Bacaini.ID, KEDIRI – Drama politik terbaru di Senayan berubah jadi komedi satir. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan delapan tersangka kasus dugaan suap pengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Summarecon Agung, publik justru sibuk mencari Nusron Wahid.
Menteri ATR/BPN itu mendadak absen dari rapat DPR pada 15–16 September, sehari setelah operasi tangkap tangan yang menyeret empat orang dekatnya. Kursi kosong yang harusnya ditempati Nusron jadi bahan guyonan di media sosial.
Alasan resmi dari Wakil Menteri Ossy Dermawan sederhana, Nusron punya “agenda lain.” Tapi publik yang sudah terbiasa dengan drama politik Indonesia langsung menulis skenario alternatif.
baca ini:
Ada yang berspekulasi Nusron sedang snorkeling di laut lepas, ada yang bilang ia sembunyi di basement kementerian, bahkan ada yang bercanda Nusron sedang casting untuk film animasi Finding Nusron.
Empat nama yang ditetapkan KPK, Erwin, Arif Sugiyanto, Muhammad Fakhry, dan Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq, semuanya dikenal dekat dengan Nusron. Publik pun makin yakin bahwa absennya sang menteri bukan kebetulan.
Di media sosial, netizen menjelma sutradara dadakan, menulis teori konspirasi lebih seru daripada sinetron prime time.
Sementara itu, Istana Kepresidenan memilih gaya minimalis; tidak intervensi dan tidak komentar panjang. Seolah berkata, “Silakan cari Nusron sendiri, kami tidak menyediakan peta harta karun.”
KPK tetap melanjutkan penggeledahan, seakan jadi monster laut yang sabar menunggu ikan badut keluar dari karang.
Dalam film Finding Nemo, sang ayah akhirnya menemukan anaknya setelah perjalanan panjang penuh bahaya. Dalam Finding Nusron, publik masih menunggu, apakah KPK yang akan menemukan, atau Nusron sendiri yang muncul dengan gaya dramatis seperti cameo di akhir film. (htw/edt)




