• Login
Bacaini.id
Sunday, September 13, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

“Biar Aku Saja” Bisa Jadi Tanda Parental Gatekeeping, Ini Dampaknya bagi Orang Tua dan Anak

Kebiasaan mengoreksi dan mengambil alih pengasuhan secara terus-menerus dapat membuat pasangan kehilangan kepercayaan diri serta mengganggu kerja sama orang tua dalam membesarkan anak

ditulis oleh Solichan Arif
13 September 2026 19:25
Durasi baca: 4 menit
Parental gatekeeping dalam pengasuhan anak ketika salah satu orang tua terlalu mengontrol pasangan

Parental gatekeeping dapat terjadi ketika salah satu orang tua terlalu sering mengoreksi atau mengambil alih pengasuhan pasangan (foto ilustrasi)

Reporter: Bromo Liem | Editor: Solichan Arif

Poin Penting:

  • Parental gatekeeping terjadi ketika salah satu orang tua terlalu sering mengontrol, mengoreksi, atau mengambil alih pengasuhan pasangan.
  • Kebiasaan tersebut dapat membuat pasangan kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya semakin menjauh dari pengasuhan anak.
  • Pola ini bisa dihentikan dengan membedakan aturan yang wajib dipatuhi dan memberi ruang kepada pasangan untuk mengasuh dengan caranya sendiri.

Bacaini.ID, KEDIRI – Kalimat “Biar aku saja” terdengar sederhana dalam pengasuhan anak. Namun jika terus diucapkan sambil mengoreksi atau mengambil alih peran pasangan, kebiasaan tersebut bisa menjadi tanda parental gatekeeping.

Parental Garenting dalam pengasuhan dikenal dalam psikologi keluarga, yang itu merujuk pada perilaku orang tua dalam pengasuhan anak. Bentuknya bisa berupa mendorong keterlibatan pasangan, tetapi juga bisa sebaliknya, yakni membatasi atau menghambat dalam mengasuh anak.

Baca Juga: Ini Work From Home Parenting Untuk Ortu yang Bisnis di Rumah

Parental gatekeeping tidak selalu dilakukan dengan sengaja. Seseorang bisa melakukannya karena merasa dirinya lebih berpengalaman, khawatir cara pasangan akan membuat anak tidak nyaman, atau terbiasa menjadi orang yang paling banyak menangani kebutuhan anak merupakan contoh parental gatekeeping. Masalah muncul ketika ada yang merasa apa pun yang dilakukan selalu salah.

Ketika Kalimat “Biar Aku Saja” Menjadi Pola

Contohnya sederhana. Ketika ayah sedang memandikan anak, ibu terus mengoreksi karena dianggap terlalu lama. Saat ibu menyiapkan makanan, ayah mengatakan caranya salah. Ketika salah satu orang tua mencoba menenangkan anak, pasangannya langsung mengambil alih dengan alasan, “Biar aku saja, kamu nggak tahu caranya”.

Sekali atau dua kali, hal tersebut belum tentu merupakan parental gatekeeping. Orang tua memang bisa saling mengoreksi, terutama jika menyangkut keselamatan atau kebutuhan khusus anak. Namun jika terjadi berulang dan terus menerus, kondisi inilah yang disebut dengan parental gatekeeping. Salah satu orang tua merasa harus selalu mengawasi. Pasangan yang diawasi kemudian merasa tidak dipercaya. Lama-kelamaan, ia memilih tidak mengambil inisiatif karena takut kembali dikritik.

Ironisnya, kondisi tersebut kemudian bisa memperkuat keyakinan orang tua pertama bahwa pasangannya memang tidak mampu mengurus anak. Padahal, kemampuan mengasuh juga terbentuk melalui pengalaman. Seseorang tidak akan menjadi terbiasa mengurus anak jika setiap kesempatan selalu diambil alih.

Parental gatekeeping juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus. Misalnya, menentukan pakaian apa yang boleh dipakai anak, makanan apa yang boleh diberikan, cara anak tidur, sampai siapa yang dianggap paling memahami kebutuhan anak. Dampaknya bisa dirasakan oleh keduanya.

