Poin Penting:
- Childfree merupakan pilihan hidup yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, bukan semata-mata tren.
- Pertimbangannya bisa mencakup keinginan pribadi, ekonomi, karier, beban pengasuhan, relasi, serta pengalaman keluarga.
- Sebagian perempuan juga mempertimbangkan kehamilan, persalinan, kesehatan, dan kondisi masa depan sebelum mengambil keputusan.
Bacaini.ID, KEDIRI – Keputusan untuk tidak memiliki anak atau childfree semakin terbuka dibicarakan oleh perempuan di ruang publik. Pilihan ini tidak selalu lahir dari satu alasan, tetapi dapat berkaitan dengan keinginan pribadi, kondisi ekonomi, karier, hubungan dengan pasangan, pengalaman keluarga, hingga kekhawatiran terhadap masa depan.
Istilah childfree lazimnya digunakan untuk menggambarkan pilihan seseorang untuk tidak memiliki anak secara sukarela. Pilihan hidup childfree juga tidak selalu muncul karena satu alasan. Penelitian mengenai voluntary childlessness menunjukkan bahwa keputusan untuk tidak menjadi orang tua dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor individual dan sosial.
Artinya, alasan memilih childfree karena memang tidak memiliki keinginan menjadi orang tua, sementara orang lain mempertimbangkan konsekuensi ekonomi, karier, hubungan dengan pasangan, atau pengalaman keluarga.
Tidak Semua Perempuan Memiliki Keinginan Menjadi Ibu
Salah satu pertimbangan paling mendasar adalah keinginan personal. Menjadi ibu selama ini sering dianggap sebagai bagian alami dari perjalanan hidup perempuan. Padahal, keinginan untuk memiliki anak tidak muncul secara otomatis pada setiap orang. Sebagian perempuan memang tidak memiliki keinginan untuk menjalani peran sebagai ibu.
Childfree bukan selalu keputusan untuk menghindari sesuatu, namun bisa merupakan pilihan terhadap bentuk kehidupan yang dianggap sesuai dengan dirinya. Keputusan tersebut juga berkaitan dengan otonomi pribadi. Tidak memiliki anak memungkinkan seseorang mengatur waktu, pekerjaan, tempat tinggal, aktivitas, dan penggunaan sumber daya tanpa tanggung jawab pengasuhan anak.
Hal ini penting karena keputusan memiliki anak membawa konsekuensi jangka panjang. Pengasuhan bukan hanya persoalan kehamilan dan kelahiran, tetapi juga mencakup waktu, perhatian, pendidikan, kesehatan, pengasuhan sehari-hari, hingga tanggung jawab finansial selama bertahun-tahun.
Biaya Membesarkan Anak dan Ketidakpastian Ekonomi
Pertimbangan ekonomi menjadi faktor lain yang tidak dapat dilepaskan dari keputusan mengenai reproduksi. Memiliki anak berarti menambah kebutuhan rumah tangga, mulai dari makanan, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, pengasuhan, hingga kebutuhan sosial dan perkembangan anak. Besarnya biaya tentu berbeda pada setiap keluarga dan negara, namun tanggung jawab finansial tersebut bersifat jangka panjang.
Perubahan kondisi ekonomi dapat menjadi salah satu pertimbangan individual ketika seseorang menentukan apakah ingin memiliki anak atau tidak. Kekhawatiran mengenai biaya pendidikan, harga rumah, biaya kesehatan, pengasuhan anak, serta ketidakpastian pendapatan dapat membuat sebagian orang menilai kembali kesiapan untuk menjadi orang tua.
Karier dan Risiko yang Tidak Sama bagi Perempuan
Pekerjaan juga menjadi pertimbangan penting, terutama karena dampak memiliki anak terhadap karier perempuan masih berbeda dibandingkan laki-laki. Kehamilan, persalinan, masa pemulihan, menyusui, hingga kebutuhan pengasuhan dapat membuat perempuan mengambil cuti atau mengurangi keterlibatan dalam pekerjaan. Setelah kembali bekerja, sebagian perempuan juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan perkembangan karier.
Fenomena ini dikenal sebagai ‘motherhood penalty’, yaitu kerugian ekonomi atau karier yang berkaitan dengan status sebagai ibu.
