Bacaini.ID, KEDIRI – Aktivitas influenza di Indonesia mulai menunjukkan penurunan. Meski demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai penularan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta yang berisiko mengalami komplikasi.
Berdasarkan laporan surveilans Kementerian Kesehatan per 10 Oktober 2026, proporsi hasil pemeriksaan influenza yang positif pada minggu ke-39 turun menjadi 43 persen, dari 49 persen pada minggu sebelumnya. Dari 449 spesimen yang diperiksa, sebanyak 245 dinyatakan positif influenza.
Angka tersebut merupakan persentase spesimen yang positif dari sampel yang diperiksa, bukan berarti 43 persen penduduk Indonesia terinfeksi influenza. Kemenkes menyebut aktivitas influenza di layanan kesehatan primer berada pada tingkat sedang, sedangkan pemantauan di rumah sakit menunjukkan tingkat aktivitas rendah. Kondisi ini menunjukkan adanya penurunan indikator, tetapi bukan berarti risiko penularan telah hilang.
Influenza A mendominasi hasil pemeriksaan
Dalam laporan surveilans minggu ke-39, mayoritas kasus influenza yang terdeteksi berasal dari virus influenza A(H1N1)pdm09. Dari 245 spesimen positif, sebanyak 234 teridentifikasi sebagai influenza A(H1N1)pdm09, sedangkan 11 lainnya merupakan influenza A(H3N2).
Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akibat virus yang dapat menular melalui percikan pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Gejalanya antara lain demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan.
Berbeda dari selesma atau batuk-pilek biasa yang umumnya muncul secara bertahap, influenza dapat menimbulkan gejala lebih mendadak dan rasa lemas yang cukup berat. Namun, gejala saja tidak selalu cukup untuk memastikan jenis virus yang menginfeksi seseorang. Pemeriksaan laboratorium dapat diperlukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Anak-anak termasuk kelompok yang perlu diperhatikan
Data surveilans Kemenkes menunjukkan sekitar 37 persen kasus influenza yang terdeteksi dalam laporan minggu ke-39 berasal dari kelompok usia 0–4 tahun. Angka ini menggambarkan distribusi kasus yang terdeteksi melalui sistem surveilans, bukan persentase seluruh anak Indonesia yang mengalami influenza.
Anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza.
Masyarakat perlu memperhatikan kondisi penderita, terutama jika demam berlangsung lebih dari tiga hari, muncul sesak napas, nyeri dada, tubuh sangat lemas, atau penderita sulit dibangunkan. Kondisi yang sempat membaik tetapi kemudian memburuk juga perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
baca halaman selanjutnya………