Orang tua yang terus mengambil alih dapat semakin lelah karena sebagian besar tanggung jawab akhirnya kembali kepadanya. Sementara pasangan yang terus dikoreksi bisa kehilangan rasa percaya diri dan semakin menjauh dari pengasuhan. Hubungan pasangan pun dapat ikut terdampak karena pengasuhan berubah menjadi kompetisi, yakni siapa yang paling tahu, siapa yang paling benar, dan siapa yang paling berhak menentukan keputusan untuk anak.

Tujuan pengasuhan seharusnya bukan mencari orang tua yang paling sempurna, melainkan memastikan anak mendapatkan perawatan yang aman dan konsisten sekaligus memiliki hubungan yang sehat dengan kedua orang tuanya.

Bagaimana Menghentikan Pola Parental Gatekeeping?

Langkah pertama adalah membedakan antara standar pengasuhan dan kebutuhan untuk mengontrol. Tidak semua hal harus dilakukan dengan cara yang sama. Orang tua perlu menentukan mana yang memang tidak bisa dinegosiasikan, misalnya keselamatan anak, obat-obatan, aturan dasar, atau nilai penting keluarga. Untuk hal-hal lainnya, berikan ruang kepada pasangan untuk memiliki caranya sendiri.

Jika pasangan memandikan anak sedikit lebih lama tetapi anak tetap aman, tidak ada alasan untuk langsung mengambil alih. Jika cara ayah bermain dengan anak berbeda dengan cara ibu, perbedaan tersebut juga tidak otomatis berarti salah. Selanjutnya adalah, kurangi kritik yang tidak perlu dan ganti dengan komunikasi langsung.

Daripada mengatakan, “Kamu memang nggak bisa ngurus anak,” lebih baik jelaskan masalahnya secara spesifik. Misalnya, “Kalau memberikan makanan ini, dia biasanya sakit perut. Sebaiknya kita kasih yang ini.” Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi pesan yang diterima pasangan sangat berbeda. Kritik menyerang kemampuan seseorang, sedangkan komunikasi menjelaskan persoalan yang perlu diselesaikan.

Selain itu, berikan kesempatan pasangan untuk mengambil tanggung jawab secara nyata. Bukan sekadar meminta bantuan, tetapi memberikan ruang untuk menjadi orang tua. Pasangan tidak harus menunggu instruksi untuk melakukan sesuatu. Ia juga perlu memiliki kesempatan mengambil keputusan, mencoba, dan belajar dari pengalaman.

Pasangan juga perlu memiliki kesepakatan mengenai hal-hal yang fundamental. Misalnya aturan keselamatan, disiplin, pendidikan, penggunaan gawai, makanan, serta batasan yang berlaku bagi anak. Setelah kesepakatan dibuat, tidak perlu setiap tindakan pasangan diawasi.

Parental gatekeeping bukan sekadar persoalan siapa yang lebih banyak mengurus anak. Ini tentang seberapa besar ruang yang diberikan kepada masing-masing orang tua untuk menjadi orang tua, tanpa intervensi atau kritik berlebihan dari pihak lain.

Anak tidak membutuhkan dua orang tua yang melakukan semuanya dengan cara identik. Mereka membutuhkan orang tua yang dapat bekerja sama, saling percaya, dan memiliki ruang untuk membangun hubungan dengan anak dengan caranya masing-masing. (bl/sa)

Google News Lihat Berita Bacaini.id di Google News
Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: anakorang tuaparental gatekeepingparentingpola asuh
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Barang temuan di perairan Selat Sunda dipastikan bukan milik KM Arupadhatu 1

Barang Temuan di Selat Sunda Dipastikan Bukan Milik Kapal 5 Jurnalis yang Hilang

Parental gatekeeping dalam pengasuhan anak ketika salah satu orang tua terlalu mengontrol pasangan

“Biar Aku Saja” Bisa Jadi Tanda Parental Gatekeeping, Ini Dampaknya bagi Orang Tua dan Anak

Kereta api terdampak gempa M6,5 Yogyakarta dan mengalami keterlambatan menuju Madiun

Gempa M6,5 Guncang Yogyakarta, 2 KA ke Madiun Sempat Berhenti dan Terlambat

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In