Penelitian Shelley J. Correll, Stephen Benard, dan In Paik yang diterbitkan dalam American Journal of Sociology, menemukan adanya ‘motherhood penalty’ dalam proses perekrutan dan evaluasi kerja. Studi tersebut menunjukkan bahwa status sebagai ibu dapat memengaruhi penilaian terhadap kompetensi dan komitmen seseorang di tempat kerja.
Kondisi tersebut membuat sebagian perempuan mempertimbangkan konsekuensi karier sebelum memiliki anak. Pertimbangannya bukan sekadar ‘ingin bekerja atau ingin punya anak’, melainkan bagaimana pekerjaan dan pengasuhan dapat dijalankan secara bersamaan.
Bagi perempuan yang memiliki tujuan karier tertentu atau tidak ingin mengalami perubahan besar dalam kehidupan profesionalnya, childfree dapat dipandang sebagai salah satu pilihan hidup.
Beban Pengasuhan dan Pembagian Tanggung Jawab
Pertanyaan mengenai pembagian pengasuhan juga menjadi bagian penting dalam keputusan untuk tidak memiliki anak. Memiliki anak berarti ada pekerjaan pengasuhan yang harus dilakukan setiap hari. Selain pekerjaan fisik seperti memberi makan, memandikan, mengantar, atau menjaga anak, terdapat pekerjaan kognitif yang tidak selalu terlihat.
Dalam keluarga, perempuan kerap menghadapi ekspektasi sebagai pihak yang lebih bertanggung jawab terhadap pengasuhan. Jika seorang perempuan memperkirakan sebagian besar pekerjaan pengasuhan akan jatuh kepadanya, keputusan untuk tidak memiliki anak dapat menjadi salah satu respons terhadap pertimbangan tersebut.
Pengalaman Keluarga dan Hubungan dengan Pasangan
Pengalaman masa kecil juga dapat memengaruhi pandangan seseorang mengenai kehidupan berkeluarga. Hubungan dengan orang tua, pola pengasuhan, konflik dalam keluarga, maupun pengalaman menyaksikan hubungan orang dewasa dapat membentuk cara seseorang memandang pernikahan dan menjadi orang tua.
Kesediaan pasangan untuk berbagi pekerjaan rumah dan pengasuhan dapat menjadi pertimbangan ketika membicarakan rencana memiliki anak. Karena menjadi orang tua merupakan keputusan bersama dalam banyak keluarga, kualitas hubungan dan kesepakatan mengenai pembagian tanggung jawab menjadi hal yang relevan.
Kehamilan, Persalinan, dan Kekhawatiran terhadap Masa Depan
Pertimbangan mengenai tubuh dan kesehatan juga dapat muncul dalam keputusan childfree. Kehamilan dan persalinan merupakan proses biologis yang memiliki berbagai konsekuensi terhadap tubuh perempuan. Sebagian perempuan dapat merasa tidak ingin mengalami kehamilan dan persalinan, sementara yang lain memiliki pertimbangan kesehatan tertentu.
Ada pula perempuan yang mempertimbangkan risiko dan perubahan fisik yang dapat menyertai kehamilan. Selain faktor yang bersifat personal, sebagian orang juga mempertimbangkan kondisi dunia ketika memikirkan masa depan anak.
Perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, konflik, hingga kekhawatiran mengenai kondisi sosial menjadi tema yang muncul dalam berbagai diskusi mengenai keputusan memiliki anak. Faktor tersebut dapat menjadi pertimbangan tambahan. Semakin terbukanya pembicaraan mengenai childfree membuat pilihan tersebut lebih mudah terlihat di ruang publik. Perempuan tidak lagi merasa sungkan dan risih menunjukkan pilihan hidupnya untuk childfree, sebagai keputusan sadar yang dilakukan dengan banyak pertimbangan logis.
Pada akhirnya, keputusan memiliki atau tidak memiliki anak merupakan keputusan reproduksi yang membawa konsekuensi jangka panjang. Karena itu, memahami childfree tidak cukup dengan melihatnya sebagai tren atau sikap terhadap anak. Ada serangkaian pertimbangan personal, ekonomi, pekerjaan, relasi, pengasuhan, dan masa depan yang dapat membentuk keputusan setiap perempuan. (bl/sa)




