Poin Penting:
- BMKG memprakirakan gelombang di perairan Teluk Prigi, Trenggalek, rendah hingga 2 Oktober 2026.
- Tinggi gelombang umumnya sekitar 1,2 meter, dengan kenaikan hingga 1,3 meter pada Selasa malam.
- Produksi perikanan PPN Prigi 2025 turun menjadi 11.898,5 ton dari 20.918,4 ton pada 2024.
Bacaini.ID, TRENGGALEK – Kondisi laut selatan Trenggalek, Jawa Timur khususnya di perairan Teluk Prigi, diprakirakan masih aman untuk aktivitas melaut hingga 2 Oktober 2026. BMKG memprakirakan tinggi gelombang berada pada kategori rendah, meski nelayan tetap perlu memperhatikan perubahan cuaca dan kondisi angin.
Informasi prakiraan cuaca tersebut disampaikan Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya, Ady Hermanto, melalui rilis resmi mengenai kondisi cuaca di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi Trenggalek.
“Prakiraan gelombang rendah tersebut berlaku hingga 2 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB. Kondisi cuaca secara umum diprakirakan cerah hingga cerah berawan, meski terdapat potensi berawan tebal pada dini hari,” kata Ady Hermanto Selasa (29/9/2026).
Berdasarkan prakiraan pada Selasa (29/9/2026), mulai pukul 07.00 WIB hingga Rabu (30/9/2026) pukul 06.00 WIB, tinggi gelombang laut selatan Trenggalek berada di kisaran 1,2 meter. Dalam klasifikasi BMKG, tinggi gelombang 0,1 hingga 0,5 meter masuk kategori tenang. Sedangkan gelombang 0,5 hingga 1,25 meter termasuk kategori rendah.
Pada Selasa malam (29/9/2026), gelombang diprakirakan sempat mengalami kenaikan hingga 1,3 meter sekitar pukul 19.00 WIB dan berlangsung selama empat jam. Setelah itu, kondisi laut berangsur kembali dengan ketinggian sekitar 1,2 meter.
Sementara kecepatan angin pada 29-30 September diprakirakan berada di kisaran 2 hingga 19 knot. “Kecepatan tersebut setara dengan sekitar 3,7 hingga 35,1 kilometer per jam,” ungkapnya.
Data PPN Prigi mencatat volume produksi perikanan yang didaratkan pada 2025 mencapai 11.898,5 ton dengan nilai produksi Rp124,9 miliar. Angka tersebut menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 20.918,4 ton dengan nilai Rp150,4 miliar.
Penurunan produksi tersebut dipengaruhi faktor oseanografi yang kurang mendukung aktivitas penangkapan, seperti curah hujan tinggi, gelombang tinggi dan kecepatan angin.
Sepanjang 2021-2025, volume produksi perikanan tangkap di PPN Prigi juga menunjukkan tren yang cenderung menurun. Kondisi itu berbanding lurus dengan upaya nelayan yang lebih mempertimbangkan risiko kerugian operasional saat melaut. (aby/sa)




