Poin Penting:
- Career plateau terjadi ketika perkembangan karier terasa stagnan, baik karena peluang promosi terbatas maupun pekerjaan yang tidak lagi memberi tantangan.
- Kondisi ini berbeda dengan burnout, karena career plateau lebih berkaitan dengan persepsi terhadap perkembangan dan tantangan karier.
- Mengalami karier stagnan tidak otomatis berarti harus resign; seseorang dapat mengevaluasi kebutuhan, mengembangkan keterampilan, berdiskusi dengan atasan, atau mempertimbangkan perubahan pekerjaan.
Bacaini.ID, KEDIRI – Career plateau adalah kondisi ketika seseorang merasa kariernya tidak lagi berkembang meski pekerjaan tetap berjalan, gaji diterima, dan pengalaman terus bertambah. Karier stagnan tidak selalu berarti performa buruk atau tanda seseorang harus segera resign. Ada berbagai penyebab career plateau, mulai dari terbatasnya jenjang jabatan, rutinitas pekerjaan, hingga minimnya kesempatan belajar dan berkembang.
Career Plateau, Ketika Karier Berhenti Berkembang
Career plateau pertama kali banyak dibahas dalam literatur perilaku organisasi sebagai kondisi ketika kemungkinan seseorang untuk memperoleh promosi semakin kecil. Namun, konsep ini kemudian berkembang karena stagnasi karier tidak hanya berkaitan dengan naik jabatan.
Salah satu bentuknya adalah hierarchical plateau, ketika peluang untuk naik ke posisi yang lebih tinggi memang terbatas. Misalnya, seorang karyawan sudah mencapai posisi supervisor, tetapi hanya tersedia satu posisi manajer dan posisi tersebut jarang kosong.
Ada pula content plateau, yaitu ketika seseorang mulai merasa pekerjaannya tidak lagi memberikan tantangan atau kesempatan untuk mempelajari hal baru. Jabatan mungkin tetap sama, tetapi rutinitas pekerjaan menjadi terlalu mudah ditebak.
Kondisi lain dapat muncul ketika seseorang merasa tidak lagi mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan atau memperluas tanggung jawab. Pekerjaan tetap dilakukan dengan baik, namun kemampuan yang dimiliki terasa tidak banyak bertambah.
Karena itu, career plateau tidak selalu terlihat dari luar. Dua orang dengan jabatan yang sama dapat mengalami kondisi berbeda. Seseorang mungkin merasa nyaman karena sudah menguasai pekerjaannya, sementara orang lain justru merasa frustrasi karena membutuhkan tantangan baru.
Mengapa Karier Bisa Mengalami Stagnasi?
Ada banyak faktor yang dapat berkontribusi terhadap career plateau. Struktur perusahaan menjadi salah satunya. Organisasi dengan jenjang jabatan terbatas secara alami memiliki lebih sedikit posisi untuk diperebutkan.
Masa kerja yang panjang juga tidak otomatis menghasilkan promosi. Promosi biasanya dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebutuhan organisasi, ketersediaan posisi, kompetensi, performa, dan keputusan manajemen.
Dari sisi pekerjaan, rutinitas yang berlangsung terlalu lama juga dapat membuat seseorang merasa perkembangan dirinya berhenti. Pekerjaan yang dulu terasa menantang mungkin menjadi mudah setelah bertahun-tahun dilakukan.
Namun, penting membedakan career plateau dengan burnout. Keduanya dapat sama-sama membuat seseorang merasa tidak nyaman dengan pekerjaan, tetapi masalahnya berbeda.
Career plateau terutama berkaitan dengan persepsi tentang terbatasnya perkembangan atau tantangan karier, sedangkan burnout berkaitan dengan kondisi stres kerja kronis yang dapat melibatkan kelelahan, jarak psikologis terhadap pekerjaan, dan menurunnya efektivitas profesional.
Perbandingan dengan orang lain juga dapat memperkuat perasaan stagnan. Media sosial membuat perkembangan karier orang lain mudah terlihat: promosi, jabatan baru, sertifikasi, pekerjaan di perusahaan besar, atau pencapaian profesional.
Padahal, perjalanan karier tidak selalu bergerak dalam pola yang sama. Seseorang bisa sengaja memilih posisi yang stabil karena prioritas keluarga, kesehatan, pendidikan, atau kehidupan di luar pekerjaan. Tidak semua orang yang tidak mengejar promosi sedang mengalami masalah karier.
Karier Stagnan Tidak Selalu Berarti Harus Resign
Ketika merasa karier jalan di tempat, langkah pertama tidak harus mengirim surat pengunduran diri. Justru penting mencari tahu bagian mana yang sebenarnya terasa stagnan.
Apakah yang diinginkan adalah kenaikan jabatan? Penghasilan yang lebih besar? Pekerjaan yang lebih menantang? Kesempatan belajar? Tanggung jawab yang lebih luas? Atau sebenarnya pekerjaan sudah tidak sesuai dengan tujuan hidup saat ini?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat menghasilkan langkah yang berbeda.
Jika masalahnya adalah kurangnya keterampilan baru, seseorang dapat mencari pelatihan, sertifikasi, proyek lintas divisi, atau tanggung jawab tambahan. Jika masalahnya adalah terbatasnya peluang promosi, pembicaraan dengan atasan mengenai jalur karier dapat membantu memperjelas kemungkinan yang tersedia.
Sementara jika pekerjaan sudah tidak memberikan ruang berkembang, perpindahan divisi atau mencari posisi di organisasi lain dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.
Career plateau juga dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi definisi ‘maju’ dalam karier. Kemajuan tidak selalu berbentuk jabatan yang lebih tinggi. Ada orang yang menganggap penguasaan keahlian tertentu sebagai perkembangan. Ada pula yang lebih memilih fleksibilitas kerja, pendapatan yang stabil, atau keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Dengan demikian, merasa stagnan tidak otomatis berarti karier sedang gagal. Yang perlu diperiksa adalah apakah kondisi tersebut memang sesuai dengan pilihan hidup seseorang atau justru terjadi karena tidak adanya kesempatan untuk bergerak.
Karier memang tidak selalu berjalan naik secara terus-menerus. Ada fase ketika seseorang berada di satu posisi untuk waktu lama sebelum mengambil arah baru. Career plateau menjadi masalah ketika stagnasi tersebut tidak lagi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan seseorang.
Mengenali kondisi itu lebih awal dapat membantu seseorang menentukan apakah perlu mengembangkan kemampuan, mencari tantangan baru, berdiskusi dengan perusahaan, atau memang mempertimbangkan perubahan jalur karier. (bl/sa)




