Poin Penting:
- Cara memberi instruksi yang jelas dan singkat dapat membuat anak lebih mudah memahami arahan orang tua.
- Orang tua perlu membedakan permintaan dan instruksi serta memberi pilihan secara tepat agar anak tetap merasa memiliki kendali.
- Anak yang menolak perintah belum tentu membangkang; rasa lelah, lapar, takut, atau tidak enak badan bisa menjadi penyebabnya.
Bacaini.ID, KEDIRI – Bagaimana membuat anak dengan senang hati mau menurut (manut), mendengarkan dan mengikuti arahan orang tua? Sehingga tidak ada lagi ‘drama’ rengekan, penolakan atau bahkan pertengkaran kecil.
Memahami cara berkomunikasi dengan anak yang efektif melalui penggunaan permintaan dan instruksi secara tepat adalah kunci utama dalam mengelola perilaku anak usia dini, khususnya cara menghadapi anak prasekolah berusia 2 hingga 8 tahun.
Berdasarkan panduan resmi Raising Children Network, jaringan pengasuhan anak terkemuka dari Australia, berikut cara jitu membuat anak ‘manut’ pada perintah orang tua dan memahami instruksi.
Bedakan Permintaan dan Instruksi kepada Anak
Sebelum meminta anak melakukan sesuatu, orang tua perlu membedakan secara jelas antara kalimat ‘permintaan’ dan ‘instruksi’. Permintaan adalah saat orang tua meminta anak untuk melakukan sesuatu, di mana anak memiliki pilihan untuk menjawab ya atau tidak.
Misalnya, “Apakah kamu mau untuk membuang sampah itu?” Permintaan memberikan anak rasa kendali dan pilihan. Anak bisa menjawab iya atau tidak.
Sedangkan instruksi adalah saat orang tua menyuruh anak melakukan sesuatu yang orang tua inginkan dan kapan harus dilakukan, tanpa memberi anak pilihan untuk menolak. Misalnya, “Tolong buang sampah makananmu sekarang”
Orang tua perlu menggunakan kombinasi yang seimbang antara instruksi dan permintaan. Instruksi sangat penting untuk urusan keselamatan serta melatih kedisiplinan untuk mempersiapkan mereka masuk prasekolah dan sekolah. Di sisi lain, terlalu banyak instruksi dapat membuat anak merasa kewalahan dan memicu penolakan. Sebaliknya, permintaan memberikan anak ruang untuk merasakan otonomi dan pilihan.
Kuncinya adalah, menghindari kalimat ambigu seperti, “Kenapa tidak ada yang membuang sampah ini?”. Kalimat seperti ini membingungkan anak karena mereka tidak tahu apakah orang tua sedang meminta bantuan, menyuruh, atau sekadar ‘ngomel’.
Cara Memberi Instruksi agar Anak Mau Mengikuti Arahan
Anak tidak selalu secara otomatis tahu cara merespons perintah. Ada teknik-teknik spesifik yang dapat meningkatkan peluang anak untuk patuh dan bekerja sama, diantaranya adalah memastikan perhatian anak tertuju pada orang tua. Sebelum memberikan instruksi, pastikan anak benar-benar mendengarkan dengan cara:
- Bergerak mendekat dalam jarak ideal 2 meter.
- Menjajarkan posisi tubuh hingga setinggi mata anak.
- Menggunakan nama anak.
- Menggunakan nada suara yang rendah dan tenang.
Selain itu, gunakan bahasa yang jelas dan singkat. Instruksi harus singkat, padat, dan sesuai dengan usia anak. Untuk balita, berikan satu instruksi tunggal yang sangat spesifik, misalnya, “Tolong buang sampahnya”. Sementara untuk anak berusia 5 tahun, orang tua bisa berkata, “Tolong buang sampahnya di dapur, dan tutup lagi tempat sampahnya”. Hindari memberikan banyak instruksi sekaligus.
Instruksi yang bersifat positif jauh lebih membantu anak karena memberi tahu mereka secara persis tindakan yang diinginkan. Misalnya, katakan “Tolong kalau selesai makan sesuatu, buang sampahnya” alih-alih “Jangan jorok!”.
Anak-anak selalu merasa senang jika keinginan mereka dipenuhi. Memasukkan opsi pilihan ke dalam instruksi dapat meningkatkan motivasi mereka untuk patuh. Misalnya saat menyuruh mereka mandi, berikan pilihan yang menarik, “Sudah waktunya mandi, ayo bersiap. Mau mandi air hangat atau air dingin?”.
Saat pertama kali memberikan instruksi, minta anak untuk mengulanginya kembali perintah yang diberikan orang tua. Hal ini berfungsi untuk memastikan bahwa anak benar-benar mendengar dan memahami apa yang orang tua inginkan. Seiring waktu, langkah ini tidak lagi diperlukan kecuali jika mereka berhenti mengikuti instruksi.
Jika anak tidak langsung mengikuti instruksi, mereka mungkin hanya butuh pengingat. Ulangi instruksi dengan tenang. Jika memungkinkan, tambahkan insentif atau alasan positif, seperti: “Kalo sudah mandi nanti kita beli jajan di warung”. Mengajarkan anak untuk melakukan perintah dulu, hadiah menyusul kemudian.
Untuk anak berusia di atas 3 tahun yang tidak mau mengikuti instruksi, orang tua dapat menggunakan konsekuensi. Misalnya, jika tidak segera mandi, Ayah atau Bunda akan pergi ke warung sendiri tanpa ajak si anak.
Ini akan membuat anak belajar bahwa terkadang mereka perlu melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai demi keluarga, menghindari ketidaknyamanan, atau mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Kenapa Anak Tidak Mau Mengikuti Perintah Orang Tua?
Jika anak tidak kooperatif, orang tua perlu memikirkan alasan di balik perilaku tersebut. Orang tua mungkin berekspektasi melebihi kapasitas kemampuan anak, latih keterampilan cara berkomunikasi dengan anak dan berikan contoh dalam tindakan.
Anak mungkin memiliki alasan yang wajar untuk tidak menuruti perintah, seperti merasa tidak enak badan, lelah, lapar, atau takut. Meminta anak yang kelelahan sepulang bermain untuk segera mandi, tidak akan berhasil. Beri jeda waktu sampai anak dirasa siap.
Jika anak sedang difase ‘memberontak’, selalu menolak perintah, orang tua harus tetap konsisten, tegas, penuh kasih sayang, serta fokus pada hal-hal penting seperti keselamatan. (bl/sa)




