Kolonial Belanda memecah belah kompi pribumi tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger) dengan memakai perbedaan suku
Bacaini.ID, KEDIRI – Yang menguasai KNIL (Tentara kerajaan Belanda) adalah orang Jawa, Ambon, Menado, Minahasa dan Timor. Jumlah mereka yang terbanyak. Ketika terjadi pembangkangan di kompi Minahasa, kompi Ambon diperintah untuk mengatasinya. Giliran kompi Jawa yang membangkang, kompi Minahasa diminta membereskan. Dalam sejarah KNIL, Kolonial Belanda memakai perbedaan suku untuk memadamkan pembangkangan di tubuh kompi pribumi.
KNIL membagi prajurit pribumi KNIL dalam kompi-kompi berdasarkan suku dengan pimpinan kompi perwira kulit putih, Belanda. Eksis sejak 4 Desember 1830 sebagai Tentara Hindia Timur (Oost Indische Leger) dan namanya baru diresmikan 1933 oleh Perdana Menteri Hendrik Colijn, KNIL memiliki banyak perwira hasil didikan akademi militer di Belanda. Sebagaimana tradisi militer Eropa, KNIL menganut prinsip militer profesional. Antara tugas militer dan politik dipisah secara tegas.
“Tiap personelnya dituntut untuk tunduk pada pemerintah dan tidak berafiliasi pada ideologi tertentu,” demikian dikutip Bacaini.id dari buku Prajurit-prajurit di Kiri Jalan Sabtu (24/10/2026).
Doktrin tentara profesional yang diyakini bagus tersebut, memiliki sisi lemah. Yang diketahui serdadu KNIL hanya perintah atasan dan bertindak atas nama pemerintah. Dengan tidak terikat pada ideologi apapun, para tentara KNIL berfikir dan bergaul bebas dengan siapapun di luar tangsi, termasuk dengan orang-orang ‘merah’.
Tidak adanya pendidikan politik atau pendidikan politik yang rendah membuat mayoritas serdadu KNIL buta politik, yang itu membuat mereka mudah dipengaruhi. “Kebanyakan serdadu KNIL buta politik, umumnya mereka tidak peduli dengan hal berbau politik,” demikian dikutip dari buku Prajurit-prajurit di Kiri Jalan.
Serdadu KNIL Berpendidikan Rendah dan Minim Kesadaran Politik
Banyak serdadu bawahan di KNIL yang buta huruf, meskipun kemudian saat berdinas militer mereka kemudian mulai belajar membaca. Mereka yang berpendidikan baik bisa menjadi sersan.
Mayoritas serdadu KNIL tidak datang dari kalangan pelajar sekolah yang gemar melahap buku. Karenanya para tentara tersebut sulit mengikuti situasi politik, bahkan tidak berkesadaran politik. Mereka hanya tahu pegang senjata dan bertempur.
Serdadu KNIL biasa bertempur menghadapi perlawanan lokal pribumi yang menentang kekuasaan Pemerintah kolonial Hindia Belanda. KNIL memiliki riwayat panjang sebagai tentara pembasmi pemberontakan di Indonesia.
Oerip Soemohardjo, Nasution, Ahmad Yani, Gatot Subroto, dan Soeharto merupakan di antara sejumlah nama mantan perwira dan bintara didikan KNIL, yang di awal kemerdekaan Indonesia berebut pengaruh dengan eks PETA didikan Jepang. (sa/edt)




