Poin Penting:
- Impostor syndrome dapat membuat perempuan berprestasi meragukan kompetensi dan merasa tidak layak atas pencapaiannya.
- Standar sosial, lingkungan kerja yang didominasi pria, perfeksionisme, dan keraguan diri dapat memperkuat fenomena tersebut.
- Budaya kerja yang objektif, mentorship, serta lingkungan profesional yang aman dapat membantu mengurangi dampaknya.
Bacaini.ID, KEDIRI – Impostor syndrome atau sindrom penyusup sesuai riset berpotensi lebih besar menimpa perempuan ketimbang laki-laki. Apa itu? Perasaan cemas dan ketakutan yang muncul di balik kesuksesan karier atau prestasi yang digapai di dunia kerja. Takut suatu hari akan ‘terbongkar’ sebagai penipu yang tidak kompeten.
Impostor syndrome perempuan pertama kali diidentifikasi oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes pada 1978. Studi awal tersebut secara spesifik meneliti kelompok perempuan berprestasi tinggi yang terus-menerus merasa bahwa pencapaian mereka hanyalah hasil dari keberuntungan, kebetulan, atau kesalahan penilaian orang lain.
Lebih dari empat dekade berlalu, kondisi ini tetap menjadi ganjalan utama bagi banyak perempuan dalam meniti karier.
Mengapa Perempuan Lebih Rentan Mengalami Impostor Syndrome?
Secara kapasitas intelektual dan biologis, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa perempuan kurang kompeten dibanding pria. Namun, cara masyarakat membesarkan dan menilai gender menciptakan kerentanan yang berbeda.
Sejak dini, perempuan sering dihadapkan pada standar ganda. Ketika seorang pria bersikap tegas, ambisius, dan dominan, lingkungan cenderung melabelinya sebagai sosok pemimpin yang kuat. Sebaliknya, ketika perempuan menunjukkan preferensi perilaku yang sama, label yang menempel kerap berkonotasi negatif, seperti galak, dominan, atau sulit diatur.
Internalisasi atas kritik sosial ini membuat perempuan cenderung insecure. Setiap kali meraih posisi strategis, ada dorongan internal untuk mempertanyakan apakah mereka benar-benar layak berada di posisi tersebut atau hanya memenuhi kuota keberagaman semata.
Faktor struktural di dunia kerja memperparah kondisi ini. Di sektor-sektor yang secara historis didominasi pria, seperti teknologi, teknik, hingga jajaran eksekutif puncak, perempuan kerap menjadi minoritas tunggal di ruang rapat.
Kondisi ini membuat perempuan tanpa sadar menganggap diri sendiri sebagai ‘tamu’. Lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif juga berisiko memicu kecurigaan bahwa pencapaian perempuan didapatkan karena faktor eksternal, bukan murni kompetensi. Akibatnya, perempuan merasa harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk membuktikan kelayakan dasar mereka.
Di luar faktor eksternal, ada pula dinamika perbedaan kebiasaan antara pria dan wanita. Psikologi sosial mencatat bahwa perempuan umumnya lebih terbuka dalam mengakui rasa cemas, keraguan diri, serta kerentanan emosional.
Di sisi lain, konstruksi maskulinitas tradisional sering kali menuntut pria untuk menyembunyikan keraguan diri di balik narasi percaya diri, meskipun mereka mengalami keraguan yang sama di dalam hati. Hal ini membuat angka kejadian impostor syndrome pada perempuan tampak lebih menonjol dalam berbagai survei dan data lapangan.
Dampak Impostor Syndrome terhadap Perkembangan Karier
Impostor syndrome bukan sekadar masalah perasaan ragu, melainkan hambatan nyata bagi mobilitas karier. Industri kerap kehilangan potensi terbaik karena dampak dari fenomena ini.
Perempuan yang mengalami impostor syndrome cenderung menunjukkan pola perilaku berikut
• Enggan Mengambil Peluang
Menolak tawaran promosi atau enggan melamar pekerjaan baru kecuali jika merasa telah memenuhi 100 persen kualifikasi yang diminta.
• Perfeksionisme Ekstrem
Mematok standar tidak realistis pada diri sendiri, yang berujung pada kelelahan fisik dan mental (burnout).
• Menolak Kredit atas Keberhasilan
Mengatribusikan kesuksesan proyek pada faktor luar seperti ‘bantuan tim’ atau ‘keberuntungan’, sembari menanggung beban penuh ketika terjadi kesalahan kecil.
• Keraguan dalam Bernegosiasi
Cenderung ragu menawar gaji atau fasilitas kerja karena merasa beruntung sudah diterima bekerja. Untuk menangani impostor syndrome, tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Meminta perempuan untuk sekadar ‘lebih percaya diri’ adalah pendekatan yang terlalu menyederhanakan dan mengabaikan akar masalah. Perusahaan dan organisasi memegang peranan kunci untuk mereduksi fenomena ini melalui langkah nyata. Berikut di antaranya.
• Membangun Budaya Evaluasi Berbasis Data
Penilaian kinerja yang objektif dan transparan membantu karyawan melihat fakta pencapaian mereka, bukan sekadar asumsi pribadi.
• Mentorship dan Sponsor yang Inklusif
Program pendampingan aktif bagi pekerja perempuan membantu membukakan jalan serta memberikan validasi profesional yang objektif.
• Menciptakan Lingkungan Kerja Aman
Membudayakan ruang diskusi yang mengizinkan kegagalan sebagai proses belajar, sehingga karyawan tidak merasa harus menjadi sempurna setiap saat. Impostor syndrome pada perempuan bukanlah tanda kelemahan pribadi, melainkan cermin dari lingkungan sosial dan profesional yang masih berproses menuju kesetaraan utuh.
Mengenali akar masalahnya adalah langkah awal untuk memastikan bahwa pencapaian setiap individu diakui berdasarkan kapasitas nyata, bukan dibayangi oleh keraguan yang tidak beralasan. (bl/sa)




