Bacaini.ID, JEMBER – Program Home Care milik Pemkab Jember kerap disalahpahami sekadar petualangan tenaga kesehatan mendatangi rumah warga tiap hari. Nyatanya, program jemput bola ini bekerja dengan sistem rekam medis yang terukur dan hanya menyasar warga yang benar-benar kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Anggota Komisi D DPRD Jember, Ahmad Dhafir Syah, menyebut ada enam kelompok warga yang jadi prioritas utama layanan ini:
- Lansia sebatang kara yang butuh perawatan.
- Penyandang disabilitas.
- Ibu hamil risiko tinggi.
- Penderita penyakit kronis.
- Keluarga dengan balita stunting.
- Warga miskin ekstrem berpenyakit.
Tidak Perlu Datang Tiap Hari
Dhafir, yang punya latar belakang belasan tahun sebagai tenaga medis di dalam dan luar negeri, meluruskan pola kunjungan Home Care. Petugas tidak diwajibkan datang setiap hari ke rumah pasien. Semua bergantung pada kondisi medis saat asesmen awal.
Jika pasien butuh perawatan intensif, petugas akan merujuknya ke Puskesmas atau RSUD terdekat. Sebaliknya, pasien rawat jalan diberi stok obat untuk 2–3 hari.
“Kalau kondisinya membaik, pantauan cukup lewat telemedicine dan obat diantar ke rumah. Tidak perlu pasien antre ke Puskesmas. Tapi kalau belum ada kemajuan, tim medis akan berkunjung lagi sesuai catatan rekam medis,” ujar Dhafir.
Sekali Datang, Dua-Tiga Masalah Terurai
Program yang melibatkan sekitar 1.200 nakes dari 50 Puskesmas ini juga punya efek samping positif. Saat mendatangi rumah warga, nakes tak cuma memeriksa fisik, tapi juga melihat kondisi lingkungan sekitar.
Jika ditemukan rumah tak layak huni atau belum punya jamban, temuan itu langsung diteruskan ke dinas terkait atau lewat kanal aduan Wadul Guse untuk ditindaklanjuti.
Dirasakan Langsung Warga Pinggir Hutan
Dampak nyata program ini salah satunya dirasakan Mbah Sami (72), warga Desa Curahnongko. Tinggal sendirian di dekat kawasan hutan dengan keluhan tulang belakang dan nyeri kaki, Mbah Sami kesulitan jika harus berobat sendiri ke fasilitas kesehatan.
Kedatangan tim medis dari Puskesmas Curahnongko ke rumahnya jadi jawaban atas keterbatasan akses tersebut.
“Maturnuwun Gus Bupati, Bapak Ibu maturnuwun Kulo (Terima kasih Gus Bupati, Bapak dan Ibu terima kasih),” kata Mbah Sami. (meg/adv)




