinggal bersama keluarga, anak juga perlu dilibatkan dalam pembagian pekerjaan rumah dan pengeluaran sesuai kemampuannya.

Ketika anak ingin tinggal terpisah, orang tua dapat membantu menilai kesiapan finansialnya, termasuk kemampuan membayar sewa, makan, transportasi, tabungan atau kebutuhan kesehatan, serta dana darurat. Tujuannya bukan menghalangi keinginan anak, melainkan memastikan keputusan tersebut realistis.

Sebaliknya, orang tua juga perlu menghindari kebiasaan mengambil alih semua urusan anak dewasa. Terus-menerus menyelesaikan masalah keuangan, menentukan pilihan pekerjaan, atau mengatur setiap keputusan pribadi dapat membuat anak kesulitan membangun kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.

Anak yang sudah dewasa, sudah seharusnya mampu menyelesaikan permasalahan pribadi tanpa campur tangan orang tua, kecuali mereka meminta bantuan. Tidak semua masalah anak harus dibantu, karena pada akhirnya anak akan kehilangan kemandiriannya. (bl/sa)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: anak dewasahubungan orang tua dan anakkemandirian anakparentingpola asuhpola asuh anakpsikologi keluargausia 18 tahun
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Garuda Indonesia. Foto: Wikimedia Commons

Saatnya Jemaah Umrah Memperkuat Maskapai Nasional

Ilustrasi gas alam. Foto: Foto oleh Patrick Federi di Unsplash

Gas Natuna, Oligarki Migas, dan Ironi Keadilan Energi

Anak dewasa berbincang dengan orang tua tentang kemandirian

Sudah Dewasa tapi Masih Nginthil Orang Tua, Kapan Harus Mandiri?

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In