Poin Penting:
- Budaya FOMO membuat generasi muda rentan mengikuti dan mempercayai informasi viral tanpa verifikasi.
- Gen Z dan Gen Alpha perlu membiasakan cek fakta, membaca konteks, serta membandingkan sumber informasi.
- Sekolah, keluarga, dan komunitas perlu menjadikan literasi digital sebagai kebiasaan, bukan sekadar materi seminar.
Bacaini.ID — Melimpahnya informasi pada era digital menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda saat ini. Kemudahan mengakses berbagai platform media sosial yang disokong oleh Artificial Intelligence (AI) bukan lagi sebagai berkah ketika semua informasi ditelan mentah-mentah tanpa proses verifikasi, yang itu diperparah oleh budaya FOMO di media sosial.
Budaya fear of missing out (FOMO) atau kecenderungan ikut tren atau informasi hanya karena khawatir tertinggal dari lingkungan sosial menjadi salah satu akar permasalahan. Seseorang didorong untuk langsung mempercayai atau mengikuti sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.
Yang sering terjadi dalam budaya FOMO, mereka dalam menelan informasi tidak didahului dengan upaya memahami konteks dan kebenaran. Celakanya lagi, karena tidak punya kecakapan literasi dan sikap kritis, semua informasi yang disuguhkan mesin Google dan AI dianggap sebagai fakta dan kebenaran.
Padahal tidak demikian. Dalam kelimpahan informasi digital, ada istilah Misinformasi atau informasi salah dan tidak akurat yang tidak disengaja disebarkan. Ada Disinformasi atau informasi salah yang sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu dan Malinformasi atau informasi yang dimanipulasi dan disalahgunakan. Karenanya diperlukan cek fakta informasi.
Mengacu data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tahun 2024, ada sebanyak 1.923 konten yang teridentifikasi sebagai konten hoaks. Angka tersebut adalah yang terdeteksi. Artinya jumlah yang lolos dan terus beredar diperkirakan jauh lebih besar.
Cek Ricek dan Verifikasi Sumber Informasi
Gen Z dan Gen Alpha menjadi kluster generasi yang paling dikhawatirkan. Terutama pola konsumsi mereka di media sosial. Kebiasaan scrolling dengan cepat berpotensi menjadikan mereka sebagai makhluk pelahap potongan-potongan informasi tanpa berusaha memahami persoalan secara utuh.
Yang terjadi informasi hanya ditangkap secara parsial dan karena tidak utuh, seringkali tidak memahami substansi maupun konteks yang ada. Di sini kecakapan membaca secara utuh, menemukan sumber pembanding, serta ketelatenan melakukan verifikasi menjadi hal yang sangat penting.
Semisal dalam satu informasi atau opini yang sedang viral di media sosial. Sungguh celaka kalau langsung dianggap kebenaran hanya karena banyak mendapat engagement dan dibagikan berulangkali oleh netizen. Yang harus dilakukan adalah melakukan cek dan ricek, memastikan kebenarannya, syukur-syukur memahami konteks persoalan.
Literasi Digital Orang Tua Juga Penting
Apakah hanya lembaga pendidikan (sekolah) dan anak-anak, khususnya generasi Gen Z dan Gen Alpha yang perlu memahami literasi digital? Jawabannya tidak. Orang tua juga perlu memahami apa itu bermedia digital yang sehat.
Dengan pengetahuan yang dimiliki akan memudahkan fungsi pendampingan kepada anak-anaknya. Bukan hanya menjadi anak-anak yang aktif menggunakan teknologi, tapi juga konsumen informasi yang kritis, cermat dan bertanggungjawab. Termasuk memberikan batasan penggunaan gawai sesuai usia dan kebutuhan.
Sekali lagi. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, kemampuan membedakan fakta, opini, informasi yang belum terverifikasi menjadi bekal penting agar generasi muda tidak sekadar menjadi konsumen arus informasi digital.
Sudah waktunya sekolah, keluarga, dan komunitas menjadikan literasi digital sebagai kebutuhan, bukan sekadar materi seminar. Generasi muda waktunya meninggalkan FOMO dan mengganti dengan konsep JOMO (Joy of Missing Out). Situasi di mana seseorang merasa cukup dan nyaman tanpa harus mengikuti setiap tren.
Penulis: Mohammad Trijanto, SH, MM, MH
*) Penulis adalah Direktur Revolutionary Law Firm




